» » Kuasa hukum Bapedal Bacakan kesimpulan Di dalam Sidang PN Batam

Kuasa hukum Bapedal Bacakan kesimpulan Di dalam Sidang PN Batam

Ditulis Oleh: Redaksi | Rabu, 30 Desember 2015 | No comments

Batamreport.com - Batam : Sidang lanjutan praperadilan antara Tan Bong Long, Wu Weijan dan Abi (pemohon) dengan Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Kota Batam,(termohon) kembali di gelar di Pengadilan Negeri (PN) Batam dengan agenda pembacaan kesimpulan dari masing-masing yang berperkara dalam kasus kerusakan lahan hutan manggrove tersebut.

Dalam sidang tersebut,ada yang berbeda dimana masing-masing yang berperkara diberi kesempatan oleh hakim tunggal Tiwik,untuk membacakan kesimpulannya,hanya kuasa hukum dari termohon(Bapedal) saja yang bersedia membacakan kesimpulannya,sementara dari pihak pemohon enggan membacakan hasil kesimpulannya.

Eggi Sudjana selaku kuasa hukum dari pihak Bapedal Kota Batam,dalam pembacaan kesimpulannya,menyebutkan beberapa hal.penting yang mesti ditekankan dalam.kasus tersebut,yang pada intinya yakin akan prosedur penetapan tersangka,bahkan hal itu telah tepat dilakukan oleh pihak Bapedal.

"Ini sesuai prosedur yang dilakukan oleh PPNS Bapedal Batam sudah,dan tercantum di pasal 77, 78, 79, 80, 81, 82, 83 dan 184 KUHAP,"Kata Eggi Sudjana,Selasa (30/15) saat membacakannya dihadapan majelis hakim.

Ia juga mempertanyakan,kepada pihak pemohohon,mengapa dalam sidang praperadilan ini, tidak membuat dan mengajukan replik terhadap jawaban termohon pada persidangan tanggal 23 Desember yang lalu.

"Pemohon tidak membantah atas jawaban yang diajukan oleh termohon,artinya secara tidak langsung pemohon juga membenarkan jawaban dari termohon ini " terangnya.

Bahkan Eggi mengatakan,telah terjadi adanya pelompatan hukum,dimana urutan dalam persidangan tidak dilalui oleh pemohon sendiri.

"Jika memang pemohon tidak mengajukan repliknya,itu adalah hak si pemohon,namun disini telah jelas bahwa pemohon membenarkan jawaban dari kami,sebagai pemohon" ujar Egi lagi.

Eggi juga berpendapat didalam kesimpulannya tersebut,adanya upaya dari pemohon,untuk menghambat dan menghalangi penyidikan dan pengembangan ke tersangka lainnya di dalam proses peradilan tersebut.

"Wu Weijan adalah seorang WNA yang ahli serta berpengalaman di bidang budidaya ikan,makanya dipekerjakan oleh PT Cahaya Terang Sejati,dari sini tampak jelas pemohon ingin menghambat penyidikan oleh PPNS Bapedal" ungkapnya.

Diberitakan sebelumnya,saksi ahli dari pihak termohon, yakni dr .Ir .Basuki Wasis .Msi,saat memberikan keterangannya mengatakan, kerugian yang ditimbulkan akibat pengerusakan lingkungan hutan mangrove dan pantai ini hampir Rp 60 Miliar.

"Biaya yang ditimbulkan akibat pengrusakan ini senilai Rp 59.443.440.000,"ujar saksi ahli yang sudah 350 kali menjadi saksi ahli lingkungan di seluruh Indonesia.

Dia juga menjelaskan secara detail bahwa angka tersebut didapat dari 3 aspek, yang penghitungannya mengacu pada pedoman penghitungan kerusakan lingkungan.

"Biaya kerugian lingkungan Rp 24.718.650.000 biaya kerugian ekonomi lingkungan Rp34.200.000.000 dan biaya pemulihan lingkungan Rp 524.790.000 dan totalnya itu jadi Rp 59.443.440.000,"ujarnya saat menjadi saksi ahli dalam persidangan lanjutan praperadilan kasus pengrusakan hutan manggrove antara Tan Bong Long, Wu Weijan dan Abi (pemohon) dengan Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Kota Batam,(termohon) pada Selasa (29/15) lalu.

Majelis hakim tunggal PN Batam Tiwik, setelah mendengarkan pembacaan kesimpulan dari kuasa hukum termohon,dan menerima salinan kesimpulan tersebut,akhirnya memutuskan agenda sidang akan dilanjutkan esok hari,Kamis (31/15),dengan agenda sidang putusan dari majelis hakim.

(Red/Ai).
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya