» » » Bangunan Hotel Menutupi Akses Jalan, Membuat Puluhan Orang Nyaris Bentrok

Bangunan Hotel Menutupi Akses Jalan, Membuat Puluhan Orang Nyaris Bentrok

Ditulis Oleh: Redaksi | Selasa, 03 Oktober 2017 | No comments





Batam,  BR  - Puluhan orang mendadak mendatangi hotel yang masih dalam tahap pembangunan di Jalan Sriwijaya, Pelita pada Selasa (3/10) pagi. Alasan warga menggeruduk lokasi hotel terssbut karena akses jalan yang biasa dilalui warga tertutup bangunan hotel. 

Pantauan di lokasi puluhan orang mendatangi depan hotel sambil membawa potongan besi dan kawat, tujuannya untuk memasang pagar di lokasi jalan yang biasa dilalui warga. Setelah memasang beberapa pancang besi, aktifitas tersebut terpaksa dihentikan karena dilarang petugas kepolisian.

Menurut salah seorang warga yang melakukan aksi, puluhan orang tersebut memberanikan diri memasang pancang karena tidak ada solusi atau titik temu masalah jalan yang telah dibangun bangunan hotel. "Kami mau lewat mana sekarang, akses jalan kami ke belakang sudah ditutup," kata salah seorang pria yang mengenakan jaket hitam.

Sementara menurut Anggelius yang merupakan salah seorang pemilik lahan dibelakang bangunan hotel tersebut, ia mengatakan, lahan dibalakang hotel yang akan dibangun merupakan milik PT Puri Agung. Akses jalan seluas 12 meter tersebut sudah ada sejak puluhan tahun lalu, sejak awal pembangunan sudah sempat pihaknya meminta agar pemilik hotel melakukan pertemuan untuk mencari solusi akses jalan. "Tetapi setelah beberapa kali melakukan pertemuan, tidak ada solusinya," ujarnya.

Anggelinus menambahkan, aksi yang dilakukan itu merupakan spontanitas karena beberapa waktu lalu pembangunan hotel telah dihentikan, tetapi pekerjaan dilakukan  kembali tanpa memberikan solusi akses jalan. "Jika pemilik hotel memberikan akses jalan, mungkin tidak ada terjadi kejadian ini," katanya.

Selain itu, Anggelinus juga bersedia menjual lahannya jika pemilik hotel mau membelinya dengan harga yang pantas. Dengan cara seperti menutup akses jalan, itu sangat disayangkan karena menyulitkan banyak orang. "Kita ingin dari awal permasalahan ini di dudukan untuk mencari solusi, karena masalah ini sudah berlangsung lama," ujarnya.

‎Sementara kuasa kukum PT Puri Agung, Hendie Devitra, meminta BP Batam, Pemko Batam dan BPN untuk segera berkoordinasi agar pemilik PL yang tidak memiliki akses ke lokasi lahan masing-masing mendapat kepastian hukum. Berdasarkan hasil pengkuran lahan oleh BP Batam, terdapat row jalan 12 meter sebagai akses ke lahan PL PT Puri Agung.

Sebelumnya, pada tanggal 30 Agustus 2017,Ditpam BP Batam telah menghentikan pembangunan hotel tersebut karena adanya  pelanggaran kesepakatan bersama pada forum rapat tanggal 24 Agustus lalu di BP Batam. Karena, berdasarkan Berita Acara No. BA-01/A2.2/8/2017, salah satu point kesepakatan adalah saudara Anwar harus menghentikan pekerjaan di lapangan sampai dengan penyelesaian permasalahan row jalan. "Pendirian bangunan oleh Anwar yang memakan row jalan tersebut berakibat hilangnya akses jalan menuju lahan klien kami. Selain hilangnya akses jalan masuk, ternyata tanah klien kami menurut PL No. BtA.PL/500/84 tgl. 12/11/1984 seluas 2.502 meter persegi juga telah diserobot oleh saudara Anwar yg bersempadan di sebelah utara sepanjang 3 x 27 meter," katanya.‎

‎Hendie juga mempertanyakan dasar penerbitan IMB atas nama Anwar yg dikeluarkan oleh Pemko Batam No. Kpts 375/IMB/BPMPTSP-BTM/VI/2016 tanggal 24 Juni 2016 dan SHGB No. 00545 tanggal 17 November 2015 yg dikeluarkan oleh Kantor Pertanahan Kota Batam. "Titik koordinat Sertifikat HGB an. Anwar tsb yg menjadi dasar terbitnya IMB tdk sesuai dg titik koordinat PLnya No. 214.84030393.001 yg dialokasikan BP Batam." ujarnya.

Untuk itu, Hendie meminta agar kepada pihak terkait untuk segera berkoordinasi menyelesaikan permasalahan ini. Hendie mengaku akan mengambil langkah hukum bila permasalahan ini tidak dapat selesai secara lintas instansi. "Tidak menutup kemungkinan kami akan melakukan upaya hukum baik secara perdata, pidana dan tata uaha negara," katanya.

Dilokasi pembangunan terlihat pekerja tetap melakukan pekerjaannya dan didepan hotel juga terpasang plang izin mendirikan bangunan (IMB) Gedung dengan nomor KPTS. 375/BMPTSP-BTM/ VI / 2016  yang diterbitkan tanggal 24 Juni 2016 atas nama pemilik Anwar.

Kapolsek Lubuk Baja Kompol Muhammad Chaidir di lokasi, ia mengatakan, setelah melakukan pertemuan dengan warga yang mau memasang plang tersebut dan melakukan pendekatan, akhirnya plang yang akan dipasang gagal dipasang. "Dua hari lagi kedua belah pihak akan kita panggil ke Polsek, untuk mencari solusi masalah ini," ujarnya.

Chaidir berharap, permasalahan ini bisa diselesaikan dengan baik dan apa keputusan masalah ini, menunggu kedua belah pihak bertemu dan mencari jalan tengahnya. "Kita hanya memfasilitasi pertemuan mereka, apa keputusannya nanti setelah pertemuan nanti hasilnya seperti apa," katanya.


(Red/Aidil).
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya