» » » » » » Menkeu Sri Mulyani : Indonesia Terindikasi Jadi Daerah Rawan Pengedaraan Narkoba Jenis Sabu

Menkeu Sri Mulyani : Indonesia Terindikasi Jadi Daerah Rawan Pengedaraan Narkoba Jenis Sabu

Ditulis Oleh: Redaksi | Sabtu, 24 Februari 2018 | No comments


Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani. 






Batam, BR - Mentri Keuangan Indonesia Sri Mulyani mengatakan, melihat begitu besarnya hasil tangkapan penyelundupan narkoba jenis sabu ini, mengindikasikan bahwa Indonesia menjadi daerah yang rawan dalam pengedaran zat-zat berbahaya seperti methametamin. Jumat (23/2). 

"Untuk diketahui, Bea dan Cukai Indonesia telah menangani 342 kasus penyelundupan narkoba seberat 2,1 ton sepanjang 2017 genap 12 bulan. Namun kali ini, di 2018 yang belum genap 2 bulan, dalam penanganan 57 kasus penyelundupan narkoba, telah diamankan 2,932 ton barang bukti. Hal ini menggambarkan Indonesia kebanjiran serangan narkoba yang jumlahnya terus meningkat setiap hari, minggu dan bulan," ungkapnya.

Sri menambahkan, dirinya berterima kasih kepada Kapolri beserta jajaran dan Tim Merah putihnya, Panglima TNI AL dengan dengan pasukan perairannya, Kejaksaan Tinggi serta unsur masyarakat atas kerjasama dalam mengungkap peredaran narkoba ini.

"Dengan kejadian ini kami akan meningkatkan kinerja serta kewaspadaan, dan Batam menjadi daerah yang cukup rawan dalam kasus penyelundupan barang-barang berbahaya masuk ke dalam Indonesia," tambahnya.

Lanjut Sri, untuk itu Bea Cukai dengan tim patrolinya yang terintegrasi dengan instansi lainnya terus berupaya mengamankan perairan Batam, Indonesia khususnya. Hal tersebut juga dilakukan di darat dengan meletakkan anggota di seluruh bandara yang ada di Indonesia.

"Kerjasama dengan pihak Kepolisian, TNI AL, BNN dan masyarakat luas menjadi sangat penting, karena jika berbicara mengenai apakah ini menjadi penyelundupan terakhir? Tentu tidak. Karena berdasarkan harga (narkoba) dengan pengguna terus meningkat. Apalagi Indonesia dengan negara yang perekonomiannya yang semakin tumbuh dibarengi kelas menengah yang meningkat, menimbulkan pemikiran tentang sebuah target pasar yang luar biasa besar," kata Sri.

Ia juga mengatakan, dengan 250 juta jiwa rakyat Indonesia dengan income perkapita yang tumbuh  termasuk yang terbesar di dunia, menjadikan Indonesia sebagai pasar yang tepat menjajakan dagangan termasuk narkoba. Oleh karena itu Sri menganggap jika unsur Pemerintah tak meningkatkan kewasapadaan dan kekompakkan dalam beroperasi, maka peredaran narkoba akan terus terjadi. Ia juga mengatakan terus memperbaiki sistem integrasi yang disebut rest profiling. Karena Polri tak hanya mengurusi penyelundupan narkoba saja, Bea Cukai, TNI dan Pemerintahan juga sama.

"Teknologi juga sangat membantu, untuk itu kami akan memperbaiki alat penunjang untuk dapat memantau wilayah Indonesia yang memiliki wilayah perairan yang luasnya cukup luas. Kerjasama dengan pihak luar negeri juga menjadi sangat penting, untuk itu informasi yang dihimpun dari negeri tetangga juga turut membantu memeriksa pergerakan kapal-kapal yang dicurigai membawa barang berbahaya," tambahnya.
Ha ini dikatakan Menteri Keuangan RI ( Menkeu) Sri Mulyani saat menggelar konfrensi pers bersama Kapolri Jenderal Pol. Tito Karnavian di lokasi standarnya kapal pembawa sabu 1,6 ton asal Taiwan.

Ia mengatakan, dengan melihat begitu besarnya hasil tangkapan penyelundupan narkoba jenis sabu di Indonesia saat ini, terindikasi menjadi tempat yang rawan dalam peredaan narkoba tersebut.

Menkeu gelar konfrensi pers dengan Kapolri. 


" Perlu diketahui, bahw Bea Cukai Indonesia, telah menangani 342 kasus penyelundupan narkoba seberat 2,1 ton sepanjang 2017 genap 12 bulan. Dan di 2018 yang belum genap 2 bulan, seta dalam penanganan 57 kasus penyelundupan narkoba, telah diamankan 2,932 ton barang bukti. Ini menggambarkan Indonesia kebanjiran serangan narkoba yang jumlahnya terus meningkat setiap hari, minggu ke minggu dan bulan ke bulan " kata Sri.

Ditambahkan nya, ia sangat berterima kasih kepada Kapolri beserta jajaran dan Tim Merah putihnya, Panglima TNI AL dengan dengan pasukan perairannya, Kejaksaan Tinggi serta unsur masyarakat atas kerjasama dalam mengungkap peredaran narkoba ini.

81 karung (1,6 Ton)  sabu yang berhasil diamankan Tim Satgassus Polri dan Bea Cukai. 


" Dengan kejadian ini,  kami akan meningkatkan kinerja serta kewaspadaan, dan Batam telah menjadi daerah yang cukup rawan, dalam kasus penyelundupan barang-barang berbahaya yang masuk ke dalam Indonesia," ujarnya.

Untuk itu Bea Cukai dengan tim patrolinya yang terintegrasi, dengan instansi lainnya terus berupaya mengamankan perairan Batam, Indonesia khususnya. Bukan itu saja, hal ini juga dilakukan di darat dengan meletakkan anggota di seluruh bandara yang ada di Indonesia.

" Kerjasama dengan pihak Kepolisian, TNI AL, BNN dan masyarakat luas menjadi sangat penting, karena jika berbicara mengenai apakah ini, menjadi penyelundupan terakhir? Tentu tidak. Karena berdasarkan harga (narkoba) dengan pengguna terus meningkat. Apalagi Indonesia dengan negara yang perekonomiannya, yang semakin tumbuh dibarengi kelas menengah yang meningkat, menimbulkan pemikiran tentang sebuah target pasar yang luar biasa besar," tutur nya.

Menkeu RI dan Kapolri beri ucapan selamat kepada Tim Satgassus Polri dan Bea Cukai. 


Ia juga mengatakan, dengan 250 juta jiwa rakyat Indonesia dengan income perkapita yang tumbuh  termasuk yang terbesar di dunia, menjadikan Indonesia sebagai pasar yang tepat menjajakan dagangan termasuk narkoba.

Oleh karena itu ia menganggap, jika unsur Pemerintah tak meningkatkan kewasapadaan dan kekompakkan dalam beroperasi, maka peredaran narkoba akan terus terjadi.

Ia juga mengatkan, terus memperbaiki sistem integrasi yang disebut rest profiling. Karena Polri tak hanya mengurusi penyelundupan narkoba saja, Bea Cukai, BNN, TNI dan Pemerintahan juga sama.

4 tersangka WNA Taiwan yang membawa sabu1,6 Ton. 


"Teknologi juga sangat membantu, untuk itu kami akan memperbaiki alat penunjang untuk dapat memantau wilayah Indonesia yang memiliki wilayah perairan yang luasnya cukup luas., " terangnya.

Sri Mulyani juga menegaskan, Kerjasama dengan pihak luar negeri juga menjadi sangat penting, untuk itu informasi yang dihimpun dari negeri tetangga juga turut membantu memeriksa pergerakan kapal-kapal yang dicurigai membawa barang berbahaya.

Satu dari 4 tersangka pembawa sabu 1,6 ton asal Taiwan. 



(Red/Aidil). 
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya