» » » » Andreas Sie : Itu Akta 89 Bukan Jual Beli Saham Kepada Conti Chandra.

Andreas Sie : Itu Akta 89 Bukan Jual Beli Saham Kepada Conti Chandra.

Ditulis Oleh: Redaksi | Rabu, 23 Mei 2018 | No comments






Batam, BR - Sidang terdakwa Tjipta Fudjiarta di Pengadilan Negeri (PN) Batam semakin menarik untuk terus di ikuti, dimana sidang pidana kasus perkara penipuan, penggelapan dan pemalsuan surat di BCC Hotel itu menghadirkan saksi - saksi dari para pemegang saham sebelumnya, dan dari keterangan para saksi itu, membuat posisi Conti Chandra dalam perkara tersebut semakin tak menentu. Senin (21/5). 

Sidang terdakwa Tjipta Fudjiarta, yang digelar di PN Batam saat ini, masih dengan agenda yang sama pada sidang Senin lalu (15/5), yakni masih mendengarkan keterangan saksi dari para pemegang saham lama, yang mana pada sidang yang lalu Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan saksi Wimeng, Hasan dan Sutriswi, dan kali ini satu orang lagi pemegang saham lama BCC Hotel (PT BMS) Andreas Sie.

Dan juga Mariani (Ipar Conti Chandra) juga dihadirkan dalam persidangan yang diketuai oleh Tumpal Sagala SH, dengan didampingi dua hakim anggotanya ,Taufik SH dan Yona Lamerosa Ketaren SH.

Andreas Sie yang pertama kali diminta oleh JPU untuk memberikan keterangan nya kepada hakim, dimana saksi merupakan salah satu mantan pemegang saham PT Bangun Megah Semesta (BMS) yang mengelola BCC Hotel.

Kepada Majelis Hakim Andreas Sie menjelaskan, bahwa dirinya merupakan salah satu pemilik 28 lembar saham atau sebanyak 10 persen saham di PT BMS, bersama dengan pemegang saham lama lainnya seperti Wie Meng, Sutriswi, Hasan dan Conti Chandra sendiri yang saat ini masih mendekam di Rutan Barelang, dalam perkara kasus penipuan dalam jabatan.

Saksi Andreas menerangkan, dalam pembangunan gedung BCC Hotel itu, dananya berasal dari modal masing-masing pemegang saham, serta pinjaman dari Bank Panin sebanyak Rp 70 miliar, dan dari uang hasil penjualan apartemen.

" Saat itu perusahaan kesulitan keuangan untuk membayar utang dan biaya pembangunan, serta ada masalah dengan sesama pemegang saham. Maka diputuskan kami keluar dan menyerahkan kepada Conti Chandra untuk mencari pendamping," kata Andreas Sie kepada Hakim dan JPU serta kedua Pengacara terdakwa Tjipta Fudjiarta didalam sidang.

Ia juga mengakui telah menandatangani akta nomor 89.

" Itu akta 89 bukan jual beli saham kepada Conti, tapi kami akan melepas saham apabila Conti sudah mendapatkan pendamping," terang saksi.

Bahkan saksi Andreas Sie ini, juga pernah menggugat Conti Chandra untuk membatalkan akta 89 tersebut.

" Saya mau semua jaminan utang saya di Bank Panin diselesaikan dahulu. Dan waktu dibuat akta nomor 89, pembayaran saham dan jaminan saya di bank belum ditarik, tapi masalanya sudah selesai, saya mencabut gugatan itu dengan jalan perdamaian saja," ujar Andreas.

Dan ia juga mengaku, telah menerima uang pembayaran harga saham miliknya, sebesar Rp 88 juta dan 145 ribu Dolar Singapura.

" Wimeng kasih saya chek sesuai dengan modal yang saya keluarkan, ya... chek itu saya ambil dan terima " kata Andreas lagi.

Setelah menerima pembayaran dari Wie Meng, Andreas Sie kemudian menandatangani jual beli sahamnya dengan Conti Chandra.

Andreas juga tidak tahu, selanjutnya saham tersebut dijual kepada siapa oleh Conti Chandra, saat ditanya hakim kepada dirinya.

" Yang terpenting saham saya sudah dibayar lunas sesuai modalnya kembali. Saya sudah tidak tahu lagi soal PT BMS," terang  Andreas lagi.

Bahkan atas pertanyaan penasihat hukum terdakwa, mengenai Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), tanggal 2 Desember 2011, Andreas juga mengaku menerima undangan dari Conti Chandra, tetapi undangan itu tak dihadirinya.

Demikian juga mengenai RUPS tanggal 17 November 2011, untuk penjualan saham kepada terdakwa, Andreas juga menerima undangan dari Conti Chandra, tapi juga tak didatanginya, karena sedang mengajukan gugatan di Pengadilan Negeri Batam untuk membatalkan akta nomor 89.

Andreas juga ada menerima surat teguran dari Conti Chandra, karena tidak datang pada RUPS tersebut. Andreas yang pernah menjabat sebagai direktur dengan dirutnya saat itu Conti Chandra, serta pernah juga  menjual beberapa unit apartemen di BCC Hotel, dimana uang penjualan apartemen itu untuk biaya pembangunan hotel tersebut.

Setelah merasa cukup dalam memberikan keterangannya, Andreas Sie pun diminta untuk meninggalkan ruang sidang oleh majelis hakim.



Selanjutnya saksi kedua yakni Mariani ( Mantan Accounting) di BCC Hotel yang dimintai keterangannya di dalam sidang.
Ia menjelaskan bahwa masih ada hubungan persaudaraan dengan Conti Chandra dan terdakwa.

" Istrinya Conti adik saya , dengan istri terdakwa itu sepupu," ujar Mariani.

Mariani juga mengaku pernah dipanggil Conti Chandra pada bulan November 2011 di lantai P4 Hotel BCC. Di sana Conti Chandra mengatakan sudah deal dengan terdakwa Tjipta Rp 120 miliar jual gedung BCC.

" Saat ditanya ke terdakwa, terdakwa diam saja," terang Mariani.

Selanjutnya Mariani mengaku sebagai accounting yang memeriksa keuangan Conti Chandra menjelaskan bahwa dirinya pernah disuruh Conti mengecek uang masuk ke rekening Conti.

" Uang Rp 27 miliar untuk pembayaran saham dan uang hasil penjualan sebelas unit apartemen sebesar Rp 14 miliar. Uang itu yang digunakan Conti untuk membayar saham pemilik saham lama dan membayar utang suplier lebih kurang Rp 33 miliar," kata Mariani.

Saat ditanya hakim apakah masih ada lagi uang yang lain, yang masuk ke rekening Conti, Mariani mengatakan tidak ada, hanya itu saja.

Berbeda saat Hendi Devitra dan Sabri Hamri, penasihat hukum terdakwa Tjipta mencecar Mariani mengenai uang pembayaran 15 persen saham yang juga diterima Conti Chandra, Mariani mengakui dan pernah mengecek rekapitulasinya.

" Ya ada juga uang dari terdakwa yang saya hitung Rp 7 miliar ke rekening Conti dan benar saya ada menuliskan lunas," terang Mariani.

Demikian juga saat ditanya penasihat hukum terdakwa, apakah Mariani tahu uang yang dikirim kepada Wie Meng Rp 27 miliar untuk bayar saham itu dikembalikan ke Conti Rp 21 miliar, Mariani membenarkan.

" Ada Rp 21 miliar dikembalikan Wie Meng kepada Conti. Itu yang digunakan Conti untuk membayar utang suplier. Supliernya Wie Meng sendiri," ujar Mariani.

Di akhir persidangan, Mariani sempat meluapkan emosinya karena diberhentikan terdakwa dari kerjaannya.

" Terdakwa tidak ada wewenang memberhentikan saya," ujar Mariani yang langsung disambut tepuk tangan istrinya Conti di dalam sidang.

Tahu istrinya Conti yang duduk di meja persidangan ikut tepuk tangan, Ketua Majelis Hakim, Tumpal Sagala menegurnya.

Sidang dilanjutkan tgl 28 mendatang.
Atas keterangan saksi, terdakwa menyampaikan keberatan ada yang benar dan banyak yang tak benar juga.

" Tidak ada pertemuan di lantai 4, itu tidak benar," pungkas terdakwa.




(Red/Aidil). 
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya