» » » » Anly Cenggana dan Syaifuddin di Tolak Hakim, Karena Tidak Bawa Surat Izin Dari MKN

Anly Cenggana dan Syaifuddin di Tolak Hakim, Karena Tidak Bawa Surat Izin Dari MKN

Ditulis Oleh: Redaksi | Selasa, 29 Mei 2018 | No comments







Batam, BR -  Sidang Tjipta Fudjiarta, terdakwa dalam perkara penipuan, penggelapan dan pemalsuan surat - surat di PT. Bangun Megah Semesta (BMS) pengelola BCC Hotel, yang seyogyanya akan disidangkan pada Senin (28/5) di Pengadilan Negeri Batam, kini ditunda hanya karena 2 saksi notaris yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum, tidak membawa rekomendasi atau surat izin dari Majelis Kehormatan Notaris (MKN).

" Sidang kita tunda, karena saksi notaris yang akan memberikan keterangan di persidangan ini tidak bisa menunjukkan surat resmi dari MKN, dan sesuai aturan saksi notaris harus dapat atau membawa surat izin original/aslinya dari MKN tersebut untuk memberikan keterangan di dalam persidangan, " kata Tumpal Sagala SH selaku ketua Majelis Hakim yang didampingi oleh Taufik SH dan Yona Lamerosa Ketaren. Senin (28/5).

Dua notaris yang akan memberikan keterangan pada sidang terdakwa Tjipta Fudjiarta tersebut, adalah Anly Cenggana SH dan Syaifuddin SH.

Sementara itu, Kepala Seksi Perdata dan Usaha Negara (Kasi Datun) Kejari Batam, Hendar SH, yang juga merupakan salah satu Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam sidang perkara di PT BMS tersebut, menegaskan bahwa pihaknya sudah menghadirkan saksi dua orang yang berprofesi sebagai notaris di persidangan.

Namun karena dua saksi ini tidak diperkenankan bersaksi, karena tak membawa surat izin resmi tertulis dari MKN secara originalnya atau keasliannya.

" Surat izin resmi dari MKN itu wajib dibawa dan ditunjukkan ke Majelis Hakim di persidangan. Surat izin dari MKN itu sudah ada, hanya saja fisiknya atau aslinya yang tak dibawa, hanya difoto via Whatsapp saja. Makanya oleh majelis hakim persidangan dianggap dua saksi ini tak sah dihadirkan dipersidangan, sebelum menunjukkan surat izin resmi fisiknya yang dikeluarkan oleh MKN," kata Hendar.

Sementara itu, Hendie Devitra SH yang didampingi oleh Sabri Hamri SH, selaku PH terdakwa Tjipta Fudjiarta, usai sidang mengatakan bahwa sesuai aturannya dan menurut Undang-Undang Notaris, seorang notaris dalam memberikan keterangan sebagai saksi di persidangan, wajib mendapatkan ijin dari Majelis Kehormatan Notaris.

" Sidang ditunda minggu depan dengan agenda pemeriksaan saksi yang sama dengan hari ini, dimana saksi hari ini  belum dapat memberikan keterangannya,  karena belum memenuhi syarat formil yaitu surat ijin dari MKN, yang belum dapat ditunjukkan di persidangan," tutup Hendie.

Sebelumnya, dalam sidang pada 15 Mei 2018 yang lalu, Majelis Hakim PN Batam, yang diketuai oleh Tumpal Sagala SH, dalam perkara Tjipta Fudjiarta tersebut, telah mendengarkan keterangan dari beberapa saksi yang merupakan saksi pemegang saham lama di PT BMS tersebut,  seperti Wimeng, Hasan dan Sutriswi.

Dan di dalam persidangan tersebut, ketiga saksi yakni Wimeng, Hasan dan Sutriswi menerangkan kepada Majelis Hakim PN Batam, yang diketuai Tumpal Sagala SH, bersama dua hakim anggotanya, Yona Lamerosa Ketaren SH dan Taufik SH, tentang pokok persoalan yang terjadi antara Conti Chandra dan Tjipta Fudjiarta.

Dimana Wimeng yang dihadirkan JPU untuk saksi pertama, menjelaskan kepada majelis hakim bahwa ia sebagai pemilik 30 % saham atau 84 lembar saham di PT. Bangun Megah Semesta (BMS).

" Akibat adanya krisis keuangan perusahaan, maka saya waktu itu sebagai komisaris PT. BMS, dengan para pemegang saham lainnya, sepakat untuk mundur dari perusahaan dan akan melepaskan saham miliknya, setelah Conti Chandra mendapatkan pendamping." kata Wie Meng dihadapan majelis hakim. Selasa (15/5).


Saat penasehat hukum terdakwa (Tjipta Fudjiarta) Hendie Devitra SH yang didampingi Sabri Hamri SH, menunjukkan surat tertanggal 22 Juli 2011 didepan majelis hakim, saksi Wimeng membenarkan adanya surat tersebut.

" Awalnya dibuat RUPS Akta No. 10 Tanggal 7 Juli 2011, kemudian dibatalkan dengan akta RUPS No. 70 tanggal 19 Juli 2011, karena Conti belum siap dan belum mendapatkan investor. Kemudian diadakan lagi rapat Tanggal 22 Juli 2011, dimana keputusan para pemegang saham waktu itu saksi Conti yang keluar dari perusahaan karena tidak didukung lagi, " terang Wimeng.

Dilanjutkan Wimeng, namun berselang 5 hari kemudian, Conti Chandra kembali menyatakan akan mengambil alih lagi saham-saham tersebut dan dibuatlah akta No. 89 tanggal 27 Juli 2011.

" Akta No. 89 itu bukan akta jual beli saham kepada Conti, tetapi saya dan pemegang saham lainnya, sepakat akan melepaskan saham kami, apabila Conti sudah mendapatkan pendamping dan waktu dibuatnya akta 89 itu belum ada pembayaran". tambah Wie Meng.


Selanjutnya saksi Wimeng menjelaskan kepada majelis hakim, bahwa saksi dan para pemegang saham lainnya, sepakat hanya meminta modal yang dikeluarkan saja dikembalikan, maka saksi dengan saksi Conti Chandra pada tanggal 25 juli 2011 itu, membuat perincian harga yang akan ditawarkan kepada calon investor, ataupun apabila Conti Chandra yang akan mengambilnya.

" Benar angka 27,5 M itu dibuat oleh saya (saksi) dengan Conti chandra, dimana dari 27,5 M itu digunakan untuk pembayaran saham sebesar Rp 6.5 M, dan sisanya Rp. 21 M dikembalikan kepada perusahaan, untuk pembayaran hutang suplier dan pinjaman dari owner lama dan lainnya, " ujar Wimeng.

Selanjutnya, setelah dibuat perincian harga dan akta 89 itu, barulah kemudian saksi Conti mentransfer uang kepada saksi secara bertahap, dan saksi Wimeng yang mengatur pembagian kepada pemegang saham lainnya.

Setelah pembayaran lunas, saksi Wimeng bersama dengan pemegang saham lainnya,  atas undangan saksi Conti Chandra yang waktu itu sebagai Dirut PT. BMS mengundang dan memimpin rapat, dengan kesepakatan membatalkan akta no. 89 di notaris Anly Cenggana.

" Supaya tidak terjadi jual dua kali pak hakim, karena Conti meminta saya dan pemegang saham lainnya, untuk menandatangangi jual beli sahamnya kepada terdakwa, " terang Wie Meng lagi.

Dan saksi Wimeng pun menandatangani akta jual beli saham No. 4 Tanggal 2 Desember 2011 kepada terdakwa atas perintah saksi Conti,

" Saya kan menerima pembayaran uangnya dari Conti, ya dia bilang teken ajb ke terdakwa saya teken aja, yang penting harga saham saya sudah dibayar lunas". aku Wimeng.

Saksi Wimeng juga mengakui, dari uang 27,5 M itu, saksi dan pemegang saham lainnya, hanya menerima 6,5 M karena memang hanya itu modal yang kami keluarkan.

Terkait pertanyaan PH terdakwa Tjipta Fudjiarta, mengenai apakah ada RUPS persetujuan penjualan saham, kepada  terdakwa sebelum ditandatanganinya ajb, saksi Wimeng pun juga menjelaskan bahwa ada RUPS yang dipimpin oleh Conti Chandra selaku Direktur Utama PT. BMS,  dalam akta No. 2 dan pada hari yang sama,  saksi juga menandatangani ajb kepada terdakwa, hadir waktu itu Conti, saksi Hasan dan ia sendiri (Wimeng).

Ada yang menarik juga dalam persidangan kali itu, saat PH terdakwa menanyakan kepada saksi Wimeng, apakah pernah bertemu sebelumnya dengan terdakwa, saksi mengatakan pernah bertemu di ferry dlm perjalanan ke Singapura pada pertengahan tahun 2011 lalu, sebelum penandatanganan ajb, dan saat ditanyakan lagi, apa yang dibicarakan saat bertemu terdakwa tersebut, apakah ada pembicaraan mengenai Hotel BCC, Saksi mengatakan tidak ada. Namun setelah skor sidang dan akan ditutup atas keberatan terdakwa, mengenai pertemuan di ferry itu saksi Wie Meng merubah keterangannya.

" Saya lupa apa yang dibicarakan dengan terdakwa dan itu setelah ajb ". Kata Wie Meng dengan wajah semu.

Padahal sebelumnya, saksi Wimeng  mengatakan pertemuan dengan terdakwa di ferry itu, sebelum penandatangan ajb dan menurut terdakwa pembicaraan waktu itu mengenai Hotel BCC.

Tidak berbeda dengan keterangan saksi Wie Meng, saksi Hasan juga menerangkan hal yang sama mengenai akta no 89 itu.

"Maksud akta 89 itu, saya serahkan saham saya kepada dia (Conti) dan mau dia yang beli atau orang lain, itu urusan dia yang penting modal saya kembali." terang Hasan.

Saksi Hasan menjelaskan, setelah menerima uang pembayaran dari saksi Wie Meng. Setelah lunas saksi tandatangani ajb no. 3 kepada terdakwa, karena sepakat RUPS dalam akta no. 2 menjual saham saksi kepada terdakwa.

Saksi Hasan yang merupakan kerabat Conti (ipar) serta saksi Sutriswi yang juga anak  saksi Hasan, membenarkan hanya mengikuti perintah orang tuanya (saksi Hasan).

" Saya disuruh tandatangani ajb No. 5 kepada terdakwa, begitu juga Sutriswi yang juga saya suruh untuk tandatangani ajb tersebut, " kata Hasan.

Sedangkan Andreas Sie dalam sidang selanjutnya (21/5) lalu, menjelaskan kepada hakim, bahwa dirinya merupakan salah satu pemilik 28 lembar saham atau sebanyak 10 persen saham di PT BMS, bersama dengan pemegang saham lama lainnya seperti Wie Meng, Sutriswi, Hasan dan Conti Chandra sendiri yang saat ini masih mendekam di Rutan Barelang, dalam perkara kasus penipuan dalam jabatan.


Saksi Andreas menerangkan, dalam pembangunan gedung BCC Hotel itu, dananya berasal dari modal masing-masing pemegang saham, serta pinjaman dari Bank Panin sebanyak Rp 70 miliar, dan dari uang hasil penjualan apartemen.

" Saat itu perusahaan kesulitan keuangan untuk membayar utang dan biaya pembangunan, serta ada masalah dengan sesama pemegang saham. Maka diputuskan kami keluar dan menyerahkan kepada Conti Chandra untuk mencari pendamping," kata Andreas Sie kepada Hakim dan JPU serta kedua Pengacara terdakwa Tjipta Fudjiarta didalam sidang.

Ia juga mengakui telah menandatangani akta nomor 89.

" Itu akta 89 bukan jual beli saham kepada Conti, tapi kami akan melepas saham apabila Conti sudah mendapatkan pendamping," terang saksi.

Bahkan saksi Andreas Sie ini, juga pernah menggugat Conti Chandra untuk membatalkan akta 89 tersebut.

" Saya mau semua jaminan utang saya di Bank Panin diselesaikan dahulu. Dan waktu dibuat akta nomor 89, pembayaran saham dan jaminan saya di bank belum ditarik, tapi masalanya sudah selesai, saya mencabut gugatan itu dengan jalan perdamaian saja," ujar Andreas.

Dan ia juga mengaku, telah menerima uang pembayaran harga saham miliknya, sebesar Rp 88 juta dan 145 ribu Dolar Singapura.

" Wimeng kasih saya chek sesuai dengan modal yang saya keluarkan, ya... chek itu saya ambil dan terima " kata Andreas lagi.

Setelah menerima pembayaran dari Wie Meng, Andreas Sie kemudian menandatangani jual beli sahamnya dengan Conti Chandra.

Andreas juga tidak tahu, selanjutnya saham tersebut dijual kepada siapa oleh Conti Chandra, saat ditanya hakim kepada dirinya.

" Yang terpenting saham saya sudah dibayar lunas sesuai modalnya kembali. Saya sudah tidak tahu lagi soal PT BMS," terang  Andreas lagi.

Bahkan atas pertanyaan penasihat hukum terdakwa, mengenai Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), tanggal 2 Desember 2011, Andreas juga mengaku menerima undangan dari Conti Chandra, tetapi undangan itu tak dihadirinya.

Demikian juga mengenai RUPS tanggal 17 November 2011, untuk penjualan saham kepada terdakwa, Andreas juga menerima undangan dari Conti Chandra, tapi juga tak didatanginya, karena sedang mengajukan gugatan di Pengadilan Negeri Batam untuk membatalkan akta nomor 89.

Andreas juga ada menerima surat teguran dari Conti Chandra, karena tidak datang pada RUPS tersebut. Andreas yang pernah menjabat sebagai direktur dengan dirutnya saat itu Conti Chandra, serta pernah juga  menjual beberapa unit apartemen di BCC Hotel, dimana uang penjualan apartemen itu untuk biaya pembangunan hotel tersebut.

" Itu akta 89 bukan jual beli saham kepada Conti, tapi kami akan melepas saham apabila Conti sudah mendapatkan pendamping," terang saksi.

Bahkan saksi Andreas Sie ini, juga pernah menggugat Conti Chandra untuk membatalkan akta 89 tersebut.

" Saya mau semua jaminan utang saya di Bank Panin diselesaikan dahulu. Dan waktu dibuat akta nomor 89, pembayaran saham dan jaminan saya di bank belum ditarik, tapi masalanya sudah selesai, saya mencabut gugatan itu dengan jalan perdamaian saja," ujar Andreas.

Dan ia juga mengaku, telah menerima uang pembayaran harga saham miliknya, sebesar Rp 88 juta dan 145 ribu Dolar Singapura.

" Wimeng kasih saya chek sesuai dengan modal yang saya keluarkan, ya... chek itu saya ambil dan terima " kata Andreas lagi.

Setelah menerima pembayaran dari Wie Meng, Andreas Sie kemudian menandatangani jual beli sahamnya dengan Conti Chandra.

Andreas juga tidak tahu, selanjutnya saham tersebut dijual kepada siapa oleh Conti Chandra, saat ditanya hakim kepada dirinya.

" Yang terpenting saham saya sudah dibayar lunas sesuai modalnya kembali. Saya sudah tidak tahu lagi soal PT BMS," terang  Andreas lagi.

Bahkan atas pertanyaan penasihat hukum terdakwa, mengenai Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), tanggal 2 Desember 2011, Andreas juga mengaku menerima undangan dari Conti Chandra, tetapi undangan itu tak dihadirinya.

Demikian juga mengenai RUPS tanggal 17 November 2011, untuk penjualan saham kepada terdakwa, Andreas juga menerima undangan dari Conti Chandra, tapi juga tak didatanginya, karena sedang mengajukan gugatan di Pengadilan Negeri Batam untuk membatalkan akta nomor 89.

Andreas juga ada menerima surat teguran dari Conti Chandra, karena tidak datang pada RUPS tersebut. Andreas yang pernah menjabat sebagai direktur dengan dirutnya saat itu Conti Chandra, serta pernah juga  menjual beberapa unit apartemen di BCC Hotel, dimana uang penjualan apartemen itu untuk biaya pembangunan hotel tersebut.



(Red/Aidil). 

Baca Juga Artikel Terkait Lainnya