» » » » Keterangan Tiga Saksi Sudutkan Conti Chandra

Keterangan Tiga Saksi Sudutkan Conti Chandra

Ditulis Oleh: Redaksi | Rabu, 16 Mei 2018 | No comments







Batam, BR - Sidang terdakwa Tjipta Fudjiarta, dalam kasus penipuan, penggelapan dan pemalsuan surat - surat di BCC Hotel memasuki babak baru, dimana ketiga saksi yang dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU), yakni Wimeng, Hasan dan Sutriswi memberatkan posisi Conti Chandra. 

Dalam persidangan diruang utama Pengadilan Negeri (PN) Batam, ketiga saksi yakni Wimeng, Hasan dan Sutriswi menerangkan kepada Majelis Hakim PN Batam, yang diketuai Tumpal Sagala SH, bersama dua hakim anggotanya, Yona Lamerosa Ketaren SH dan Taufik SH, tentang pokok persoalan yang terjadi antara Conti Chandra dan Tjipta Fudjiarta.

Dimana Wimeng yang dihadirkan JPU untuk saksi pertama, menjelaskan kepada majelis hakim bahwa ia sebagai pemilik 30 % saham atau 84 lembar saham di PT. Bangun Megah Semesta (BMS).

" Akibat adanya krisis keuangan perusahaan, maka saya waktu itu sebagai komisaris PT. BMS, dengan para pemegang saham lainnya, sepakat untuk mundur dari perusahaan dan akan melepaskan saham miliknya, setelah Conti Chandra mendapatkan pendamping." kata Wie Meng dihadapan majelis hakim. Selasa (15/5).


Saat penasehat hukum terdakwa (Tjipta Fudjiarta) Hendie Devitra SH yang didampingi Sabri Hamri SH, menunjukkan surat tertanggal 22 Juli 2011 didepan majelis hakim, saksi Wimeng membenarkan adanya surat tersebut.

" Awalnya dibuat RUPS Akta No. 10 Tanggal 7 Juli 2011, kemudian dibatalkan dengan akta RUPS No. 70 tanggal 19 Juli 2011, karena Conti belum siap dan belum mendapatkan investor. Kemudian diadakan lagi rapat Tanggal 22 Juli 2011, dimana keputusan para pemegang saham waktu itu saksi Conti yang keluar dari perusahaan karena tidak didukung lagi, " terang Wimeng.

Dilanjutkan Wimeng, namun berselang 5 hari kemudian, Conti Chandra kembali menyatakan akan mengambil alih lagi saham-saham tersebut dan dibuatlah akta No. 89 tanggal 27 Juli 2011.

" Akta No. 89 itu bukan akta jual beli saham kepada Conti, tetapi saya dan pemegang saham lainnya, sepakat akan melepaskan saham kami, apabila Conti sudah mendapatkan pendamping dan waktu dibuatnya akta 89 itu belum ada pembayaran". tambah Wie Meng.


Selanjutnya saksi Wimeng menjelaskan kepada majelis hakim, bahwa saksi dan para pemegang saham lainnya, sepakat hanya meminta modal yang dikeluarkan saja dikembalikan, maka saksi dengan saksi Conti Chandra pada tanggal 25 juli 2011 itu, membuat perincian harga yang akan ditawarkan kepada calon investor, ataupun apabila Conti Chandra yang akan mengambilnya.

" Benar angka 27,5 M itu dibuat oleh saya (saksi) dengan Conti chandra, dimana dari 27,5 M itu digunakan untuk pembayaran saham sebesar Rp 6.5 M, dan sisanya Rp. 21 M dikembalikan kepada perusahaan, untuk pembayaran hutang suplier dan pinjaman dari owner lama dan lainnya, " ujar Wimeng.

Selanjutnya, setelah dibuat perincian harga dan akta 89 itu, barulah kemudian saksi Conti mentransfer uang kepada saksi secara bertahap, dan saksi Wimeng yang mengatur pembagian kepada pemegang saham lainnya.

Setelah pembayaran lunas, saksi Wimeng bersama dengan pemegang saham lainnya,  atas undangan saksi Conti Chandra yang waktu itu sebagai Dirut PT. BMS mengundang dan memimpin rapat, dengan kesepakatan membatalkan akta no. 89 di notaris Anly Cenggana.

" Supaya tidak terjadi jual dua kali pak hakim, karena Conti meminta saya dan pemegang saham lainnya, untuk menandatangangi jual beli sahamnya kepada terdakwa, " terang Wie Meng lagi.

Dan saksi Wimengpun menandatangani akta jual beli saham No. 4 Tanggal 2 Desember 2011 kepada terdakwa atas perintah saksi Conti,

" Saya kan menerima pembayaran uangnya dari Conti, ya dia bilang teken ajb ke terdakwa saya teken aja, yang penting harga saham saya sudah dibayar lunas". aku Wimeng.

Saksi Wimeng juga mengakui, dari uang 27,5M itu, saksi dan pemegang saham lainnya, hanya menerima 6,5 M karena memang hanya itu modal yang kami keluarkan.

Terkait pertanyaan PH terdakwa Tjipta Fudjiarta, mengenai apakah ada RUPS persetujuan penjualan saham, kepada  terdakwa sebelum ditandatanganinya ajb, saksi Wimeng pun juga menjelaskan bahwa ada RUPS yang dipimpin oleh Conti Chandra selaku Direktur Utama PT. BMS,  dalam akta No. 2 dan pada hari yang sama,  saksi juga menandatangani ajb kepada terdakwa, hadir waktu itu Conti, saksi Hasan dan ia sendiri (Wimeng).

Ada yang menarik juga dalam persidangan kali itu, saat PH terdakwa menanyakan kepada saksi Wimeng, apakah pernah bertemu sebelumnya dengan terdakwa, saksi mengatakan pernah bertemu di ferry dlm perjalanan ke Singapura pada pertengahan tahun 2011 lalu, sebelum penandatanganan ajb, dan saat ditanyakan lagi, apa yang dibicarakan saat bertemu terdakwa tersebut, apakah ada pembicaraan mengenai Hotel BCC, Saksi mengatakan tidak ada. Namun setelah skor sidang dan akan ditutup atas keberatan terdakwa, mengenai pertemuan di ferry itu saksi Wie Meng merubah keterangannya.

" Saya lupa apa yang dibicarakan dengan terdakwa dan itu setelah ajb ". Kata Wie Meng dengan wajah semu.

Padahal sebelumnya, saksi Wimeng  mengatakan pertemuan dengan terdakwa di ferry itu, sebelum penandatangan ajb dan menurut terdakwa pembicaraan waktu itu mengenai Hotel BCC.

Tidak berbeda dengan keterangan saksi Wie Meng, saksi Hasan juga menerangkan hal yang sama mengenai akta no 89 itu.

"Maksud akta 89 itu, saya serahkan saham saya kepada dia (Conti) dan mau dia yang beli atau orang lain, itu urusan dia yang penting modal saya kembali." terang Hasan.

Saksi Hasan menjelaskan, setelah menerima uang pembayaran dari saksi Wie Meng. Setelah lunas saksi tandatangani ajb no. 3 kepada terdakwa, karena sepakat RUPS dalam akta no. 2 menjual saham saksi kepada terdakwa.

Saksi Hasan yang merupakan kerabat Conti (ipar) serta saksi Sutriswi yang juga anak  saksi Hasan, membenarkan hanya mengikuti perintah orang tuanya (saksi Hasan).

" Saya disuruh tandatangani ajb No. 5 kepada terdakwa, begitu juga Sutriswi yang juga saya suruh untuk tandatangani ajb tersebut, " kata Hasan.

Di akhir persidangan, penasehat hukum Terdakwa Hendie Devitra, SH.MH. langsung menanggapi keterangan para saksi-saksi tersebut. Dimana dalam fakta yang kita dapatkan, adalah bahwa tidak benar Conti Chandra sebagai pemilik 100% saham PT BMS, sebagaimana dalam surat dakwaan.

Bahkan Akta no. 10 dan akta no. 89 yang disebut - sebut sebagai barang bukti kepemilikan 100% saham, Conti itu tidak benar, faktanya akta no. 10 dan akta no. 89 itu bukan akta jual beli saham, dari pemegang saham lama kepada conti, dan tidak pernah ada realisasi atau dibuatnya jual beli saham kepada Conti, melainkan Conti yang menyuruh saksi - saksi untuk menandatangani ajb saham mereka kepada terdakwa, karena pada akte 89 di halaman 5, telah ada pernyataan para pihak yang akan menjual saham nya tersebut, berjanji dan mengikatkan diri untuk menandatangani akte pelepasan kepengurusan, dan diikuti dengan jual beli saham nya, apabila Conti Chandra telah mendapatkan pendamping nya.

" Memang benar faktanya saksi - saksi pemegang saham lama itu, menerima uang pembayaran dari saksi Conti Chandra, dan saksi Conti Chandra yang waktu itu Dirut dengan RUPS nya, menyuruh mereka menandatangani akta jual beli sahamnya kepada terdakwa Tjipta. Soal nanti apa hubungan uang yang diterima mereka dengan terdakwa itu nanti, kita jangan membuat kesimpulan dulu, tunggu nanti setelah selesai semua pemeriksaan." tutup Hendie.



(Red/Aidil). 
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya