» » » » Anly Cenggana : Pembuatan Seluruh Akta Atas Permintaan Conti Chandra

Anly Cenggana : Pembuatan Seluruh Akta Atas Permintaan Conti Chandra

Ditulis Oleh: Redaksi | Rabu, 06 Juni 2018 | No comments







Batam, BR - Pengadilan Negeri (PN) Batam kembali menggelar sidang terdakwa Tjipta Fudjiarta, yang terjerat dalam perkara penipuan dan pemalsuan surat - surat di BCC Hotel seperti yang dituduhkan seterunya Conti Chandra. 

Sidang yang beragendakan masih mendengarkan keterangan saksi ini, digelar di ruang utama PN Batam dengan Majelis Hakim yang diketuai Tumpal Sagala SH yang didampingi hakim anggota Taufik SH dan Yona Lamerosa Ketaren SH.

Setelah sempat ditunda senin lalu (28/5),  karena terkait izin dari Majelis Kehormatan Notaris, kembali Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan saksi Anly Cenggana SH, selaku notaris yang menerbitkan Akta RUPS dan Jual beli Saham PT. Bangun Megah Semesta (PT.BMS) .

Dalam kesaksiannya dihadapan majelis hakim, JPU dan PH terdakwa, Anly menjelaskan pada awalnya Conti Chandra dan pemegang saham lama, datang kepada saksi untuk mendirikan PT.BMS dan dibuat Akta No. 13 tgl. 19 Oktober 2007 dengan komposisi saham : Conti 77 saham (27,5%), Wie Meng 84 (30%) Hasan 77 (27,5%) Andreas Sie 28 (10%) dan Tony 14 saham (5%).

Saham Tony 14 saham kemudian dijual kepada Sutriswi dengan akta no. 47 tgl. 17 Janjari 2011.

Sejak pendirian PT. BMS saksi sering diminta sebagai notaris yang membuat akta - akta RUPS sampai dengan terakhir akta no. 33 tgl. 18 Februari 2012 tentang peningkatan modal perseroan PT.BMS, semuanya ada sekitar 20 Akta PT.BMS yang dibuat oleh saksi Anly Cenggana tersebut.

" Secara kronologis urutan akta, yang awalnya menurut Akta No.10 tanggal 07 Juli 2011, para pemegang saham sepakat Conti Chandra akan mengambil alih sepenuhnya saham - saham dari para pemegang saham , yakni Wie Meng CS apabila telah mendapatkan pendamping " terang saksi Anly saat ditanya JPU mengenai peralihan saham PT. BMS.

Lanjutnya, namun kemudian Akta No. 10 tersebut dibatalkan dengan Akta No. 70 tanggal 19 Juli 2011, yang isinya Conti Chandra belum siap untuk mengambil alih dan/atau mencari investor, untuk masuk ke dalam perseroan, dan selanjutnya para pemegang saham mengambil keputusan Conti Chandra dan Wie Meng akan mengundurkan diri.

Menurut saksi juga, pada tanggal 25 Juli 2011, Conti Chandra meminta dirinya membuat kembali akta pengalihan saham dan dibuat Akta No. 89 tgl. 27 Juli 2011, dimana para pemegang saham sepakat Conti Chandra akan mengambil alih sepenuhnya saham - saham para pemegang saham, yang berjanji dan mengikatkan diri untuk menandatangani akta pelepasan pengurus dan jual beli sahamnya, apabila Conti Chandra sudah mendapatkan pendampingnya.

Mengenai maksud pendamping akta 89 saksi Anly juga menjelaskan, bahwa sama dengan maksud isi akta No. 70 pendamping itu adalah investor atau orang yang akan membeli dan masuk ke dalam perseroan. 

Isi akta No. 89 itu juga memuat jadwal pembayaran, harga saham yang sesuai modal yang dikeluarkan perseroan,  sehingga harga 1 saham senilai Rp. 135.700.000, sehingga total biaya yang akan dibayarkan adalah Rp. 27.547.100.000, yang merupakan saham berikut asset sesuai dengan perincian yang dibuat dan ditandatangani Conti Chandra dan Wie Meng diatas materai.

" Mengenai jadwal pembayaran dirubah dengan Akta No. 1 tgl. 1 Agustus 2011" ujar saksi.

Selanjutnya saksi menjelaskan kembali, bahwa setelah dibuatnya Akta No. 89 dan sesuai dengan jadwal pembayaran dalam  akta no. 1, ia kemudian menerima permintaan pendaftaran semua kwitansi pembayaran yang diterima oleh Wie Meng, berikut juga surat pernyataan para pemegang saham No. 1601 yang isinya mengenai modal masing - masing pemegang saham yang dibayar.

" Setelah selesai pembayaran saya kemudian, diminta oleh Conti Chandra untuk dibuatkan Akta Jual Beli saham, tapi karena saham - saham dalam gadai Bank adanya kredit, maka sebelum dibuat AJB saham harus ada persetujuan dari Bank Panin sebagai kreditur " ungkapnya.

Kembali dijelaskan lagi oleh saksi Anly Cenggana, bahwa dalam surat permintaan persetujuan kepada Bank Panin yang dibuat oleh Conti Chandra sebatai Dirut PT. BMS, permohonan persetujuan itu terkait pengalihan saham kkepada Tjipta Fudjiarta yang akan masuk ssebagai komisaris PT.BMS ada disebut dalam surat yang dibuat Conti.

" Setelah adanya persetujuan bank, Conti Chandra meminta saksi utk membuat Akta RUPS dan AJB, yang kemudian dilaksanakan tgl. 17 November 2011. RUPS pengalihan saham sudah ada sejak tgl. 17 November 2011, jadi bukan baru diketahui tgl 2 Desember 2011, hanya karena salah satu pemegang saham Andreas Sie, tidak hadir maka RUPS ditunda dan tidak memgambil keputusan sesuai isi Akta No. 43 tgl. 17 November 2011 " jelas Anly lagi.

Menurut saksi, tidak hadirnya Andreas Sie telah ditegur oleh Conti, selanjutnya atas permintaan para pemegang saham, dilakukan pembatalan Akta No. 89 tersebut dengan  Akta No. 98 tgl. 30 November 2011, karena ada kesalahan persepsi mengenai hutang perseroan.

" Pada hari yang sama dibuat juga akta no. 99 yang isinya sama dengan isi akta 89, hanya tidak ada angka - angka mengenai harga " terang saksi.

Dilanjutkan saksi, barulah kemudian pada tgl. 2 Desember 2011 para pemegang saham melaksanakan RUPS, mengenai persetujuan pengalihan saham kepada Tjipta Fudjiarta, dan isi Akta No. 2 tgl. 2 Des 2011 adalah melanjutkan RUPS tgl 17 Nov 2011 dan semua pemegang saham hadir, termasuk Tjipta Fudjiarta dan dilangsungkan sekaligus dengan AJB masing Akta No. 3, 4, dan 5 dari Wie Meng, Hasan, dan Sutriswi kepada Tjipta Fudjiarta.

" Namun peralihan saham tersebut tidak terlaksana karena menurut Undang-Undang Perseroan Terbatas, undangan harus disampaikan paling lambat 14 hari sebelum RUPS, dan disisi lain salah satu pemegang saham yaitu Andreas Sie tidak hadir dan telah ditegur oleh conti chandra " beber saksi lagi.

Akhirnya peralihan saham dapat dilaksanakan pada tanggal 2 Desember 2011, berdasarkan Akta RUPS Nomor 2, dan Akta Jual Beli Nomor 3, 4, 5 tetang peralihan saham Wie Meng, Hasan dan Sutriswi kepada terdakwa Tjipta Fudjiarta. Sedangkan peralihan saham Andreas Sie kepada terdakwa, didahului oleh Andreas Sie kepada Conti Chandra, kemudian Conti Chandra kepada terdakwa.

Ketika ditanya oleh Penasehat Hukum terdakwa Tjipta Fudjiarta, apakah terdakwa pernah menemui saksi atau menelepon dan meminta saksi atau berkehendak untuk meminta diterbitkan/dibuatkan Akta PT. BMS, saksi menegaskan tidak pernah, karena selama ini Conti Chandra yang selalu meminta kepada saksi untuk dibuatkan seluruh Akta PT.BMS termasuj akta - akta peralihan saham tersebut.

Ketika ditanya PH kembali, kapan pertama kali saksi bertemu dengan terdakwa Tjipta Fudjiarta, saksi mengatakan pada tgl 17 November 2011 di kantornya, saksi bersama dengan semua pemegang saham PT.BMS, kecuali Andreas Sie yang tidak hadir yaitu pelaksanaan RUPS pengalihan saham kepada Tjipta.

Saat ditanya hakim, bagaimana proses penerbitan akta, saksi menjelaskan bahwa setelah pemengang saham sepakat, kemudian saksi menuangkan didalam konsep terlebih dahulu, untuk dirampung oleh para pemegang saham lain, dan kemudian ditandatangani pada hari yang sama.

Diakhir persidangan, Penasehat Hukum Terdakwa Hendie Devitra didampingi Sabri Hamri kepada awak media menerangkan bahwa yang terpenting dari kami adalah dari pemeriksaan terhadap saksi notaris Anly  Cenggana tersebut, yang merujuk kepada surat dakwaan JPU sebagai fakta hukum, antara lain tuduhan kepada terdakwa yang menghubungi notaris Anly telah didengar, itu tidak benar dan tidak pernah terdakwa menghubungi dan bicara lewat telepon, seperti yang didakwakan,

" Tegasnya tidak ada satupun permintaan dari terdakwa, untuk penerbitan akta - akta tentang pengalihan saham PT.BMS, seluruh  penerbitan Akta PT. BMS termasuk akta - akta jual beli saham, adalah atas permintaan dan kehendak dari Conti Chandra selaku Dirut PT. BMS saat itu." kata Hendie.

Lebih lanjut Hendie menjelaskan, Notaris dalam kesaksiannya hanya berpegang kepada Akta Notariilnya, yang mana dia tidak memiliki kewajiban untuk meneliti kebenaran materiil dan hanya berpegang kepada kebenaran formiil, sesuai dengan apa yang diterangkan oleh para pihak yang kemudian dituangkan kedalam aktanya, seperti mengenai pembayaran harga saham semua pemegang saham, sudah mengatakan bahwa mereka sudah menerima lunas harga saham yang mereka jual, itu yang oleh saksi dituangkan dalam aktanya, bahwa mengenai pembayaran sudah diterima lunas, jd apa yang didakwakan soal akta, yang isinya tidak benar karena harga saham dibilang lunas, padahal belum dibayar lunas itu kan hanya kata Conti? Dan dia (conti) itu siapa dan hubungannya apa dengan akta jual beli akta - akta itu.

Setelah mendengarkan keterangan saksi yang cukup panjang, hingga memakan waktu kurang lebih 2 jam itu, akhirnya ketua majelis hakim Tumpal Sagala SH menutup sidang dan dilanjutkan tgl 25 Juni 2018 mendatang.

" Sidang ditunda dan akan dilanjutkan kembali pada 25 Juni 2018, dan sidang ditutup " pungkas Tumpal.


(Red/Aidil). 
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya