» » » » Berliana : Sejak Saya Mulai Bekerja di Tahun 2011, Tjipta Fudjiarta sudah Jadi Komisaris PT. BMS

Berliana : Sejak Saya Mulai Bekerja di Tahun 2011, Tjipta Fudjiarta sudah Jadi Komisaris PT. BMS

Ditulis Oleh: Redaksi | Selasa, 10 Juli 2018 | No comments







Batam, BR - Kembali Jaksa Penuntut (Kejari) Batam hadirkan saksi - saksi dalam sidang perkara sengketa dugaan tindak pidana penipuan dan penggelapan, serta pemalsuan surat di PT Bangun Megah Semesta (BMS) dengan terdakwa Tjipta Fudjiarta, yang digelar ruang utama Pengadilan Negeri  Batam. Senin (9/).

Adapun empat orang saksi yang dihadirkan oleh JPU, dimana saksi - saksi itu di luar notaris dan pemegang saham, yakni Berliana yang pernah bekerja sebagai asisten HRD di PT BMS, Desi sebagai kasir di hotel BCC, dan Erlida Siburian yang bekerja di kantor notaris Anly Cenggana, serta Suwarno atau Ahuat.

Dalam sidang yang masih dipimpin oleh Tumpal Sagala, dengan beranggotakan Taufik dan Yona Lamerosa Ketaren itu, saksi Berliana yang diminta duluan untuk memberikan keterangan di hadapan majelis hakim, mengaku mulai bekerja di PT BMS, sejak Desember 2011 hingga Desember 2014.

" Tugas saya mengurus semua perizinan yang berhubungan dengan operasional hotel, juga mengurus perizinan tenaga kerja asing. Kalau saya lihat di akta perusahaan, semenjak saya bekerja, terdakwa memang posisinya sudah menjadi komisaris waktu itu," kata Berliana.

Ia juga melanjutkan, posisi Conti Chandra  saat itu juga sebagai Direktur pada PT. BMS.

" Setahu saya, selain Conti dan terdakwa waktu itu, juga ada yang lainnya, seperti Wie Meng, Hasan, Sutriswi dan Andreas Sie yang tertulis di akta sebelumnya. Selama saya bekerja di sana, kalau tak salah ada dua kali perubahan struktur organisasi perusahaan, sekitar tahun 2013 saat itu komisarisnya tetap terdakwa," ujar saksi.

Dan Direktur Utama PT BMS pada saat itu  adalah Winston. Dengan direkturnya Conti Chandra

Berliana juga mengatakan, ada perubahan lagi beberapa bulan kemudian, dimana posisi komisarisnya tetap terdakwa, dengan Winston yang tetap sebagai Direktur Utamanya, sedangkan Conti Chandra yang semulanya sebagai direktur di PT. BMS itu diganti dengan Jauhari.

Saat ditanya, apakah sebelumnya ada komisaris lainnya, selain terdakwa Tjipta Fudjiarta, Berliana mengaku tidak tahu. Dan kenapa ada pergantian direktur dari Conti ke Jauhari, saksi juga mengaku tidak tahu pastinya.

" Saya tahunya ada masalah saham gitu aja sih. Apa masalah sebenarnya, saya juga tidak tahu. Awal-awal dulu gaji saya dibayarkan tunai. Sejak tahun 2014, gaji via bank," terangnya.

Setahu saksi Berliana, sejak tahun 2011 di bulan Oktober, Hotel BCC baru beroperasi. Dulu waktu awal operasional, yang banyak mengurusinya adalah Conti Candra, setelah masuknya Winston, Conti sudah jarang ke hotel dan tidak pernah lagi.

" Saya waktu itu harus mengurus surat-surat, harus ada surat kuasa dari perusahaan. Karena Conti nggak ada, ya saya minta tanda tangan ke terdakwa selaku komisaris. Waktu itu belum ada perubahan, masih ada terdakwa selaku komisaris dan Conti selaku direkturnya. Saya kan juga harus memperpanjang surat izin Winston selaku WNA, karena disamping sudah habis suratnya, saya minta surat kuasa ke Conti untuk memperpanjang izin Winston dalam bekerja. Tapi Conti waktu itu tidak mau tanda tangan. Alasannya pokoknya tak mau tanda tangan saja," kata Berliana dihadapan majelis hakim.

Pada waktu itu, Conti tak mau menandatangani surat perpanjangan Winston, saksi terpaksa minta tanda tangan ke terdakwa sebagai komisaris, dan langsung mau menandatangani surat perpanjangan untuk Winston, lanjut Berliana.

" Saat saya keluar kerja dari PT BMS, direkturnya di waktu tahun 2013 itu adalah Jauhari. Pada tahun itu juga, Conti membuat surat pengunduran dirinya dan menyerahkannya lewat istrinya ke terdakwa. Kalau ada permasalahan di PT BMS itu, yang katanya penipuan dan penggelapan, yang melapornya adalah Conti dan yang dilaporkan adalah terdakwa. Itu saja yang saya tahu," ujar saksi Berliana.

Sementara saksi kedua yakni Desi, lebih banyak tidak tahunya saat ditanya majelis hakim, jaksa serta penasihat hukum terdakwa, mengenai kasus penipuan dan penggelapan antara terdakwa dengan Conti.


Sedang saksi ketiga, Erlida Sibur staff notaris Anly Cenggana yang disuruh bersaksi saat pembuatan akta di PT.BMS.

Erlida dalam keterangannya mengaku, saat pembuatan akta di notaris Anly Cenggana, semua pemegang saham hadir, termasuk terdakwa Tjipta Fudjiarta dan Conti Candra.


Semuanya saat itu saya saksikan sendiri dan sebagai saksi, ikut menandatangani akta jual beli saham itu. Namun soal ada tidaknya transaksi pembayaran saat itu, saya tidak tahu," terang saksi Erlida.

Pada saat pemegang saham dan terdakwea datang, lanjutnya, konsep akta sudah ada dibuat notaris dan kemudian dibacakan di hadapan pemegang saham yang semuanya waktu itu hadir.

" Jual beli saat itu sudah terlaksana, pada saat pembuatan akta yang juga dibacakan di hadapan semua pemegang saham,  yang hadir termasuk terdakwa," terang Erlin lagi.

Sedangkan saksi ke empat adalah Suwarno alias Ahuat yang sempat ditanya hakim,
apakah dirinya tetap bersaksi ataupun boleh mengundurkan diri sebagai saksi, mengingat yang bersangkutan bekerja langsung dan menerima gaji dari terdakwa. Namun Ahuat mengaku tetap mau bersaksi.

" Tahun 2011 bulan Juli, saya menjemput Conti dan istrinya di Bandara saat keduanya ke Medan. Saya disuruh terdakwa menjemput mereka dan langsung mengantarkan ke rumah terdakwa. Saya sekilas saja tahunya keduanya datang ke rumah terdakwa terkait jual beli saham saja," ujar saksi Ahuat.


Saksi juga menjabarkan, di Medan terdakwa Tjipta juga memiliki usaha yang dinamakan PT Cipta Karya Sartika yang kantornya juga dirumah terdakwa. Usaha terdakwa di Medan saat itu sebagai suplier atau penjualan alat Pertamina seperti pompa SPBU.

" Komisaris, dan direkturnya saat itu dirangkap langsung oleh terdakwa. Terdakwa juga punya beberapa truk tangki di Medan yang diberi label Petrolindo," terang saksi Ahuat di hadapan majelis hakim persidangan.

Ahuat mengaku, saat itu Conti pernah ngomong ke dirinya kalau ada urusan mau jual saham ke terdakwa.

" Saya ke Batam ini juga diberi surat kuasa oleh Conti, untuk mengawasi barang-barang dari suplier seperti gipsum dan kabel untuk proyek pembangunan kamar-kamar Hotel BCC. Saat itu apartemen nomor 2 sampai 5 memang sudah siap. Kalau yang lainnya belum siap. Lantai 6 sampai 11 belum siap saat saya datang ke Batam. Hotel BCC sendiri saat itu juga belum siap. Suplier barang saat itu adalah Wie Meng," pungkas Ahuat.



(Red/Afinast).
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya