» » » » Wie Meng : Saya Terima Uang Rp. 27,5 M dari Penjualan Saham, Namun Sebagian Uang Itu Saya Kembalikan Ke Conti Chandra

Wie Meng : Saya Terima Uang Rp. 27,5 M dari Penjualan Saham, Namun Sebagian Uang Itu Saya Kembalikan Ke Conti Chandra

Ditulis Oleh: Redaksi | Selasa, 17 Juli 2018 | No comments






Batam, BR - Pengadilan Negeri (PN) Batam gelar sidang komprontir antara terdakwa Tjipta Fudjiarta dengan para saksi pemegang saham lama (Conti Chandra Cs) dan dua orang notaris beserta staffnya, dalam sidang dugaan tindak pidana penipuan dan penggelapan serta pemalsuan surat di PT Bangun Megah BMS. Senin (16/7) siang.

Sidang yang mengagendakan mengkonfrontir semua keterangan saksi-saksi ini, sebelumnya sudah disampaikan oleh Ketua Majelis Hakim PN Batam, Tumpal Sagala SH bersama dua hakim anggotanya Taufik dan Yona Lamerossa Ketaren pada sidang dua minggu yang lalu.

Di dalam ruang sidang utama PN Batam itu, ketua majelis hakim Tumpal Sagala SH langsung membuka sidang, dengan melontarkan pertanyaan seputaran pembuatan akta RUPS no 2,3,4 dan 5, dimana menurut pengakuan notaris Anly Cenggana, bahwa terdakwa Tjipta Fudjiarta juga hadir pada pembuatan akta tersebut, bersamaan dengan para pemegang saham lainnya, Wie Meng, Hasan dan Sutriswi, namun ketiga saksi pemegang saham itu mengatakan bahwa terdakwa tidak hadir dalam rapat tersebut.

Tumpal juga menanyakan kepada Anly Cenggana, apakah akta itu ada dibacakan atau hanya di tanda tangani saja, yang mana menurut saksi notaris berperawakan tinggi itu, bahwa akta tersebut dibacakan tetapi menurut para saksi pemegang saham itu, mereka hanya diminta oleh Conti Chandra untuk menandatangani saja akta jual beli saham, kepada terdakwa Tjipta Fudjiarta tanpa dibacakan lagi.

" Conti bilang, kami tanda tangani saja akta itu, ya sudah kami tanda tangan terus langsung pulang, tanpa membaca lagi akta tersebut, " kata Wie Meng, salah satu saksi pemegang saham lama.

Mengenai salinan akta itu, menurut saksi Anly Cenggana, telah ia serahkan ke Conti berdasarkan permintaan Conti Chandra itu sendiri, dimana ia masih direksi PT. BMS, namun menurut Conti Chandra bahwa akta yang diserahkan oleh notaris itu ke dirinya, agar tetap bisa dipegang dan tetap dia yang punya.

Kepada majelis hakim, Conti Chandra juga mengaku, bahwa ia sempat menelpon terdakwa Tjipta Fudjiarta dan menanyakan posisinya dimana, juga dengan Anly Cenggana, namun hal tersebut dibantah oleh para saksi pemegang saham lama Wie Meng, Hasan dan Sutriswi.

" Tidak ada pembicaran lewat telepon antara terdakwa dengan Conti maupun notaris Anly Cenggana itu, " kata para saksi kompak.

Sedangkan Conti Chandra dalam pengakuannya di hadapan hakim, yang mengatakan bahwa akta tidak pernah dibacakan dihadapannya, langsung dibantah oleh notaris Anly Cenggana, bahwa waktu itu semua pemegang saham hadir, termasuk terdakwa dan akta itu dibacakan sebelum ditandatangani.

Conti juga mengatakan, mengenai pembuatan akta No. 28 dan 29 tentang perubahan direksi di Notaris Syaifuddin, ia tidak menandatangani akta tersebut, dirinya mengaku hanya datang di depan kantor notaris itu, dan tidak masuk ke dalam kantor tersebut.

Dan Conti juga mengaku ditelepon oleh notaris Syaifuddin diajak untuk ngopi.

" Dia telepon saya ajak ngopi, tapi saya datang dengan hanya berdiri saja di depan kantornya, tidak masuk. Dan saya bilang ke notaris agar jangan dibuat akta itu, " kata Conti.

Namun keterangan Conti berbeda dengan apa yang disampaikan Syaifuddin dihadapan majelis hakim. Karena menurut Syaifuddin itu, Conti lah yang menelpon dirinya dan mengundang dalam rapat tersebut.

" Saya di telepon Conti dan menerima surat undangan rapat yang di tandatanganinya sendiri. Saat itu Conti dan terdakwa Tjipta keduanya hadir dihadapan, pas di kantor saya dan masih saya ingat sekali mereka berdua berbicara dengan menggunakan bahasa China, dan selanjutnya seperti ap yang saya tuang dalam isi akta itu. Dan waktu akan menandatangani akta itu, Conti langsung pergi meninggalkan rapat tanpa ikut menanda tangani akta tersebut, " ungkap Syaifuddin.

Lanjutnya lagi, soal pelaksanaan RUPS tanggal 15 yang saat itu tak jadi dirapatkan, justru saya yang ditelepon dan diberitahu Conti, bahwa tanggal 15 Mei 2013 tak jadi rapat, dengan alasan terdakwa Tjipta Fudjiarta tak ada di Batam saat itu.

Dan rapat diundur tanggal 16 Mei 2013 keesokan harinya, dimana Conti hadir bersama staff nya Fahrudin .

" Saya sempat ngobrol lama dengan Conti waktu itu yang datang dengan staffnya, saya ingat betul, staffnya hanya pakai kaos oblong dan jarang pakai sepatu, selang tak lama kemudian terdakwa pun datang," terang Syaifuddin.

Hal yang sama dilakukan oleh Wie Meng, dimana ia membantah keterangan Conti, yang mengaku bahwa uang Rp 27,5 miliar itu diserahkan semuanya ke Wie Meng.

Dalam bantahannya itu, Wie Meng mengatakan bahwa uang 27,5 M yang telah diterimanya itu, dibayarkan ke masing - masing pemegang saham lama semuanya sebesar Rp. 6,5 M, sisanya yang  Rp. 21 M dikembalikan kepada Conti. Sedangkan Conti mengaku uang itu tak ada dikembalikan Wie Meng.

Sementara itu, Jaksa Penuntut Umum (JPU)  Syamsul Sitinjak, yang bertanya ke saksi notaris Syaifuddin, pada pembuatan akta jual beli No. 11, 12, dan akta pergantian Direksi No. 28, dan 29 apakah Conti ikut hadir, Syaifuddin pun menjawab kalau ke semuanya hadir, dan menggelar rapat di kantornya. Termasuk yang hadir saat itu terdakwa Tjipta Fudjiarta.

" Pak Conti sering berkonsultasi dengan saya, sebelum pembuatan akta itu dan juga  sering telepon saya, intinya rapat itu ada dan Conti bersama terdakwa keduanya hadir dan duduk dihadapan saya," terang Syaifuddin.

Sedangkan Hendie Devitra didampingi Sabri Hamri selaku Penasihat Hukum terdakwa, mencoba bertanya ke saksi Conti seperti apa cerita, terkait transfer uang dari terdakwa, dimana Conti mengatakan setiap dirinya memerlukan dana untuk pembayaran saham, maka conti menelepon untuk mengirimkan dananya.

" Dan menurut saksi Wie Meng, ia membenarkan tentang ada dibuatnya jadwal pembayaran dan telah ditandatangani Akta No. 1 tgl 1 Agustus 2010, perubahan jadwal dari akta no. 89, " terang Hendie.

Dilanjutkan Hendie, sementara pada pembuatan akta 01, saksi Wie Meng mengaku hadir di notaris, begitu juga saksi lainnya Andreas Sie, dan Hasan juga.

Hendie juga menanyakan, apa alasan saksi Wie Meng menggugat Conti terkait pembatalan surat pernyataannya, saksi Wie Meng mengaku lupa, dan Hendie pun sempat membacakan gugatan yang diajukan saksi Wie Meng itu.

" Dan kenyataannya uang pembayaran saham dibayar oleh terdakwa bukan oleh Conti, lantas Wie Meng menggugat pembatalan surat pernyataan penerimaan uang yang pernah dibuat oleh conti.

" Saya lupa karena saya dilaporkan conti ke mabes Polri, makanya saya gugat dia, " kata Wie Meng.

Kemudian Hendie Devitra juga bertanya ke saksi Conti Chandra, apa alasannya akta 89 dibatalkan dan diganti dengan menerbitkan akta 99, yang mana dari keterangan Conti karena perintah terdakwa.

Selanjutnya Hendie juga menanyakan kepada Andreas Sie, apa alasannya juga  menggugat Conti dan menuntut pembatalan akta No. 89 itu.

Saksi Andreas Sie dihadapan hakim,  mengakui pernah menggugat saksi Conti. Dan gugatan tersebut dikarenakan dirinya saat itu, tak setuju adanya akta 89 dan harus dibatalkan, meskipun membenarkan hal itu, Andreas Sie mengaku tidak ingat lagi.

" Saya sudah berdamai sama Conti dan sudah selesai", kata Andreas Sie.

Sedangkan Saksi Wie Meng juga mengakui, pada rapat tanggal 30 November tentang pembatalan akta 89, hadir Saksi Wie Meng, Hasan, dan Conti . Semuanya hadir untuk membatalkan akta 89.

Setelah mendengarkan semua keterangan dari para saksi - saksi yang dikonfontir itu, ketua majelis hakim, Tumpal Sagala SH menutup sidang, dan akan dilanjutkan lagi pada 25 July keterangan, dengan agenda mendengarkan keterangan saksi - sakit lainnya.


(Red/Afinast).



Baca Juga Artikel Terkait Lainnya