» » » » Ini Kata Mantan GM dan Dirut PT. BMS Kepada Hakim Dalam Sidang

Ini Kata Mantan GM dan Dirut PT. BMS Kepada Hakim Dalam Sidang

Ditulis Oleh: Redaksi | Sabtu, 04 Agustus 2018 | No comments






Batam, BR - Penuhi panggilan Jaksa Penuntut Umum dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Batam, Toh York Yee Winston hadir sebagai saksi dalam perkara dugaan tindak pidana penipuan, pemalsuan dan penggelapan surat - surat di PT. Bangun Megah Persada dengan terdakwa Tjipta  Fudjiarta, yang sidangnya digelar di Pengadilan Negeri (PN) Batam, pada Jumat (3/8) pagi. 

Mantan General Manager BCC Hotel dan Direktur Utama PT. Bangun Megah Semesta itu, memberikan kesaksian/keterangan kepada Majelis Hakim, JPU dan PH terdakwa Tjipta Fudjiarta, seputar apa yang diketahuinya dalam perkara sengketa kepemilikan saham di PT. BMS, selaku pengelola operasional BCC Hotel.

Masih dipimpin oleh Ketua Majelis yang yang sama pada sidang - sidang yang lalu, yakni Tumpal Sagala didampingi Hakim Anggota Taufik Abdul Halim dan Yona Lamerossa Ketaren dengan JPU Filpan F.D Laia dan Samsul Sitinjak serta Penasehat Hukum terdakwa sendiri, Hendie Devitra dan Sabri Hamri.

Dalam keterangannya, saksi Winston mengaku mulai bergabung di BCC Hotel sebagai General Manager pada tahun 2012.

" Tugasnya meningkatkan okupansi hotel dan cari omset. Sebagai GM saya bertanggung jawab kepada Conti Chandra selaku Direktur (PT.BMS), " kata Winston kepada JPU.

Winston juga mengaku, mendapatkan Surat Keputusan (SK) pengangkatan sebagai General Manager (GM) di BCC,  yang ditandatangani oleh Direktur PT. BMS Conti Chandra.

" Pak Conti yang tandatangan, ada SK nya," ujar saksi.

Saat ditanya soal status saksi sebagai Warga Negara Asing (WNA), saksi mengaku  memiliki izin kerja (IMTA) saat Direktur PT. BMS dijabat Conti Chandra, namun saat akan mengurus perpanjangan izin kerjanya, Conti Chandra tidak bersedia tandatangan. 

" Waktu itu ada perpanjangan izin kerja, Pak Conti tidak mau tandatangan izin kerja saya," terang Winston.

Ia juga  mengaku tidak mengetahui alasan Conti Chandra, tidak mau tandatangan saat pengurusan perpanjangan izin kerjanya.

" Saya tidak tahu persis, mungkin pak Conti tidak senang dengan prestasi saya," kata saksi lagi.

Meski demikian Winston mengakui, tidak memiliki masalah dengan Conti Chandra saat bekerja sebagai GM BCC Hotel.

 " Tidak ada masalah," jelasnya.

Winston juga mengatakan, pada bulan Mei tahun 2013, dirinya diangkat sebagai Direktur Utama PT. BMS oleh Tjipta Fudjiarta selaku Komisaris.

" Waktu saya diangkat jadi Direktur Utama, pak Conti menjabat sebagai Direktur (PT.BMS). Saya bertanggung jawab terhadap operasional hotel kepada Komisaris Tjipta Fudjiarta," ungkap saksi.

Lanjut Winston, setelah menjabat Dirut PT. BMS, ia tidak pernah menerima laporan pertanggung jawaban dari Direksi sebelumnya.

" Waktu saya jabat Dirut, Pak Conti tidak ada laporan pertanggung jawaban keuangan ke saya," imbuhnya.

Namun di satu sisi,  Winston mengaku mengetahui tentang adanya pinjaman PT. BMS ke Bank Ekonomi sebesar Rp 70 Miliar.

" Sejak saya jabat Dirut, saya bertanggung jawab untuk membayar utang bank sebesar Rp 2 Miliar per bulan," jelasnya lagi.

Menurut saksi saat itu, pendapatan dari BCC Hotel tidak dapat membayar cicilan bank per bulannya.

" Utang itu dapat suntikan dari pak Tjipta, karena omset tidak tertutupi," terang  Winston.

Saksi mengaku, mengetahui adanya surat pengunduran diri Conti Chandra dari jabatan Direktur PT. BMS yang ditandatangani istri Conti Chandra sendiri.

" Pernah lihat suratnya (pengunduran diri) dari istri pak Conti itu, " kata saksi.

Saksi juga mengatakan, bahwa bangunan BCC Hotel juga terdapat apartemen atau residence yang bukan milik PT. BMS.

" Ada puluhan apartemen yang dimiliki orang lain," ujarnya. 

Saksi juga mengaku, mengajukan pengunduran diri sebagai Direktur Utama PT. BMS pada tahun 2014, dikarenakan tidak bisa fokus dengan operasional hotel kala itu.

" Saya tidak bisa fokus dengan operasional hotel, berhubungan dengan kasus ini berpengaruh kepada tingkat hunian hotel,  " terangnya.

Setelah mendengarkan keterangan saksi, sidang perkara ini kemudian diskors selama 2 jam untuk kemudian dilanjutkan dengan agenda mendengarkan keterangan saksi ahli hukum pidana dari Universitas Islam Indonesia(UII) Yogyakarta, Muzakir.


(Red/Afinast). 
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya