» » » » Tjipta Fudjiarta : Saya Tidak Undang Conti Datang Ke Medan, Dia Sendiri Yang Datang Atas Inisiatifnya

Tjipta Fudjiarta : Saya Tidak Undang Conti Datang Ke Medan, Dia Sendiri Yang Datang Atas Inisiatifnya

Ditulis Oleh: Redaksi | Rabu, 29 Agustus 2018 | No comments









Jaksa Dan Hakim Sempat Cekcok Terkait Singkatnya Waktu Tuntutan. 



Batam, BR  - Tjipta Fudjiarta tegaskan kepada hakim, bahwa bukan dirinya yang mengundang Conti Chandra ke Medan pada tahun 2011, malah sebaliknya Conti Chandra yang datang ke Medan atas inisiatifnya sendiri, dengan menawarkan saham atau menjualkan saham milik teman kongsinya sesama pemilik saham lama untuk dibeli olehnya.

Hal ini diungkap terdakwa Tjipta Fudjiarta kepada Majelis Hakim Pengadilan (PN) Batam, yang diketuai Tumpal Sagala SH, dua hakim anggota Taufik Abdul Halim SH  dan Yona Lamerosa Ketaren SH, dalam sidang perkara dugaan tindak pidana penipuan dan penggelapan  di PT Bangun Megah Semesta (BMS) yang digelar di Pengadilan Negeri Batam, Selasa (28/8) pagi.

" Jadi saat itu saya bilang ke Conti, itu saham teman kongsinya, saham apa?, Dan dijawabnya saat itu dengan mengatakan, kalau itu saham adalah saham hotel. Dari awal itulah mulai Conti cerita ke saya. Saya sempat tanya ke Conti kenapa, dan Conti ngomong kalau ke empat teman kongsinya itu (pemegang saham lama) ini mau jual sahamnya,"  kata Tjipta.

Berikutnya, lanjut terdakwa, Conti memberitahukan ke Tjipta kalau surat yang diserahkan ke terdakwa pada tanggal 22 Juli 2011 yang diserahkan itu, mengatakan bahwa Conti akan dikeluarkan oleh empat teman kongsinya pemegang saham lama,  dan juga dikeluarkan dari posisinya sebagai direksi.

" Alasan Conti saat itu ke saya, karena dirinya sudah tak didukung lagi. Waktu dikasih Conti ke saya itu, surat belum ada capnya dan saya minta supaya dicapkan. Dan tanggal 25 Juli baru ada lagi," ujarnya.

Setelah itu Conti lantas menyerahkan salinan akta nomor 10 dan 70 ke terdakwa waktu itu. Jadi, terdakwa menegaskan bahwa sebelumnya tidak ada pembicaraan sama sekali mengenai Hotel BCC ataupun PT BMS. Mendadak saja Conti datang ke Medan dan menawarkan saham serta menyerahkan dua akta yakni akta nomor 10 dan 70.

Apakah Conti juga membawa data-data hotel yang lain saat menemui terdakwa di Medan, semisal apraisal atau lainnya. Hal tersebut ditegaskan terdakwa bahwa dari Conti hanya membawa data-data hotel.

" Dari situlah baru dimulai cerita soal hotel BCC. Dari akta nomor 10, saya melihat isi akta yang menegaskan, Conti Candra akan mengambil alih saham dari ke empat temang kongsinya pemegang saham. Saat itu aktanya tertanggal 7 Juli 2011," terang terdakwa.

Saat ditanya Jaksa Penuntut Umum (JPU) tim gabungan Kejari Batam dan Kejagung, apakah terdakwa sudah membaca data apraisal, yang dibawa oleh Conti Candra menemui dirinya?, Terdakwa menegaskan apraisal itu sempat dibacanya.

Pada apraisal yang dibawa Conti Candra menemui terdakwa ke Medan, harga taksiran hotel BCC saat itu sebesar Rp. 182 miliar lebih.

Harga ratusan miliar hotel BCC saat itu, JPU juga bertanya ke terdakwa, dalam kondisi kesiapan hotel berapa persen?, menurut terdakwa yang diceritakan oleh Conti, saat itu kesiapan kondisi hotel BCC baru sekitar 60 persen. Namun setelah oleh terdakwa dilihat lagi data apraisal itu, kesiapan kondisi hotel BCC saat itu sudah 70 persen.

Pada akta nomor 10 dan 70 yang dibawa Conti ke terdakwa di Medan saat itu, untuk akta nomor 70 tertulis, kalau Conti batal mengambil alih saham ke empat rekan kongsinya, karena tidak dapat investor.

" Setelah itu tanggal 22 Juli 2011 justru Conti bercerita ke saya, kalau dirinya mau dikeluarkan. Conti datang ke saya, berarti dalam hal ini kalau saya sebagai pengusaha, saya menilai waktu itu Conti kondisinya kepepet banget untuk membeli saham keempat rekannya itu," kata terdakwa.

Setelah Conti menawarkan penjualan saham empat teman kongsinya itu, lalu terdakwa berpikir dua kali dan harus mempelajari terlebih dahulu. Alasan terdakwa melihat permasalahan Conti itu, sudah masuk kategori rumit di akta nomor 10 dan 70.

" Saya sempat baca dan pelajari dua akta tersebut, yakni akta 10 dan 70 dan itu rumit sekali. Saya tanya ke Conti berapa saham teman kongsinya yang mau dijual. Dijawab Conti saat it, dengan mengatakan harganya setelah Conti pulang ke Batam akan mengirimkan penawaran harganya, melalui faks ke saya. Harga penawarannya itu dikirim oleh Conti melalui faks pada tanggal 25 Juli 2011," terang terdakwa lagi.

Saat itu Conti mengaku ke terdakw, bahwa saham ke empat teman kongsinya itu, posisisnya telah digadaikan ke Bank Panin.

" Berarti kan belum bisa dilakukan transaksi, harus ada persetujuan dari Bank Panin. Kalau tak ada persetujuan dari Bank Panin, tak bisa dibuat AJB atau apapun itu," kata terdakwa.

Terdakwa juga menjelaskan, bahwa isi akta 89 adalah harga perlembar saham Rp.135,7 juta. Jadi totalnya yang harus dibayar terdakwa untuk membeli saham keempat teman kongsinya Conti itu, sebesar Rp 27, 5 miliar lebih. Harga di akta 89 dan isinya itulah yang ditawarkan Conti dan disetujui oleh terdakwa.

" Dari situlah saya mentransfier uang pembayaran pembelian saham ke empat pemilik saham lama, ke Conti sebanyak lima kali dengan total Rp 27,5 miliar lebih. Jadi tak benar uang yang saya transfer sebanyak itu, merupakan uang yang saya pinjamkan ke Conti, itu murni uang untuk pembayaran pembelian saham dari empat pemiliknya ke saya. Apalagi saat itu saya diharuskan lagi menambah pembayaran sebesar Rp. 2 miliar untuk membayar Bank Panin yang sudah jadi kredit macet di PT BMS," ungkapnya.

Sementara di dalam akta 89 itu, terdapat kesalahan di cara pembayarannya yang telah disepakati pihak yang akan menjual saham yaitu sebagai berikut, akan dibayar Rp. 10 miliar sepuluh hari setelah akta ditandatangani.

" Makanya saya minta diubah ini jadwal pembayaran pertama di akta nomor 1. Di akta nomor 1 itu tak ada bunyi apa apa, hanya mengubah tanggal pembayaran saja, seharusnya tanggal 5 menjadi tanggal 22 Agustus 2011. Uang yang ditransfer sebesar Rp 27,5 miliar sudah sampai ke tangan pemegang saham awal," ujar terdakwa.

Sedangkan akta 98 menurut terdakwa,  merupakan persoalan internal dari Conti dan para pemegang saham lainnya. Dan pemegang saham lama ada pernah mengajukan gugatan ke Conti untuk membatalkan akta. Isi akta 98 adalah membatalkan akta nomor 89 atas permintaan pemegang saham lama yakni Andreas Sie. Di akta 98 terdakwa mengaku tidak terlibat sebagai salah satu pihak yang ikut bertanda tangan.

Dan juga dari akta 98 muncul akta nomor nomor 3,4, dan 5.

" Akta 98 membatalkan akta 89 itu saya keberatan. Sebab saya sudah membayar pembelian saham itu dan sudah diterima uangnya oleh pemegang saham lama. Sementara akta 99 atas permintaan Conti, dibuatlah untuk mengikatkan diri mereka menandatangani akta jual beli kepada Bank Panin. Isi akta 99 itu hanya mengikatkan diri untuk menandatangani akta AJB, tidak ada soal harga di akta 99 itu atau jual beli," terangnya.

Lanjut terdakwa, Tanggal 2 Desember muncul akta nomor 2. Dalam rapat di akta nomor 2, dengan agenda pengunduran diri Sutriswi, Wie Meng dan Hasan serta perubahan susunan direksi dan dan komisaris. Penjualan seluruh saham Sutriswi kepada Tjipta, seluruh saham Wie Meng ke Tjipta, penjualan saham dari Hasan ke Tjipta, dan perubahan susunan pengurus perseroan.

Pembacaan dan pembuatan akta nomor dua diakui terdakwa, yang juga hadir di hadapan notaris. Setelah semua menyetujui menjual saham ke terdakwa, langsung dibuat AJB. Dari akta nomor dua timbul lagi akta jual beli antara penjual saham dengan terdakwa, bukan dengan Conti yakni di akta nomor 3, 4 dan 5.

Dari akta 3, 4 dan 5 ini timbul akta lain lagi. Dengan adanya akta 3, 4 dan 5, status kepemilikan saham beralih ke Tjipta selaku pembeli. Ada dua tahap terdakwa membeli saham sampai memiliki 1.093 lembar saham. Pertama dinyatakan di akta 3, 4 dan 5 sebanyak 203 lembar saham, termasuk saham Andreas Sie di akta 54, ditambah lagi 15 persen yang saham dari Conti.

Dari semua saham yang dimiliki, terdakwa
membeli seharga Rp 40 miliar. Apakah terdakwa pernah menjual apartemen di BCC, diakui terdakwa dia tak pernah sama sekali menjual apartemen.

Terdakwa juga menegaskan pihaknya sempat mengundang Conti sebanyak empat kali untuk mengikuti rapat, tapi tak juga datang karena Conti tak mengakui kepengurusan kami di PT. BMS yang mengelola Hotel BCC.

" Untuk menutupi utang atau membayar utang ke Bank Panin, kami yang menutupinya dengan membayar perbulannya sebanyak Rp 2 miliar. Dan sampai saat ini pembayaran ke Bank Panin yang saya bayar, sudah mencapai Rp 40 miliar," kata terdakwa lagi.

Meski Conti yang merupakan salah satu pemegang saham selain terdakwa tak hadir, RUPS harus tetap jalan.

" Jadi sayalah yang berinisiatif sekaligus memimpin RUPS itu. Sejak bulan Mei 2013, Conti sudah tak mau memenuhi undangan RUPS yang kami kirimkan," terang terdakwa.

Dengan apa yang selama ini yang dituduhkan Conti ke terdakwa, dengan  mengusir Conti untuk datang ke Hotel BCC, dibantah terdakwa. Justru sebaliknya Conti
mendadak datang dengan membuat onar bersama sekelompok massa pendukungnya, ke Hotel BCC yang membuat seluruh pengunjung hote ketakutan waktu itu.

Sementara itu, Hendie Devitra SH yang didampingi Sabri Hamri SH, selaku kuasa hukum terdakwa bertanya ke terdakwa, apa sebenarnya yang terjadi sehingga tercerai berai urusan keuangan hotel, tak mau dimintai pertanggung jawaban.

Hal itu dijawab oleh terdakwa, kejadian tersebut berawal dari pertama waktu Conti mengatakan mau mengundurkan diri.

" Saya lantas mengangkat Winston sebagai direktur. Yang kedua Conti mau menjual lagi saham yang 12,5 persen itu, dan saya keberatan membelinya. Soalnya begini, coba bayangkan yang 72,5 persen saham yang dimiliki empat orang, dia cuma baru membayar modal Rp 6,5 miliar. Itu sudah diakui oleh semua pemegang saham yang menjual. Dan Rp. 21 miliar dikembalikan ke Conti. Itu menjadi keuntungan Conti atau apa saya tidak tahu. Terus kedua kalinya Conti menjual 15 persen saham. 15 persen itu sudah pegang Rp 10, 5 miliar. yang punya 72,5 persen baru dapat Rp 6,5 miliar," terang terdakwa.

Lantas kenapa Conti sampai keluar dari posisinya, tak setuju diganti, tak mau datang ke PT, tak mau menghadiri RUPS lagi, sampai bikin gugatan, itu apa sebetulnya yang menjadi alasan Conti, lanjut Hendie.

Menurut terdakwa, karena Conti mau jual sahamnya itu 12,5 persen dengan harga tinggi Rp. 3 miliar satu persennya. Berarti kalau 12,5 persen saham itu mau dijualnya Rp. 37,5 miliar, itu yang terdakwa tak mau membeli saham Conti.

Sementara soal nilai jual keempat orang pemilik saham di akta 3, 4 dan 5 itu yang menentukan harga sahamnya, ditegaskan terdakwa termasuk juga Conti ikut menentukan.

Di akhir persidangan, terjadi perdebatan keras antara hakim ketua bersama Jaksa Penuntut Umum (JPU) Filpan F. D Laia SH, MH untuk memohon kebijaksanaan ke hakim ketua, karena hakim ketua PN Batam itu, hanya memberikan waktu yang singkat, hanya 3 hari untuk JPU membuat tuntutan.

" Bagaimanapun fakta keterangan terdakwa kan baru kita dengar hari ini, dan belum kita lihat juga keterangan dari saksi ad a chartsnya. Tentu kan kami masukkan dalam tuntutan kami nantinya. Kalau dibatasi begini, kami mohon kebijakannya yang mulia, " kata Filpan.

" Dan kami keberatan yang mulia mengatakan, kalau JPU yang mengulur saksi. Kita bisa lihat rekordnya, kami sudah pernah datangkan ahli tiga orang, tapi diperiksa satu saja. Dan ingat itupun diperiksa siang hari. Kami juga ingin cepat, tetapi jangan dibatasi juga kami dengan waktu yang hanya seminggu," pungkas  Filpan FD Laia kepada majelis hakim ketua Tumpal Sagala SH.



(Red/Afinast).
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya