» » » » Filpan F.D. Laia SH, MH : Sidangnya di Tunda, Bukan Berarti Kita Mengulur - Ulur Waktu, Tapi Kita Sudah Berusaha Yang Terbaik

Filpan F.D. Laia SH, MH : Sidangnya di Tunda, Bukan Berarti Kita Mengulur - Ulur Waktu, Tapi Kita Sudah Berusaha Yang Terbaik

Ditulis Oleh: Redaksi | Jumat, 07 September 2018 | No comments






Batam, BR - Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Batam menunda sidang terdakwa Tjipta Fudjiarta, yang tersangkut dalam perkara dugaan tindak pidana penipuan, penggelapan dan pemalsuan surat di PT. Bangun Megah Semesta, karena Jaksa Penuntut Umum belum siap dengan tuntutannya.

Kepala Seksi Pidana Umum (Kasi Pidum) Kejaksaan Negeri Batam, Filpan Fajar D. Laia, SH. MH ketika dikomfirmasi terkait penundaan tersebut mengatakan, bahwa pihaknya sudah berusaha yang terbaik untuk mempersiapkan sebuah tuntutan.

" Sidangnya ditunda, bukan berarti kita mengulur-ulur waktu, tapi kita sudah berusaha yang terbaik. Seperti kita ketahui inikan perkara penting, kami harus mempersiapkan dalil-dalil untuk pembuktian di persidangan," kata Filpan. Jumat (7/9).

Menurutnya, pihaknya hanya dikasih waktu beberapa hari oleh hakim untuk mempersiapkan tuntutan, setelah acara pemeriksaan saksi-saksi.

" Perlu juga diketahui, mulai dari acara pemeriksaan, kita cuma dikasih waktu beberapa hari saja, ” terang Filpan.

Filpan juga menjelaskan, pada sidang yang sebelumnya akan digelar pada hari Rabu (5/9) lalu,  dimana saksi ahli A de Charge (meringankan) tidak bisa datang. Ada keterangan saksi ahli A de Charge yang lain, yakni pada sidang hari Senin (3/9) kemarin, dan keterangan saksi ahli itu harus dimasukkan ke dalam tuntutan.

" Karena menunggu keterangan saksi ahli A de Charge untuk kita masukkan ke dalam tuntutan. Tentu kita akan susun semua. Kalau hanya dari satu sisi kita bahas, kan tidak objektif! Jadi semuanya harus kita bahas mengacu kepada dakwaan yang kami sampaikan dalam persidangan pertama,” jelasnya.

Nantinya kata Filpan,sebelum pembacaan tuntutan, pihaknya akan mengirimkan tuntutan ke penasehat hukum terdakwa, supaya juga punya waktu untuk mempersiapkan pembelaannya (pledoi).

" Kalau bisa kita siapkan (tuntutan) pada hari Senin atau Selasa, kita kasih dulu ke Penasehat Hukum supaya bisa disiapkan Pledoinya. Mana tahu habis baca tuntutan, PH hari itu juga bisa membacakan Pledoinya juga, itu kan bagus,” ucapnya.

Filpan menegaskan, bahwa pihaknya tidak mengalami kendala, tapi memerlukan kajian-kajian berdasarkan alat bukti persidangan dalam mempersiapkan tuntutan.

" Pembuatan (tuntutan) itu kan bukan copy paste, tapi memerlukan kajian-kajian berdasarkan alat bukti persidangan, dan kajian menurut pandangan kami sebagai penuntut umum,” ungkap Filpan lagi.

" Dan itu memerlukan waktu yang tidak bisa terburu-buru. Kalau buru-buru nanti sifatnya bukan objektif lagi, tapi subjektif," lanjut Filpan.

Ia menambahkan, bahwa secara teknis juga pihaknya tidak mengalami kendala dalam mempersiapkan tuntutan.

" Secara teknis juga tidak ada kendala, memang itulah tugas kita. Kewajiban kita untuk patuh kepada hukum yang telah dibuat dalam hukum acara, dan juga azas dari penegakan hukum itu yaitu cepat, singkat dan biaya yang ringan. Sehingga terjadi yang namanya kepastian hukum itu sendiri,” jelasnya.

Harapannya, lanjut Filpan, kepastian hukum akan dipertimbangkan Majelis Hakim dari dua sisi, untuk nanti akan diputuskan, apa keputusan dari penanganan perkara ini.

" Terhadap putusan dari pengadilan tingkat pertama tidak puas, dapat melakukan banding. Putusan pengadilan tinggi tidak puas dapat melakukan kasasi. Eksekusi akan dilakukan setelah putusan incraght atau berkekuatan hukum tetap, namun apabila ada novum baru bisa mengajukan PK (Peninjauan Kembali) ,” kata Filpan.

Filpan juga berharap, para pihak bisa menahan diri dan menghormati hukum itu sendiri, serta belajar memahami dari semua sudut pandang.

" Jangan pernah melihat dari sudut pandang yang diyakini hanya itu saja, tapi coba melihat sudut pandang yang dibuka di persidangan, sehingga objektif,” ujarnya.

" Selagi perkara ini belum incraght, tolong jangan membuat suatu statement atau tindakan, seakan-akan putusan pengadilan tingkat pertama sudah dianggap incraght. Sebelum ada pernyataan dari Jaksa selaku penuntut umum, yang menyatakan incraght, perkara ini belum incraght. Sehingga para pihak harus menghormati. Kalau sudah incraght baru kita menjawab apa adanya atau bagaimana,” pungkas Filpan.

Seperti sama - sama diketahui, sidang  perkara terdakwa Tjipta Fudjiarta yang digelar pada hari ini. Jumat (7/9) ditunda oleh majelis hakim PN Batam, yang diketuai oleh Tumpal Sagala SH, dengan dua hakim anggotanya, Taufik SH dan Yona Lamerosa Ketaren, SH, dikarenakan JPU belum siap dengan tuntutannya, sehingga sidang akan digelar kembali, pada Rabu (12/9) mendatang.



(Red/Afinast).



Baca Juga Artikel Terkait Lainnya