» » » » Johnson Min : Kata Conti Chandra, Tjipta Fudjiarta Itu Orang Baik

Johnson Min : Kata Conti Chandra, Tjipta Fudjiarta Itu Orang Baik

Ditulis Oleh: Redaksi | Sabtu, 01 September 2018 | No comments








Batam, BR – Penasehat Hukum terdakwa Tjipta Fudjiarta hadirkan dua orang saksi A de charge (meringankan) pada lanjutan sidang perkara dugaan tindak pidana penipuan atau penggelapan dan pemalsuan surat di PT. Bangun Megah Semesta (BMS) yang masih bergulir di Pengadilan Negeri Batam, Jumat (31/8) pagi.

Dalam sidang yang masih dipimpin oleh Tumpal Sagala SH ini, saksi dari PH terdakwa, yakni Umar Witaryo dan Jhonson Min beberkan semua apa yang mereka ketahui, terkait permasalahan yang ada di PT. BMS selaku pengelola Hotel BCC kepada majelis hakim.

Dalam keterangannya, saksi Umar mengaku sudah mengenal terdakwa selama 15 tahun sebagai tokoh masyarakat di Medan dan sama-sama bergabung di Lions Club.

" Saya kenal (terdakwa) sebagai tokoh masyarakat di Medan, kita satu club juga namanya Lions Club. Kita juga dirikan Sumatera Tea Club, Dia jadi ketua kami," kata Umar menjawab pertanyaan PH terdakwa.

Saksi Umar melanjutkan, pada bulan April 2011 pernah diajak terdakwa ke Penang (Malaysia) untuk melihat sebuah hotel yang mau di take over.

" Kita pergi bersama - sama ke Penang, tapi tak jadi take over nya, karena sudah dipanjarin sama orang lain,” terangnya.

Terus lanjut saksi, beberapa bulan kemudian ada anggota Lions Club, namanya Hutabarat yang menawarkan tanah di Batam kepada terdakwa, tapi tidak jadi juga.

" Setelah tak jadi beli tanah di Batam ini, pada bulan Oktober 2011 kami di club diundang beliau (terdakwa) untuk soft opening BCC Hotel, karena sudah jadi beli hotel di Batam. Dan kami pun ramai-ramai datang ke Batam, menginap di Hotel BCC 3 malam,” jelasnya.

Menurut saksi Umar, saat soft opening BCC Hotel tersebut, terdakwa memperkenalkan Conti Chandra sebagai partner di BCC Hotel, dan Conti sempat memperkenalkan partner lama dia yang menjual sahamnya ke terdakwa waktu itu.

" Ini partner saya di Hotel BCC (Conti) ," kata saksi lagi menirukan perkataan terdakwa.

Saksi juga mengatakan, saat soft opening BCC Hotel itu, dihadiri oleh ratusan tamu undangan termasuk Wali Kota Batam.

" Peresmiannya meriah, ada gunting pita dari pak Wali. Waktu itu hubungan pak Tjipta dengan Conti masih bai-baik karena mereka adalah partner," ungkap saksi.

Dikatakan saksi lagi, antara Conti Chandra dengan terdakwa masih ada hubungan keluarga. Karena Conti mengalami kesulitan uang, Tjipta diajak bergabung ke perusahaan (PT.BMS). Beliau (terdakwa)  kami panggil sebagai ' Toke Hotel '.

Lanjutnya, sebenarnya mereka itu 5 orang (pemegang saham), karena diantara pemegang saham ada ribut, jadi 4 lawan 1. Barulah dia (Conti) ke Medan cari pak Tjipta,” terang Umar lagi.

Sementara itu saksi Jhonson Min dalam keterangannya, mengaku sudah mengenal terdakwa lebih dari 10 tahun. Saksi dan terdakwa memiliki hubungan dagang atau usaha dan bergabung di beberapa organisasi yang sama.


" Beliau (terdakwa) ini adalah tokoh masyarakat di Medan. Di organisasi Lions Club dia (terdakwa) sebagai ketua tertinggi," kata Jhonson.

Lanjutnya, dalam hubungan usaha dengan terdakwa, saksi mengaku sering berinvestasi bersama-sama, diantaranya beli Ruko di Polonia dan beli rumah walet di Aceh, juga jual beli emas. Semua jual beli selalu berjalan lancar dan menguntungkan.

Saksi juga mengaku, membeli satu unit apartemen di BCC Hotel pada tahun 2011 setelah ditawarkan oleh terdakwa.

" Saya sudah beli hotel di Batam namanya BCC, masih ada beberapa Condo (apartemen) mau dijual, kamu mau ikut invest (investasi) tidak? " kata saksi menirukan perkataan terdakwa saat itu.

Atas tawaran tersebut, sekitar 1-2 bulan kemudian saksi datang ke Batam bersama terdakwa untuk survei ke BCC Hotel.

" Saat itu saya dikenalin sama terdakwa kepada pak Conti. Seharian di Batam saya ditemani Conti, " ujar Johnson.

Menurut saksi, Conti pernah mengakui telah ditolong oleh terdakwa, karena bersedia investasi di BCC Hotel. Kalau tidak terdakwa yang beli, Conti sudah dikeluarin oleh teman kongsinya.

" Saya kali ini ditolong oleh pak Tjipta. Pak Tjipta itu orang baik,” ujar saksi menirukan perkataan Conti saat itu.

Hendie Devitra SH yg didampingi Sabri Hamri SH, selaku PH terdakwa di dalam sidang menanyakan kepada saksi, apakah pernah Conti Chandra merasa tertolong karena terdakwa bantu pinjamkan uang.

" Tidak ada, karena dari mula pak Tjipta bilang sudah beli hotel,” jelas saksi.

Saksi juga mengakui, akhirnya jadi melakukan investasi dengan membeli satu unit (Condominium) di BCC Hotel.


" Saya datang ke Batam bersama isteri. Pak Conti kemudian ajak ke kantor dan kita teken PPJB (Perjanjian Perikatan Jual Beli),"  terang Johnson.

Saksi juga mengaku, berminat membeli apartemen di BCC Hotel, karena terdakwa (Tjipta) sudah membeli hotel tersebut dan bangunannya bagus.

" Pertama kali kita lihat terdakwa sudah beli hotelnya, bangunannya bagus, waktu kita datang dikasih tau pak Conti perkembangan Batam yang dekat dengan Singapura dan dalam beberapa tahun harga akan naik," jelasnya.

Menurut saksi, Perjanjian Perikatan Jual Beli (PPJB) terkait pembelian satu unit apartemenseharga 190.000 SGD tersebut, dilakukan antara isteri saksi dan Conti Chandra selaku Direktur PT. BMS.

" Saya tanya pak Conti pembayaran mau dikirim kemana. Katanya kirim ke rekening Conti (rekening pribadi), ada buktinya," kata saksi ketika ditanya soal pembayaran.

Selanjutnya kata saksi, sekitar dua tahun kemudian dilakukan penandatanganan Akta Jual Beli (AJB) di Kantor Notaris Syaifuddin.

" Waktu itu saya lihat pak Conti sudah tidak ada di hotel, kita datang ke notaris Syaifuddin untuk tandatangan AJB. Waktu itu Winston dikenalkan pak Tjipta sebagai Direktur baru (PT.BMS),” jelasnya.

Saksi mengaku, hingga saat ini belum menerima sertifikat apartemen yang dibelinya tersebut, karena Conti Chandra membuat surat pemblokiran ke BPN Batam.

JPU menanyakan kepada saksi soal PPJB yang dibuat dengan Conti Chandra, sementara AJB dibuat dengan Winston, tapi belum dapat sertifikat lalu meminta pertanggungjawaban kepada terdakwa.

" Karena sampai sekarang saya mau jual (apartemen) tidak bisa,” terangnya.

Meski pernah meminta pertanggungjawaban kepada terdakwa, terkait sertifikat apartemen tersebut, terdakwa mengatakan sabar, nanti pasti akan diselesaikan. Saksi mengaku masih menghargai terdakwa.

“Kita sudah teman baik. Kita masih segan, beliau (terdakwa) ketua kita pak,” pungkas Jhonson kepada Hakim.


(Red/Afinast).

Baca Juga Artikel Terkait Lainnya