» » » » » » Jaksa Tuntut Mati 4 Warga Taiwan Pembawa Sabu 1,037 Ton

Jaksa Tuntut Mati 4 Warga Taiwan Pembawa Sabu 1,037 Ton

Ditulis Oleh: Redaksi | Rabu, 31 Oktober 2018 | No comments





Batamreport.com - Chen Chung Nan, Chen Chin Tun, Huang Ching An dan Hsieh Lai FU, empat warga negara asing (WNA) asal Taiwan, terdakwa penyelundupan sabu seberat 1,037 ton dituntut hukuman mati oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam persidangan di Pengadilan Negeri Batam, Selasa (30/10). siang. 
Keempatnya dengan menggunakan Kapal KM. Sunrise Glory berbendera Singapura, ditangkap oleh Jajaran Lanal Batam, yakni Kapal Patroli KRI Sigurot-864 di perairan Selat Philips -Kepulauan Riau pada (7/2) beberapa bulan yang lalu. 
Tuntutan tersebut, dibacakan oleh Jaksa dari Kejagung, Albina Dita Prawira, Nur Surya serta dua Jaksa dari Kejari Batam yakni Dedie Tri Hariyadi dan Filpan FD Laia.
Dalam tuntutannya, JPU Filpan menuntut hukuman maksimal, yakni hukuman mati kepada keempat terdakwa, karena terbukti melanggar Pasal 114 ayat 2 jo pasal 132 ayat 1 UU 35 Tahun 2009 tentang narkotika.

" Berdasarkan seluruh keterangan saksi yang dihadirkan, berikut keterangan saksi ahli, semua menyatakan perbuatan terdakwa terbukti bersalah. Dalam persidangan terungkap adanya alasan pemaaf atau pembenar. Begitu juga dengan analisa fakta persidangan, serta dukungan barang bukti dan saksi serta saksi ahli, ” kata JPU.
JPU menahbahkan, perbuatan keempat terdakwa mengakibatkan nama negara Indonesia menjadi buruk citranya di dunia internasional. Seolah-olah Indonesia jadi lahan empuk peredaran narkotika. Selama persidangan, keempat terdakwa juga tak mengakui perbuatannya menyelundupkan atau membawa 1 ton lebih sabu-sabu masuk ke Indonesia.
“ Untuk hal yang meringankan terdakwa, tidak ada.Terdakwa sendiri terbukti membawa atau menyelundupkan masuk narkotika jenis sabu-sabu sebanyak 1 ton, 37 gram ke wilayah Indonesia dengan melawan hukum, yakni membawa narkotika melebihi 5 gram, " ungkap JPU.
Setelah mendengarkan tuntutan JPU, Ketua Majelis Hakim, M Chandra didampingi Hakim Anggota Yona Lamerossa Ketaren dan Redite Ika Septina menunda persidangan, hingga seminggu kedepan untuk mendengarkan pledoi atau nota pembelaan dari penasehat hukum.

(Red/Aidil). 

Baca Juga Artikel Terkait Lainnya