» » » » » Intan : Siap Bantu Kejaksaan, Ungkap Suatu Kasus Besar Terkait Dugaan Tindak Pidana Korupsi di Batam

Intan : Siap Bantu Kejaksaan, Ungkap Suatu Kasus Besar Terkait Dugaan Tindak Pidana Korupsi di Batam

Ditulis Oleh: Redaksi | Kamis, 06 Desember 2018 | No comments





Batam, BR - Saat digelarnya konfrensi pers oleh pihak Kejaksaan Negeri (Kejari) Batam, terpidana Hamidah Asmara Intani Merialsa Alias Intan, mengaku tidak melarikan diri (DPO) atas perkara pemalsuan dokumen kapal MV Engedi yang menjeratnya saat ini. 
Hamidah alias Intan mengungkapkan, bahwa dirinya tidak lari maupun DPO, karena saat itu ia sudah keluar dari Pengadilan dan bebas, dan mungkin saja Pengacaranya yang mengajukan banding, namun begitu ia kurang paham, dan sampai akhirnya ada putusan dari Pengadilan Tinggi dan Intan mengaku juga tidak mengetahuinya. 
Intan juga mengaku, pindah alamat karena terlilit utang di salah satu Bank, sehingga mengharuskan untuk pindah dari alamatnya yang lama. Meski demikian, Intan masih memeliki KTP Batam dan masih bolak-balik ke Batam.
" Saya tidak mengetahui adanya surat panggilan dari Kejaksaan. Ketika saya mengurus ibu saya yang sedang sakit di Tasikmalaya, tim kejaksaan datang dan menjemput saya, saya ikut saja,” kata Intan. Kamis (6/12). 
Meskipun saat ini, Intan masih terjerat dalam kasus yang menimpanya, ia mengaku siap membantu pihak Kejaksaan, untuk mengungkap suatu kasus besar, terkait dugaan tindak pidana korupsi yang besar di Batam, Kepulauan Riau ini. 

" Saya kan cuma agen, saya dituduh memalsukan dokumen, sedangkan kita sebagai agen waktu mendatangkan kapal itu jelas secara resmi melaporkan ke instansi terkait seperti ke Syahbandar, Bea Cukai dan Imigrasi, " terangnya. 
Sekarang yang dituduhkan ke saya soal pemalsuan dokumen, terus kapalnya mana? kenapa ketika saya 2 minggu di dalam tahanan di Polda, kapal itu kan sudah dipotong di Kabil?.. tambah Intan. 
Intan mengatakan, kapal Eagle Prestige itu telah dipotong (scraph) di wilayah Kabil, tanpa sepengetahuan dia sebagai agen. 
" Kenapa kapal itu dipotong tanpa sepengetahuan saya sebagai agen?, padahal saya membayar ke negara selama bertahun-tahun loh, " tegasnya.
Intan mengaku membawa dokumen waktu kapal Eagle Prestige dibawa dari Singapura.
" Waktu kapal itu datang, otomatis saya kan pasti bawa dokumen dari Singapura. Tidak mungkin kapal sampai 4 tahun baru diproses dan dibilang dokumen palsu,” ujarnya.
Saat ditanya soal oknum - oknum yang terlibat,  ia mengaku sudah membayar resmi tapi tidak sampai ke negara. 
" Saya kan sudah membayar secara resmi tapi tidak sampai ke negara, otomatis saya kembali bayar ulang,” bebernya.
Intan juga mempertanyakan kenapa pihak-pihak yang mencuri kapal tidak diproses hukum.
" Kenapa harus ke saya?, sedangkan kapalnya dipotong, kenapa yang mencuri kapal tidak diadili?, kenapa orang yang menadah besi itu tidak diadili. Pasti ada oknum-oknum pejabat yang menggeser kapal itu dari Janda Berhias ke Kabil. Kenapa kapal itu bisa bergeser ketika saya 2 minggu ditahan di Polda,” imbuhnya.
Kepala Kejaksaan Negeri Batam, Dedie Tri Hariyadi mengatakan, bahwa keterangan dari terpidana Intan merupakan langkah awal, bagi Kejaksaan untuk melakukan pendalaman.
" Keterangan ibu Hamidah sangat membantu kami, ini langkah awal kami untuk mendalaminya terus. Seandainya yang disampaikan faktanya benar, kita akan yang bersangkutan jadi Justice Collaborator,” kata Dedie.
Menurut Dedie, terpidana Intan juga akan diajukan ke Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) jika tim penyelidik menyimpulkan fakta yang disampaikan benar.
" Di dalam perkara hukum, kami tidak ada tebang pilih, tidak ada pandang bulu. Dalam penegakan hukum, siapa pun yang bersalah kita dudukan posisinya bersalah, " terangnya. 
Dedie menegaskan bahwa pihaknya akan mendalami keterangan dari terpidana Intan.
" Kita akan dalami. Kita tunggu tanggal mainnya,” pungkasnya.

(Dil). 

Baca Juga Artikel Terkait Lainnya