HEADLINE

4 Tersangka dan Barang Bukti Sabu 1,622 Ton Dilimpahkan Ke Kejari Batam






Batam, BR - Kejaksaan Negeri (Kejari) Batam terima pelimpahan tersangka dan barang bukti perkara narkoba 1,622 ton jenis sabu dari Mabes Polri dan Kejagung. kamis (21/6). 

Hal ini diterangkan Kabid Humas Polda Kepri Kombes Pol Drs. S Erlangga, melalui siaran persnya, yang diterima Batamreport. com.

" Acara Press Release Pelimpahan tersangka dan barang bukti perkara Narkoba 1,622 Ton jenis Shabu dilaksanakan di kantor kejaksaan Negeri Batam, " kata Erlangga.

Lanjutnya, acara pelimpahan tersangka dan barang bukti itu, dihadiri oleh Kapolda Kepri Irjen Pol Drs. Didid Widjanardi, Sh, Dirnarkoba pada Jampidum, Dir IV Bareskrim Mabes Polri, Koordinator eselon 2 pada jampidum, Kajari beserta staf Kejari Batam.

" Nama - nama para tersangka tersebut, yakni CHEN HUI, CHEN YI,  : CHEN MEI SENG, dan YAO YIN FA, kesemuanya warga negara Taiwan, " ujarnya.


Erlangga juga menambahkan, adapun barang bukti yang dilimpahkan berupa :

2 (dua) gram brutto serbuk Kristal diduga Shabu untuk pembuktian perkara dipersidangan.
1 (satu) unit Kapal Laut MV MIN LIAN YU YUN 61870.
4 (empat) Unit Alat Navigasi Kapal.
1 (satu) unit telepon satelit.
1 (satu) unit auto pilot Kapal.
1 (satu) lembar foto coopy Passport identitas tersangka CHEN MEI SHENG.\
1 (satu) bendel foto copy dokumen Kapal.
5 (lima) unit Handphone.
1 (satu) unit bungkus plastic berisikan plastic kosong.
1 (satu) unit timbangan digital.
4 (empat) bendera, bendera Negara Singapura, Bendera Negara RRC, Bendera Negara Indonesia dan Bendera Negara Thailand.

Sedangkan Tindak Pidana dan pasal yang disangkakan kepada empat tersangka tersebut, adalah Tindak pidana Pengedaran Narkotika, sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika, Pasal 114 ayat (2) juncto pasal 132 ayat (2) dan Pasal 112 ayat (2) juncto pasal 132 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman maksimal hukuman mati.

" Sebelum dilimpahkan ke Kejari Batam, Pada tanggal 4 Mei 2018 lalu, telah dilakukan pemusnahan barang bukti narkoba jenis Shabu tersebut, yang dihadiri oleh Bapak Wakil Presiden Republik Indonesia, Anggota DPR RI, Kepala BNN Sekarang dan sebelumnya, Kepala Dirjen Bea dan Cukai dan dihadapan awak media cetak dan elektronik serta dihadapan para tersangka" terang Erlangga.

Perincian barang bukti narkoba yang dimusnahkan tersebut adalah :

81 (Delapan puluh satu) karung goni warna hijau berisi kristal putih diduga Narkotika jenis shabu seberat 1,622 ton / 1.622.000 (satu juta enam ratus dua puluh dua ribu) gram brutto yang telah disisihkan seberat 1.000 (seribu) gram brutto dikirim ke laboratorium Forensik Mabes Polri dan sisanya seberat 1.621.000 (satu juta enam ratus dua puluh satu ribu) gram dengan rincian :

1.620.998 (satu juta enam ratus dua puluh ribu sembilan ratus sembilan puluh delapan) gram brutto serbuk kristal diduga shabu dan sisa hasil dari Puslabfor untuk dimusnahkan.

2 (dua) gram brutto serbuk kristal diduga shabu dijadikan pembuktian perkara.
Sesuai surat ketetapan yang dikeluarkan Kejaksaan Negeri Batam.

" Dari barang bukti yang dimusnahkan itu, maka kita dapat menyelamatkan 8 juta anak bangsa dari penyalahgunaan narkoba, " pungkas Erlangga.



(Red/Aidil). 



Lanal Batam Tertibkan Speedboat Yang Tak Penuhi Standar Keselamatan Saat Arus Mudik Lebaran






Batam, BR - Pangkalan TNI Angkatan Laut Batam bekerjasama dengan aparat terkait,  melaksanakan penertiban speedboat angkutan mudik lebaran yang tidak memenuhi syarat dan standar keselamatan di pelabuhan tidak resmi Tanjung Uma Kec. Lubuk Baja kota Batam, pada Kamis 14 Juni 2018.

Penertiban bermula adanya informasi dari masyarakat, terkait pemberangkatan para penumpang mudik lebaran yang berangkat dari Batam dengan tujuan daerah lain di luar Batam, yang menggunakan sarana speedboat berangkat melalui pelabuhan tidak resmi/pelabuhan tikus.

Dengan adanya informasi tersebut, selanjutnya Tim dari Lanal Batam melaksanakan pemantauan terhadap aktifitas tersebut dan pada Selasa, 12 Juni 2018 sekitar pukul 17.00 Wib, disalah satu Pelabuhan Tikus di wilayah Tanjung Uma didapati adanya speedboat yang sandar dan rencanaya nya akan disiapkan untuk mengangkut  penumpang yang akan mudik lebaran.

" Setelah dilaksanakan pengecekan dan penggeledahan terhadap speedboat, diketahui speedboat tersebut bernama SB Berkat Illahi 04, dengan Nahkoda Sdr Sukiman, SB Ocean Reanth dengan nahkoda Sdr. Ali dan SB Wirta Express dengan nahkoda Sdr Syahril dan SB Tanpa Nama dengan nahkoda Sdr. Syahril " kata Dan Lanal Batam, Kolonel Laut (E) Iwan Setiawan SH dalam press rilisnya yang dikirimkan ke Batamreport. com. Senin (18/6).

Ia juga mengatakan, dalam hasil pemeriksaan terhadap dokumen yang ada di atas kapal, terdapat Pas kecil dan Sertifikat keselamatan yang masih berlaku.

" Dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh speedboat antara lain, speedboat telah melakukan kegiatan menaik turunkan penumpang mudik lebaran bukan pelabuhan resmi penyeberangan penumpang, alat keselamatan yang terdapat pada speedboat tidak sesuai dengan jumlah penumpang, dokumen speedboat sebagian sudah tidak berlaku lagi dan SPB tidak ada serta penumpang melebihi kapasitas terlebih manifest penumpang juga tidak ada, " ujar orang nomor satu di Lanal Batam tersebut.

Selanjutnya Lanal Batam melarang ke empat speedboat tersebut untuk melaksanakan pelayaran, dan seluruh penumpang yang sudah berada diatas speed diturunkan, selanjutnya pihak agen sanggup mengembalikan biaya pembelian tiket kepada para calon penumpang sesuai biaya pembelian, sedangkan terkait kegiatan tersebut, belum adanya instansi terkait lainnya yang ikut menangani permasalahan penumpang mudik melalui pelabuhan pelantar Tanjung Uma (pelabuhan tidak resmi).

Dalam hal ini, Danlanal Batam Kolonel Laut (E) Iwan Setiawan, S.H., menyampaikan,  bahwa penertiban oleh Lanal Batam terhadap speedboat yang melanggar aturan, baik dokumen maupun  keselamatan akan terus ditindak tegas.

" Hal tersebut bertujuan untuk mencegah terjadi kecelakaan laut, yang dapat merugikan para pemudik, " pungkas Danlanal tersebut.


(Red/Aidil).

Anly Cenggana : Pembuatan Seluruh Akta Atas Permintaan Conti Chandra







Batam, BR - Pengadilan Negeri (PN) Batam kembali menggelar sidang terdakwa Tjipta Fudjiarta, yang terjerat dalam perkara penipuan dan pemalsuan surat - surat di BCC Hotel seperti yang dituduhkan seterunya Conti Chandra. 

Sidang yang beragendakan masih mendengarkan keterangan saksi ini, digelar di ruang utama PN Batam dengan Majelis Hakim yang diketuai Tumpal Sagala SH yang didampingi hakim anggota Taufik SH dan Yona Lamerosa Ketaren SH.

Setelah sempat ditunda senin lalu (28/5),  karena terkait izin dari Majelis Kehormatan Notaris, kembali Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan saksi Anly Cenggana SH, selaku notaris yang menerbitkan Akta RUPS dan Jual beli Saham PT. Bangun Megah Semesta (PT.BMS) .

Dalam kesaksiannya dihadapan majelis hakim, JPU dan PH terdakwa, Anly menjelaskan pada awalnya Conti Chandra dan pemegang saham lama, datang kepada saksi untuk mendirikan PT.BMS dan dibuat Akta No. 13 tgl. 19 Oktober 2007 dengan komposisi saham : Conti 77 saham (27,5%), Wie Meng 84 (30%) Hasan 77 (27,5%) Andreas Sie 28 (10%) dan Tony 14 saham (5%).

Saham Tony 14 saham kemudian dijual kepada Sutriswi dengan akta no. 47 tgl. 17 Janjari 2011.

Sejak pendirian PT. BMS saksi sering diminta sebagai notaris yang membuat akta - akta RUPS sampai dengan terakhir akta no. 33 tgl. 18 Februari 2012 tentang peningkatan modal perseroan PT.BMS, semuanya ada sekitar 20 Akta PT.BMS yang dibuat oleh saksi Anly Cenggana tersebut.

" Secara kronologis urutan akta, yang awalnya menurut Akta No.10 tanggal 07 Juli 2011, para pemegang saham sepakat Conti Chandra akan mengambil alih sepenuhnya saham - saham dari para pemegang saham , yakni Wie Meng CS apabila telah mendapatkan pendamping " terang saksi Anly saat ditanya JPU mengenai peralihan saham PT. BMS.

Lanjutnya, namun kemudian Akta No. 10 tersebut dibatalkan dengan Akta No. 70 tanggal 19 Juli 2011, yang isinya Conti Chandra belum siap untuk mengambil alih dan/atau mencari investor, untuk masuk ke dalam perseroan, dan selanjutnya para pemegang saham mengambil keputusan Conti Chandra dan Wie Meng akan mengundurkan diri.

Menurut saksi juga, pada tanggal 25 Juli 2011, Conti Chandra meminta dirinya membuat kembali akta pengalihan saham dan dibuat Akta No. 89 tgl. 27 Juli 2011, dimana para pemegang saham sepakat Conti Chandra akan mengambil alih sepenuhnya saham - saham para pemegang saham, yang berjanji dan mengikatkan diri untuk menandatangani akta pelepasan pengurus dan jual beli sahamnya, apabila Conti Chandra sudah mendapatkan pendampingnya.

Mengenai maksud pendamping akta 89 saksi Anly juga menjelaskan, bahwa sama dengan maksud isi akta No. 70 pendamping itu adalah investor atau orang yang akan membeli dan masuk ke dalam perseroan. 

Isi akta No. 89 itu juga memuat jadwal pembayaran, harga saham yang sesuai modal yang dikeluarkan perseroan,  sehingga harga 1 saham senilai Rp. 135.700.000, sehingga total biaya yang akan dibayarkan adalah Rp. 27.547.100.000, yang merupakan saham berikut asset sesuai dengan perincian yang dibuat dan ditandatangani Conti Chandra dan Wie Meng diatas materai.

" Mengenai jadwal pembayaran dirubah dengan Akta No. 1 tgl. 1 Agustus 2011" ujar saksi.

Selanjutnya saksi menjelaskan kembali, bahwa setelah dibuatnya Akta No. 89 dan sesuai dengan jadwal pembayaran dalam  akta no. 1, ia kemudian menerima permintaan pendaftaran semua kwitansi pembayaran yang diterima oleh Wie Meng, berikut juga surat pernyataan para pemegang saham No. 1601 yang isinya mengenai modal masing - masing pemegang saham yang dibayar.

" Setelah selesai pembayaran saya kemudian, diminta oleh Conti Chandra untuk dibuatkan Akta Jual Beli saham, tapi karena saham - saham dalam gadai Bank adanya kredit, maka sebelum dibuat AJB saham harus ada persetujuan dari Bank Panin sebagai kreditur " ungkapnya.

Kembali dijelaskan lagi oleh saksi Anly Cenggana, bahwa dalam surat permintaan persetujuan kepada Bank Panin yang dibuat oleh Conti Chandra sebatai Dirut PT. BMS, permohonan persetujuan itu terkait pengalihan saham kkepada Tjipta Fudjiarta yang akan masuk ssebagai komisaris PT.BMS ada disebut dalam surat yang dibuat Conti.

" Setelah adanya persetujuan bank, Conti Chandra meminta saksi utk membuat Akta RUPS dan AJB, yang kemudian dilaksanakan tgl. 17 November 2011. RUPS pengalihan saham sudah ada sejak tgl. 17 November 2011, jadi bukan baru diketahui tgl 2 Desember 2011, hanya karena salah satu pemegang saham Andreas Sie, tidak hadir maka RUPS ditunda dan tidak memgambil keputusan sesuai isi Akta No. 43 tgl. 17 November 2011 " jelas Anly lagi.

Menurut saksi, tidak hadirnya Andreas Sie telah ditegur oleh Conti, selanjutnya atas permintaan para pemegang saham, dilakukan pembatalan Akta No. 89 tersebut dengan  Akta No. 98 tgl. 30 November 2011, karena ada kesalahan persepsi mengenai hutang perseroan.

" Pada hari yang sama dibuat juga akta no. 99 yang isinya sama dengan isi akta 89, hanya tidak ada angka - angka mengenai harga " terang saksi.

Dilanjutkan saksi, barulah kemudian pada tgl. 2 Desember 2011 para pemegang saham melaksanakan RUPS, mengenai persetujuan pengalihan saham kepada Tjipta Fudjiarta, dan isi Akta No. 2 tgl. 2 Des 2011 adalah melanjutkan RUPS tgl 17 Nov 2011 dan semua pemegang saham hadir, termasuk Tjipta Fudjiarta dan dilangsungkan sekaligus dengan AJB masing Akta No. 3, 4, dan 5 dari Wie Meng, Hasan, dan Sutriswi kepada Tjipta Fudjiarta.

" Namun peralihan saham tersebut tidak terlaksana karena menurut Undang-Undang Perseroan Terbatas, undangan harus disampaikan paling lambat 14 hari sebelum RUPS, dan disisi lain salah satu pemegang saham yaitu Andreas Sie tidak hadir dan telah ditegur oleh conti chandra " beber saksi lagi.

Akhirnya peralihan saham dapat dilaksanakan pada tanggal 2 Desember 2011, berdasarkan Akta RUPS Nomor 2, dan Akta Jual Beli Nomor 3, 4, 5 tetang peralihan saham Wie Meng, Hasan dan Sutriswi kepada terdakwa Tjipta Fudjiarta. Sedangkan peralihan saham Andreas Sie kepada terdakwa, didahului oleh Andreas Sie kepada Conti Chandra, kemudian Conti Chandra kepada terdakwa.

Ketika ditanya oleh Penasehat Hukum terdakwa Tjipta Fudjiarta, apakah terdakwa pernah menemui saksi atau menelepon dan meminta saksi atau berkehendak untuk meminta diterbitkan/dibuatkan Akta PT. BMS, saksi menegaskan tidak pernah, karena selama ini Conti Chandra yang selalu meminta kepada saksi untuk dibuatkan seluruh Akta PT.BMS termasuj akta - akta peralihan saham tersebut.

Ketika ditanya PH kembali, kapan pertama kali saksi bertemu dengan terdakwa Tjipta Fudjiarta, saksi mengatakan pada tgl 17 November 2011 di kantornya, saksi bersama dengan semua pemegang saham PT.BMS, kecuali Andreas Sie yang tidak hadir yaitu pelaksanaan RUPS pengalihan saham kepada Tjipta.

Saat ditanya hakim, bagaimana proses penerbitan akta, saksi menjelaskan bahwa setelah pemengang saham sepakat, kemudian saksi menuangkan didalam konsep terlebih dahulu, untuk dirampung oleh para pemegang saham lain, dan kemudian ditandatangani pada hari yang sama.

Diakhir persidangan, Penasehat Hukum Terdakwa Hendie Devitra didampingi Sabri Hamri kepada awak media menerangkan bahwa yang terpenting dari kami adalah dari pemeriksaan terhadap saksi notaris Anly  Cenggana tersebut, yang merujuk kepada surat dakwaan JPU sebagai fakta hukum, antara lain tuduhan kepada terdakwa yang menghubungi notaris Anly telah didengar, itu tidak benar dan tidak pernah terdakwa menghubungi dan bicara lewat telepon, seperti yang didakwakan,

" Tegasnya tidak ada satupun permintaan dari terdakwa, untuk penerbitan akta - akta tentang pengalihan saham PT.BMS, seluruh  penerbitan Akta PT. BMS termasuk akta - akta jual beli saham, adalah atas permintaan dan kehendak dari Conti Chandra selaku Dirut PT. BMS saat itu." kata Hendie.

Lebih lanjut Hendie menjelaskan, Notaris dalam kesaksiannya hanya berpegang kepada Akta Notariilnya, yang mana dia tidak memiliki kewajiban untuk meneliti kebenaran materiil dan hanya berpegang kepada kebenaran formiil, sesuai dengan apa yang diterangkan oleh para pihak yang kemudian dituangkan kedalam aktanya, seperti mengenai pembayaran harga saham semua pemegang saham, sudah mengatakan bahwa mereka sudah menerima lunas harga saham yang mereka jual, itu yang oleh saksi dituangkan dalam aktanya, bahwa mengenai pembayaran sudah diterima lunas, jd apa yang didakwakan soal akta, yang isinya tidak benar karena harga saham dibilang lunas, padahal belum dibayar lunas itu kan hanya kata Conti? Dan dia (conti) itu siapa dan hubungannya apa dengan akta jual beli akta - akta itu.

Setelah mendengarkan keterangan saksi yang cukup panjang, hingga memakan waktu kurang lebih 2 jam itu, akhirnya ketua majelis hakim Tumpal Sagala SH menutup sidang dan dilanjutkan tgl 25 Juni 2018 mendatang.

" Sidang ditunda dan akan dilanjutkan kembali pada 25 Juni 2018, dan sidang ditutup " pungkas Tumpal.


(Red/Aidil). 

Anly Cenggana dan Syaifuddin di Tolak Hakim, Karena Tidak Bawa Surat Izin Dari MKN







Batam, BR -  Sidang Tjipta Fudjiarta, terdakwa dalam perkara penipuan, penggelapan dan pemalsuan surat - surat di PT. Bangun Megah Semesta (BMS) pengelola BCC Hotel, yang seyogyanya akan disidangkan pada Senin (28/5) di Pengadilan Negeri Batam, kini ditunda hanya karena 2 saksi notaris yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum, tidak membawa rekomendasi atau surat izin dari Majelis Kehormatan Notaris (MKN).

" Sidang kita tunda, karena saksi notaris yang akan memberikan keterangan di persidangan ini tidak bisa menunjukkan surat resmi dari MKN, dan sesuai aturan saksi notaris harus dapat atau membawa surat izin original/aslinya dari MKN tersebut untuk memberikan keterangan di dalam persidangan, " kata Tumpal Sagala SH selaku ketua Majelis Hakim yang didampingi oleh Taufik SH dan Yona Lamerosa Ketaren. Senin (28/5).

Dua notaris yang akan memberikan keterangan pada sidang terdakwa Tjipta Fudjiarta tersebut, adalah Anly Cenggana SH dan Syaifuddin SH.

Sementara itu, Kepala Seksi Perdata dan Usaha Negara (Kasi Datun) Kejari Batam, Hendar SH, yang juga merupakan salah satu Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam sidang perkara di PT BMS tersebut, menegaskan bahwa pihaknya sudah menghadirkan saksi dua orang yang berprofesi sebagai notaris di persidangan.

Namun karena dua saksi ini tidak diperkenankan bersaksi, karena tak membawa surat izin resmi tertulis dari MKN secara originalnya atau keasliannya.

" Surat izin resmi dari MKN itu wajib dibawa dan ditunjukkan ke Majelis Hakim di persidangan. Surat izin dari MKN itu sudah ada, hanya saja fisiknya atau aslinya yang tak dibawa, hanya difoto via Whatsapp saja. Makanya oleh majelis hakim persidangan dianggap dua saksi ini tak sah dihadirkan dipersidangan, sebelum menunjukkan surat izin resmi fisiknya yang dikeluarkan oleh MKN," kata Hendar.

Sementara itu, Hendie Devitra SH yang didampingi oleh Sabri Hamri SH, selaku PH terdakwa Tjipta Fudjiarta, usai sidang mengatakan bahwa sesuai aturannya dan menurut Undang-Undang Notaris, seorang notaris dalam memberikan keterangan sebagai saksi di persidangan, wajib mendapatkan ijin dari Majelis Kehormatan Notaris.

" Sidang ditunda minggu depan dengan agenda pemeriksaan saksi yang sama dengan hari ini, dimana saksi hari ini  belum dapat memberikan keterangannya,  karena belum memenuhi syarat formil yaitu surat ijin dari MKN, yang belum dapat ditunjukkan di persidangan," tutup Hendie.

Sebelumnya, dalam sidang pada 15 Mei 2018 yang lalu, Majelis Hakim PN Batam, yang diketuai oleh Tumpal Sagala SH, dalam perkara Tjipta Fudjiarta tersebut, telah mendengarkan keterangan dari beberapa saksi yang merupakan saksi pemegang saham lama di PT BMS tersebut,  seperti Wimeng, Hasan dan Sutriswi.

Dan di dalam persidangan tersebut, ketiga saksi yakni Wimeng, Hasan dan Sutriswi menerangkan kepada Majelis Hakim PN Batam, yang diketuai Tumpal Sagala SH, bersama dua hakim anggotanya, Yona Lamerosa Ketaren SH dan Taufik SH, tentang pokok persoalan yang terjadi antara Conti Chandra dan Tjipta Fudjiarta.

Dimana Wimeng yang dihadirkan JPU untuk saksi pertama, menjelaskan kepada majelis hakim bahwa ia sebagai pemilik 30 % saham atau 84 lembar saham di PT. Bangun Megah Semesta (BMS).

" Akibat adanya krisis keuangan perusahaan, maka saya waktu itu sebagai komisaris PT. BMS, dengan para pemegang saham lainnya, sepakat untuk mundur dari perusahaan dan akan melepaskan saham miliknya, setelah Conti Chandra mendapatkan pendamping." kata Wie Meng dihadapan majelis hakim. Selasa (15/5).


Saat penasehat hukum terdakwa (Tjipta Fudjiarta) Hendie Devitra SH yang didampingi Sabri Hamri SH, menunjukkan surat tertanggal 22 Juli 2011 didepan majelis hakim, saksi Wimeng membenarkan adanya surat tersebut.

" Awalnya dibuat RUPS Akta No. 10 Tanggal 7 Juli 2011, kemudian dibatalkan dengan akta RUPS No. 70 tanggal 19 Juli 2011, karena Conti belum siap dan belum mendapatkan investor. Kemudian diadakan lagi rapat Tanggal 22 Juli 2011, dimana keputusan para pemegang saham waktu itu saksi Conti yang keluar dari perusahaan karena tidak didukung lagi, " terang Wimeng.

Dilanjutkan Wimeng, namun berselang 5 hari kemudian, Conti Chandra kembali menyatakan akan mengambil alih lagi saham-saham tersebut dan dibuatlah akta No. 89 tanggal 27 Juli 2011.

" Akta No. 89 itu bukan akta jual beli saham kepada Conti, tetapi saya dan pemegang saham lainnya, sepakat akan melepaskan saham kami, apabila Conti sudah mendapatkan pendamping dan waktu dibuatnya akta 89 itu belum ada pembayaran". tambah Wie Meng.


Selanjutnya saksi Wimeng menjelaskan kepada majelis hakim, bahwa saksi dan para pemegang saham lainnya, sepakat hanya meminta modal yang dikeluarkan saja dikembalikan, maka saksi dengan saksi Conti Chandra pada tanggal 25 juli 2011 itu, membuat perincian harga yang akan ditawarkan kepada calon investor, ataupun apabila Conti Chandra yang akan mengambilnya.

" Benar angka 27,5 M itu dibuat oleh saya (saksi) dengan Conti chandra, dimana dari 27,5 M itu digunakan untuk pembayaran saham sebesar Rp 6.5 M, dan sisanya Rp. 21 M dikembalikan kepada perusahaan, untuk pembayaran hutang suplier dan pinjaman dari owner lama dan lainnya, " ujar Wimeng.

Selanjutnya, setelah dibuat perincian harga dan akta 89 itu, barulah kemudian saksi Conti mentransfer uang kepada saksi secara bertahap, dan saksi Wimeng yang mengatur pembagian kepada pemegang saham lainnya.

Setelah pembayaran lunas, saksi Wimeng bersama dengan pemegang saham lainnya,  atas undangan saksi Conti Chandra yang waktu itu sebagai Dirut PT. BMS mengundang dan memimpin rapat, dengan kesepakatan membatalkan akta no. 89 di notaris Anly Cenggana.

" Supaya tidak terjadi jual dua kali pak hakim, karena Conti meminta saya dan pemegang saham lainnya, untuk menandatangangi jual beli sahamnya kepada terdakwa, " terang Wie Meng lagi.

Dan saksi Wimeng pun menandatangani akta jual beli saham No. 4 Tanggal 2 Desember 2011 kepada terdakwa atas perintah saksi Conti,

" Saya kan menerima pembayaran uangnya dari Conti, ya dia bilang teken ajb ke terdakwa saya teken aja, yang penting harga saham saya sudah dibayar lunas". aku Wimeng.

Saksi Wimeng juga mengakui, dari uang 27,5 M itu, saksi dan pemegang saham lainnya, hanya menerima 6,5 M karena memang hanya itu modal yang kami keluarkan.

Terkait pertanyaan PH terdakwa Tjipta Fudjiarta, mengenai apakah ada RUPS persetujuan penjualan saham, kepada  terdakwa sebelum ditandatanganinya ajb, saksi Wimeng pun juga menjelaskan bahwa ada RUPS yang dipimpin oleh Conti Chandra selaku Direktur Utama PT. BMS,  dalam akta No. 2 dan pada hari yang sama,  saksi juga menandatangani ajb kepada terdakwa, hadir waktu itu Conti, saksi Hasan dan ia sendiri (Wimeng).

Ada yang menarik juga dalam persidangan kali itu, saat PH terdakwa menanyakan kepada saksi Wimeng, apakah pernah bertemu sebelumnya dengan terdakwa, saksi mengatakan pernah bertemu di ferry dlm perjalanan ke Singapura pada pertengahan tahun 2011 lalu, sebelum penandatanganan ajb, dan saat ditanyakan lagi, apa yang dibicarakan saat bertemu terdakwa tersebut, apakah ada pembicaraan mengenai Hotel BCC, Saksi mengatakan tidak ada. Namun setelah skor sidang dan akan ditutup atas keberatan terdakwa, mengenai pertemuan di ferry itu saksi Wie Meng merubah keterangannya.

" Saya lupa apa yang dibicarakan dengan terdakwa dan itu setelah ajb ". Kata Wie Meng dengan wajah semu.

Padahal sebelumnya, saksi Wimeng  mengatakan pertemuan dengan terdakwa di ferry itu, sebelum penandatangan ajb dan menurut terdakwa pembicaraan waktu itu mengenai Hotel BCC.

Tidak berbeda dengan keterangan saksi Wie Meng, saksi Hasan juga menerangkan hal yang sama mengenai akta no 89 itu.

"Maksud akta 89 itu, saya serahkan saham saya kepada dia (Conti) dan mau dia yang beli atau orang lain, itu urusan dia yang penting modal saya kembali." terang Hasan.

Saksi Hasan menjelaskan, setelah menerima uang pembayaran dari saksi Wie Meng. Setelah lunas saksi tandatangani ajb no. 3 kepada terdakwa, karena sepakat RUPS dalam akta no. 2 menjual saham saksi kepada terdakwa.

Saksi Hasan yang merupakan kerabat Conti (ipar) serta saksi Sutriswi yang juga anak  saksi Hasan, membenarkan hanya mengikuti perintah orang tuanya (saksi Hasan).

" Saya disuruh tandatangani ajb No. 5 kepada terdakwa, begitu juga Sutriswi yang juga saya suruh untuk tandatangani ajb tersebut, " kata Hasan.

Sedangkan Andreas Sie dalam sidang selanjutnya (21/5) lalu, menjelaskan kepada hakim, bahwa dirinya merupakan salah satu pemilik 28 lembar saham atau sebanyak 10 persen saham di PT BMS, bersama dengan pemegang saham lama lainnya seperti Wie Meng, Sutriswi, Hasan dan Conti Chandra sendiri yang saat ini masih mendekam di Rutan Barelang, dalam perkara kasus penipuan dalam jabatan.


Saksi Andreas menerangkan, dalam pembangunan gedung BCC Hotel itu, dananya berasal dari modal masing-masing pemegang saham, serta pinjaman dari Bank Panin sebanyak Rp 70 miliar, dan dari uang hasil penjualan apartemen.

" Saat itu perusahaan kesulitan keuangan untuk membayar utang dan biaya pembangunan, serta ada masalah dengan sesama pemegang saham. Maka diputuskan kami keluar dan menyerahkan kepada Conti Chandra untuk mencari pendamping," kata Andreas Sie kepada Hakim dan JPU serta kedua Pengacara terdakwa Tjipta Fudjiarta didalam sidang.

Ia juga mengakui telah menandatangani akta nomor 89.

" Itu akta 89 bukan jual beli saham kepada Conti, tapi kami akan melepas saham apabila Conti sudah mendapatkan pendamping," terang saksi.

Bahkan saksi Andreas Sie ini, juga pernah menggugat Conti Chandra untuk membatalkan akta 89 tersebut.

" Saya mau semua jaminan utang saya di Bank Panin diselesaikan dahulu. Dan waktu dibuat akta nomor 89, pembayaran saham dan jaminan saya di bank belum ditarik, tapi masalanya sudah selesai, saya mencabut gugatan itu dengan jalan perdamaian saja," ujar Andreas.

Dan ia juga mengaku, telah menerima uang pembayaran harga saham miliknya, sebesar Rp 88 juta dan 145 ribu Dolar Singapura.

" Wimeng kasih saya chek sesuai dengan modal yang saya keluarkan, ya... chek itu saya ambil dan terima " kata Andreas lagi.

Setelah menerima pembayaran dari Wie Meng, Andreas Sie kemudian menandatangani jual beli sahamnya dengan Conti Chandra.

Andreas juga tidak tahu, selanjutnya saham tersebut dijual kepada siapa oleh Conti Chandra, saat ditanya hakim kepada dirinya.

" Yang terpenting saham saya sudah dibayar lunas sesuai modalnya kembali. Saya sudah tidak tahu lagi soal PT BMS," terang  Andreas lagi.

Bahkan atas pertanyaan penasihat hukum terdakwa, mengenai Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), tanggal 2 Desember 2011, Andreas juga mengaku menerima undangan dari Conti Chandra, tetapi undangan itu tak dihadirinya.

Demikian juga mengenai RUPS tanggal 17 November 2011, untuk penjualan saham kepada terdakwa, Andreas juga menerima undangan dari Conti Chandra, tapi juga tak didatanginya, karena sedang mengajukan gugatan di Pengadilan Negeri Batam untuk membatalkan akta nomor 89.

Andreas juga ada menerima surat teguran dari Conti Chandra, karena tidak datang pada RUPS tersebut. Andreas yang pernah menjabat sebagai direktur dengan dirutnya saat itu Conti Chandra, serta pernah juga  menjual beberapa unit apartemen di BCC Hotel, dimana uang penjualan apartemen itu untuk biaya pembangunan hotel tersebut.

" Itu akta 89 bukan jual beli saham kepada Conti, tapi kami akan melepas saham apabila Conti sudah mendapatkan pendamping," terang saksi.

Bahkan saksi Andreas Sie ini, juga pernah menggugat Conti Chandra untuk membatalkan akta 89 tersebut.

" Saya mau semua jaminan utang saya di Bank Panin diselesaikan dahulu. Dan waktu dibuat akta nomor 89, pembayaran saham dan jaminan saya di bank belum ditarik, tapi masalanya sudah selesai, saya mencabut gugatan itu dengan jalan perdamaian saja," ujar Andreas.

Dan ia juga mengaku, telah menerima uang pembayaran harga saham miliknya, sebesar Rp 88 juta dan 145 ribu Dolar Singapura.

" Wimeng kasih saya chek sesuai dengan modal yang saya keluarkan, ya... chek itu saya ambil dan terima " kata Andreas lagi.

Setelah menerima pembayaran dari Wie Meng, Andreas Sie kemudian menandatangani jual beli sahamnya dengan Conti Chandra.

Andreas juga tidak tahu, selanjutnya saham tersebut dijual kepada siapa oleh Conti Chandra, saat ditanya hakim kepada dirinya.

" Yang terpenting saham saya sudah dibayar lunas sesuai modalnya kembali. Saya sudah tidak tahu lagi soal PT BMS," terang  Andreas lagi.

Bahkan atas pertanyaan penasihat hukum terdakwa, mengenai Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), tanggal 2 Desember 2011, Andreas juga mengaku menerima undangan dari Conti Chandra, tetapi undangan itu tak dihadirinya.

Demikian juga mengenai RUPS tanggal 17 November 2011, untuk penjualan saham kepada terdakwa, Andreas juga menerima undangan dari Conti Chandra, tapi juga tak didatanginya, karena sedang mengajukan gugatan di Pengadilan Negeri Batam untuk membatalkan akta nomor 89.

Andreas juga ada menerima surat teguran dari Conti Chandra, karena tidak datang pada RUPS tersebut. Andreas yang pernah menjabat sebagai direktur dengan dirutnya saat itu Conti Chandra, serta pernah juga  menjual beberapa unit apartemen di BCC Hotel, dimana uang penjualan apartemen itu untuk biaya pembangunan hotel tersebut.



(Red/Aidil). 

Andreas Sie : Itu Akta 89 Bukan Jual Beli Saham Kepada Conti Chandra.






Batam, BR - Sidang terdakwa Tjipta Fudjiarta di Pengadilan Negeri (PN) Batam semakin menarik untuk terus di ikuti, dimana sidang pidana kasus perkara penipuan, penggelapan dan pemalsuan surat di BCC Hotel itu menghadirkan saksi - saksi dari para pemegang saham sebelumnya, dan dari keterangan para saksi itu, membuat posisi Conti Chandra dalam perkara tersebut semakin tak menentu. Senin (21/5). 

Sidang terdakwa Tjipta Fudjiarta, yang digelar di PN Batam saat ini, masih dengan agenda yang sama pada sidang Senin lalu (15/5), yakni masih mendengarkan keterangan saksi dari para pemegang saham lama, yang mana pada sidang yang lalu Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan saksi Wimeng, Hasan dan Sutriswi, dan kali ini satu orang lagi pemegang saham lama BCC Hotel (PT BMS) Andreas Sie.

Dan juga Mariani (Ipar Conti Chandra) juga dihadirkan dalam persidangan yang diketuai oleh Tumpal Sagala SH, dengan didampingi dua hakim anggotanya ,Taufik SH dan Yona Lamerosa Ketaren SH.

Andreas Sie yang pertama kali diminta oleh JPU untuk memberikan keterangan nya kepada hakim, dimana saksi merupakan salah satu mantan pemegang saham PT Bangun Megah Semesta (BMS) yang mengelola BCC Hotel.

Kepada Majelis Hakim Andreas Sie menjelaskan, bahwa dirinya merupakan salah satu pemilik 28 lembar saham atau sebanyak 10 persen saham di PT BMS, bersama dengan pemegang saham lama lainnya seperti Wie Meng, Sutriswi, Hasan dan Conti Chandra sendiri yang saat ini masih mendekam di Rutan Barelang, dalam perkara kasus penipuan dalam jabatan.

Saksi Andreas menerangkan, dalam pembangunan gedung BCC Hotel itu, dananya berasal dari modal masing-masing pemegang saham, serta pinjaman dari Bank Panin sebanyak Rp 70 miliar, dan dari uang hasil penjualan apartemen.

" Saat itu perusahaan kesulitan keuangan untuk membayar utang dan biaya pembangunan, serta ada masalah dengan sesama pemegang saham. Maka diputuskan kami keluar dan menyerahkan kepada Conti Chandra untuk mencari pendamping," kata Andreas Sie kepada Hakim dan JPU serta kedua Pengacara terdakwa Tjipta Fudjiarta didalam sidang.

Ia juga mengakui telah menandatangani akta nomor 89.

" Itu akta 89 bukan jual beli saham kepada Conti, tapi kami akan melepas saham apabila Conti sudah mendapatkan pendamping," terang saksi.

Bahkan saksi Andreas Sie ini, juga pernah menggugat Conti Chandra untuk membatalkan akta 89 tersebut.

" Saya mau semua jaminan utang saya di Bank Panin diselesaikan dahulu. Dan waktu dibuat akta nomor 89, pembayaran saham dan jaminan saya di bank belum ditarik, tapi masalanya sudah selesai, saya mencabut gugatan itu dengan jalan perdamaian saja," ujar Andreas.

Dan ia juga mengaku, telah menerima uang pembayaran harga saham miliknya, sebesar Rp 88 juta dan 145 ribu Dolar Singapura.

" Wimeng kasih saya chek sesuai dengan modal yang saya keluarkan, ya... chek itu saya ambil dan terima " kata Andreas lagi.

Setelah menerima pembayaran dari Wie Meng, Andreas Sie kemudian menandatangani jual beli sahamnya dengan Conti Chandra.

Andreas juga tidak tahu, selanjutnya saham tersebut dijual kepada siapa oleh Conti Chandra, saat ditanya hakim kepada dirinya.

" Yang terpenting saham saya sudah dibayar lunas sesuai modalnya kembali. Saya sudah tidak tahu lagi soal PT BMS," terang  Andreas lagi.

Bahkan atas pertanyaan penasihat hukum terdakwa, mengenai Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), tanggal 2 Desember 2011, Andreas juga mengaku menerima undangan dari Conti Chandra, tetapi undangan itu tak dihadirinya.

Demikian juga mengenai RUPS tanggal 17 November 2011, untuk penjualan saham kepada terdakwa, Andreas juga menerima undangan dari Conti Chandra, tapi juga tak didatanginya, karena sedang mengajukan gugatan di Pengadilan Negeri Batam untuk membatalkan akta nomor 89.

Andreas juga ada menerima surat teguran dari Conti Chandra, karena tidak datang pada RUPS tersebut. Andreas yang pernah menjabat sebagai direktur dengan dirutnya saat itu Conti Chandra, serta pernah juga  menjual beberapa unit apartemen di BCC Hotel, dimana uang penjualan apartemen itu untuk biaya pembangunan hotel tersebut.

Setelah merasa cukup dalam memberikan keterangannya, Andreas Sie pun diminta untuk meninggalkan ruang sidang oleh majelis hakim.



Selanjutnya saksi kedua yakni Mariani ( Mantan Accounting) di BCC Hotel yang dimintai keterangannya di dalam sidang.
Ia menjelaskan bahwa masih ada hubungan persaudaraan dengan Conti Chandra dan terdakwa.

" Istrinya Conti adik saya , dengan istri terdakwa itu sepupu," ujar Mariani.

Mariani juga mengaku pernah dipanggil Conti Chandra pada bulan November 2011 di lantai P4 Hotel BCC. Di sana Conti Chandra mengatakan sudah deal dengan terdakwa Tjipta Rp 120 miliar jual gedung BCC.

" Saat ditanya ke terdakwa, terdakwa diam saja," terang Mariani.

Selanjutnya Mariani mengaku sebagai accounting yang memeriksa keuangan Conti Chandra menjelaskan bahwa dirinya pernah disuruh Conti mengecek uang masuk ke rekening Conti.

" Uang Rp 27 miliar untuk pembayaran saham dan uang hasil penjualan sebelas unit apartemen sebesar Rp 14 miliar. Uang itu yang digunakan Conti untuk membayar saham pemilik saham lama dan membayar utang suplier lebih kurang Rp 33 miliar," kata Mariani.

Saat ditanya hakim apakah masih ada lagi uang yang lain, yang masuk ke rekening Conti, Mariani mengatakan tidak ada, hanya itu saja.

Berbeda saat Hendi Devitra dan Sabri Hamri, penasihat hukum terdakwa Tjipta mencecar Mariani mengenai uang pembayaran 15 persen saham yang juga diterima Conti Chandra, Mariani mengakui dan pernah mengecek rekapitulasinya.

" Ya ada juga uang dari terdakwa yang saya hitung Rp 7 miliar ke rekening Conti dan benar saya ada menuliskan lunas," terang Mariani.

Demikian juga saat ditanya penasihat hukum terdakwa, apakah Mariani tahu uang yang dikirim kepada Wie Meng Rp 27 miliar untuk bayar saham itu dikembalikan ke Conti Rp 21 miliar, Mariani membenarkan.

" Ada Rp 21 miliar dikembalikan Wie Meng kepada Conti. Itu yang digunakan Conti untuk membayar utang suplier. Supliernya Wie Meng sendiri," ujar Mariani.

Di akhir persidangan, Mariani sempat meluapkan emosinya karena diberhentikan terdakwa dari kerjaannya.

" Terdakwa tidak ada wewenang memberhentikan saya," ujar Mariani yang langsung disambut tepuk tangan istrinya Conti di dalam sidang.

Tahu istrinya Conti yang duduk di meja persidangan ikut tepuk tangan, Ketua Majelis Hakim, Tumpal Sagala menegurnya.

Sidang dilanjutkan tgl 28 mendatang.
Atas keterangan saksi, terdakwa menyampaikan keberatan ada yang benar dan banyak yang tak benar juga.

" Tidak ada pertemuan di lantai 4, itu tidak benar," pungkas terdakwa.




(Red/Aidil). 

Keterangan Tiga Saksi Sudutkan Conti Chandra







Batam, BR - Sidang terdakwa Tjipta Fudjiarta, dalam kasus penipuan, penggelapan dan pemalsuan surat - surat di BCC Hotel memasuki babak baru, dimana ketiga saksi yang dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU), yakni Wimeng, Hasan dan Sutriswi memberatkan posisi Conti Chandra. 

Dalam persidangan diruang utama Pengadilan Negeri (PN) Batam, ketiga saksi yakni Wimeng, Hasan dan Sutriswi menerangkan kepada Majelis Hakim PN Batam, yang diketuai Tumpal Sagala SH, bersama dua hakim anggotanya, Yona Lamerosa Ketaren SH dan Taufik SH, tentang pokok persoalan yang terjadi antara Conti Chandra dan Tjipta Fudjiarta.

Dimana Wimeng yang dihadirkan JPU untuk saksi pertama, menjelaskan kepada majelis hakim bahwa ia sebagai pemilik 30 % saham atau 84 lembar saham di PT. Bangun Megah Semesta (BMS).

" Akibat adanya krisis keuangan perusahaan, maka saya waktu itu sebagai komisaris PT. BMS, dengan para pemegang saham lainnya, sepakat untuk mundur dari perusahaan dan akan melepaskan saham miliknya, setelah Conti Chandra mendapatkan pendamping." kata Wie Meng dihadapan majelis hakim. Selasa (15/5).


Saat penasehat hukum terdakwa (Tjipta Fudjiarta) Hendie Devitra SH yang didampingi Sabri Hamri SH, menunjukkan surat tertanggal 22 Juli 2011 didepan majelis hakim, saksi Wimeng membenarkan adanya surat tersebut.

" Awalnya dibuat RUPS Akta No. 10 Tanggal 7 Juli 2011, kemudian dibatalkan dengan akta RUPS No. 70 tanggal 19 Juli 2011, karena Conti belum siap dan belum mendapatkan investor. Kemudian diadakan lagi rapat Tanggal 22 Juli 2011, dimana keputusan para pemegang saham waktu itu saksi Conti yang keluar dari perusahaan karena tidak didukung lagi, " terang Wimeng.

Dilanjutkan Wimeng, namun berselang 5 hari kemudian, Conti Chandra kembali menyatakan akan mengambil alih lagi saham-saham tersebut dan dibuatlah akta No. 89 tanggal 27 Juli 2011.

" Akta No. 89 itu bukan akta jual beli saham kepada Conti, tetapi saya dan pemegang saham lainnya, sepakat akan melepaskan saham kami, apabila Conti sudah mendapatkan pendamping dan waktu dibuatnya akta 89 itu belum ada pembayaran". tambah Wie Meng.


Selanjutnya saksi Wimeng menjelaskan kepada majelis hakim, bahwa saksi dan para pemegang saham lainnya, sepakat hanya meminta modal yang dikeluarkan saja dikembalikan, maka saksi dengan saksi Conti Chandra pada tanggal 25 juli 2011 itu, membuat perincian harga yang akan ditawarkan kepada calon investor, ataupun apabila Conti Chandra yang akan mengambilnya.

" Benar angka 27,5 M itu dibuat oleh saya (saksi) dengan Conti chandra, dimana dari 27,5 M itu digunakan untuk pembayaran saham sebesar Rp 6.5 M, dan sisanya Rp. 21 M dikembalikan kepada perusahaan, untuk pembayaran hutang suplier dan pinjaman dari owner lama dan lainnya, " ujar Wimeng.

Selanjutnya, setelah dibuat perincian harga dan akta 89 itu, barulah kemudian saksi Conti mentransfer uang kepada saksi secara bertahap, dan saksi Wimeng yang mengatur pembagian kepada pemegang saham lainnya.

Setelah pembayaran lunas, saksi Wimeng bersama dengan pemegang saham lainnya,  atas undangan saksi Conti Chandra yang waktu itu sebagai Dirut PT. BMS mengundang dan memimpin rapat, dengan kesepakatan membatalkan akta no. 89 di notaris Anly Cenggana.

" Supaya tidak terjadi jual dua kali pak hakim, karena Conti meminta saya dan pemegang saham lainnya, untuk menandatangangi jual beli sahamnya kepada terdakwa, " terang Wie Meng lagi.

Dan saksi Wimengpun menandatangani akta jual beli saham No. 4 Tanggal 2 Desember 2011 kepada terdakwa atas perintah saksi Conti,

" Saya kan menerima pembayaran uangnya dari Conti, ya dia bilang teken ajb ke terdakwa saya teken aja, yang penting harga saham saya sudah dibayar lunas". aku Wimeng.

Saksi Wimeng juga mengakui, dari uang 27,5M itu, saksi dan pemegang saham lainnya, hanya menerima 6,5 M karena memang hanya itu modal yang kami keluarkan.

Terkait pertanyaan PH terdakwa Tjipta Fudjiarta, mengenai apakah ada RUPS persetujuan penjualan saham, kepada  terdakwa sebelum ditandatanganinya ajb, saksi Wimeng pun juga menjelaskan bahwa ada RUPS yang dipimpin oleh Conti Chandra selaku Direktur Utama PT. BMS,  dalam akta No. 2 dan pada hari yang sama,  saksi juga menandatangani ajb kepada terdakwa, hadir waktu itu Conti, saksi Hasan dan ia sendiri (Wimeng).

Ada yang menarik juga dalam persidangan kali itu, saat PH terdakwa menanyakan kepada saksi Wimeng, apakah pernah bertemu sebelumnya dengan terdakwa, saksi mengatakan pernah bertemu di ferry dlm perjalanan ke Singapura pada pertengahan tahun 2011 lalu, sebelum penandatanganan ajb, dan saat ditanyakan lagi, apa yang dibicarakan saat bertemu terdakwa tersebut, apakah ada pembicaraan mengenai Hotel BCC, Saksi mengatakan tidak ada. Namun setelah skor sidang dan akan ditutup atas keberatan terdakwa, mengenai pertemuan di ferry itu saksi Wie Meng merubah keterangannya.

" Saya lupa apa yang dibicarakan dengan terdakwa dan itu setelah ajb ". Kata Wie Meng dengan wajah semu.

Padahal sebelumnya, saksi Wimeng  mengatakan pertemuan dengan terdakwa di ferry itu, sebelum penandatangan ajb dan menurut terdakwa pembicaraan waktu itu mengenai Hotel BCC.

Tidak berbeda dengan keterangan saksi Wie Meng, saksi Hasan juga menerangkan hal yang sama mengenai akta no 89 itu.

"Maksud akta 89 itu, saya serahkan saham saya kepada dia (Conti) dan mau dia yang beli atau orang lain, itu urusan dia yang penting modal saya kembali." terang Hasan.

Saksi Hasan menjelaskan, setelah menerima uang pembayaran dari saksi Wie Meng. Setelah lunas saksi tandatangani ajb no. 3 kepada terdakwa, karena sepakat RUPS dalam akta no. 2 menjual saham saksi kepada terdakwa.

Saksi Hasan yang merupakan kerabat Conti (ipar) serta saksi Sutriswi yang juga anak  saksi Hasan, membenarkan hanya mengikuti perintah orang tuanya (saksi Hasan).

" Saya disuruh tandatangani ajb No. 5 kepada terdakwa, begitu juga Sutriswi yang juga saya suruh untuk tandatangani ajb tersebut, " kata Hasan.

Di akhir persidangan, penasehat hukum Terdakwa Hendie Devitra, SH.MH. langsung menanggapi keterangan para saksi-saksi tersebut. Dimana dalam fakta yang kita dapatkan, adalah bahwa tidak benar Conti Chandra sebagai pemilik 100% saham PT BMS, sebagaimana dalam surat dakwaan.

Bahkan Akta no. 10 dan akta no. 89 yang disebut - sebut sebagai barang bukti kepemilikan 100% saham, Conti itu tidak benar, faktanya akta no. 10 dan akta no. 89 itu bukan akta jual beli saham, dari pemegang saham lama kepada conti, dan tidak pernah ada realisasi atau dibuatnya jual beli saham kepada Conti, melainkan Conti yang menyuruh saksi - saksi untuk menandatangani ajb saham mereka kepada terdakwa, karena pada akte 89 di halaman 5, telah ada pernyataan para pihak yang akan menjual saham nya tersebut, berjanji dan mengikatkan diri untuk menandatangani akte pelepasan kepengurusan, dan diikuti dengan jual beli saham nya, apabila Conti Chandra telah mendapatkan pendamping nya.

" Memang benar faktanya saksi - saksi pemegang saham lama itu, menerima uang pembayaran dari saksi Conti Chandra, dan saksi Conti Chandra yang waktu itu Dirut dengan RUPS nya, menyuruh mereka menandatangani akta jual beli sahamnya kepada terdakwa Tjipta. Soal nanti apa hubungan uang yang diterima mereka dengan terdakwa itu nanti, kita jangan membuat kesimpulan dulu, tunggu nanti setelah selesai semua pemeriksaan." tutup Hendie.



(Red/Aidil). 

Ayooo....!!!! Datang Ke " Grand Opening " nya Secret Bar Lantai 2 Malam ini






Batam, BR - Pengen cari tongkrongan yang asyik, unik, nyaman dan frendly, disini ini tempatnya, yakni di Secret Bar Lantai 2, yang berada di Komplek Batam Plaza No 8 - 9 Kampung Bule, Batu Ampar.

Dan malam ini, Secret Bar Lantai 2 menggelar " Grand Opening " bagi para pengunjungnya, yang datang untuk bersantai sejenak, menghabiskan malam libur panjangnya, setelah lelah bekerja seharian penuh.

Yach.... Secret Bar Lantai 2 hadir bagi pengunjung ataupun kawula muda Batam, yang ingin bersantai dan mencari hiburan yang ringan, seperti Karaoke/ KTV dan Bilyard dengan suasana yang berbeda, unik, nyaman dengan ditemani seluruh staff Bar yang frendly, yang tentunya bisa membuat suasana di dalam Bar, semakin lebih hangat penuh keakraban antara pengunjung dan seluruh karyawan Bar tersebut.


Diana, selaku Manager Operasional Secret Bar Lantai 2 mengatakan, Kehadiran Bar yang saat ini dikelolanya, lebih kepada kesan frendly kepada setiap tamu atau pengunjung yang datang ke Bar nya tersebut.

" Dimana Secret Bar ini, dikemas dengan balutan suasana penuh keakraban, persahabatan, unik, nyaman dan pastinya pengunjung bisa menikmati semua suasana di dalam nya, seperti ingin bernyanyi atau karokean, main bilyar dan segala pertunjukan yang nantinya akan ditampilkan di dalam Bar , " kata Diana, kepada Batamreport. com. Sabtu (5/5).


Diana juga menerangkan, selain pengunjung atau tamu yang datang bisa bernyanyi/ karoukean di Bar kami ini, dengan suasana santai dan nyaman dan  interior nya yang unik dan artistik, yang tentunya sangat berbeda dengan suasana Bar lainny yang ada di Kampung bule ini.

Selain itu, tambahnya di Secret Bar Lantai 2 ini juga pengunjung/ tamu yang datang, akan dimanjakan juga dengan pertunjukan Fire Juggling Bartender yang mampu membuat pengunjung terpukau dan terhibur dengan atraksi yang spektakuler dan profesional.


" Dan juga, disini kita ada Restoran yang menyajikan makanan/kuliner bagi para tamu/ pengunjung yang ingin bersantap malam, dimana kita menyajikan berbagai menu makanan lokal dan Western, dan juga berbagai macam Pizza, jadi jika pengunjung ingin mencicipi segala menu makanan berbagai makanan disini, bisa dipesan dan langsung dihidangkan sesuai pesanannya, " ujar Diana.

Tambahnya lagi, Secret Bar Lantai 2 hadir dengan konsep frendly, dengan team management yang hebat, dan seluruh karyawan yang kompak, yang siap menyambut tamu dengan suasana penuh hangat dan keakraban, dimana ini semua dilakukan demi kepuasan pengunjung yang datang dan ingin menghabiskan malam weekend nya dengan suasana nyaman dan santai.


Selain itu juga, seluruh staff, karyawan dan management Secret Bar ini, dipimpin oleh seorang Owner (Bigboss)  yang penyayang pada semua karyawannya, baik dan juga frendly, sehingga semua karyawan merasa sangat senang dan betah bekerja di Bar tersebut.


" Ayooo... datang ya malam ini, karena kita Grand Opening, tentunya dijamin kalian tidak akan menyesal, karena kami akan suguhkan yang terbaik buat kalian semuanya, dengan suasana yang nyaman, unik dan frendly, ditambah lagi dengan atraksi Fire Juggling yang hebat  dari Bartender kami nantinya, " ajak Diana dengan senyum sumringahnya.



(Red/Aidil). 
 

Catwidget2

ads2