HEADLINE

Sat 81 Kopassus Bebaskan Sandera di Atas Kapal Tanker







Batam, BR - Satuan 81 Komando Pasukan Khusus (Kopassus) yang dimiliki TNI AD dan sudah diakui dunia, sebagai salah satu pasukan elite dunia, berhasil membebaskan sandera yang ditawan oleh sekelompok orang, diatas kapal tanker yang sedang lego jankar di perairan Selat Malaka. Sabtu (8/12) subuh. 

Dan Satuan 81 Kopassus ini, merupakan satuan operasional di bawah Komando Pasukan Khusus, yang mana seluruh kegiatan di daerah operasi maupun daerah latihannya, berada tidak terbatas baik diseluruh Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) maupun di seluruh dunia yang berada di wilayah yurisdiksi nasional Indonesia.


Kegiatan Sat 81 Kopassus di peraian Selat Malaka ini, merupakan kegiatan latihan atau simulasi pembebasan sandera diatas kapal tanker. Dimana titik kumpulnya dipusatkan di Batam, sekitar kawasan Pe Citra Nusa Kabil, Nongsa, Batam.

Komandan Satuan 81 Kopassus Kolonel Inf. Yudha Airlangga mengatakan, kali ini Batam sengaja dipilih untuk tempat latihan oleh Kopassus, dalam hal ini Sat 81 Kopassus, dikarenakan mengigat dengan tingkat kerawanan, yaitu pembajakan maupun perompakan kapal cukup tinggi dan terdapat indikasi adanya kegiatan tersebut, sehingga para prajurit Kopassus perlu mengenal daerah tersebut dan juga perlu belajar, serta bekerjasama dengan instansi terkait lainnya yang ada di Kota Batam.

Latihan pembebasan sandra di kapal itu juga, merupakan program latihan tahun mkan, sesuai dengan jadwal yang telah di tetapkan pada tahun 2017 lalu, bahwa latihan serbuan atau latihan pembebasan sandra di atas kapal itu, telah di jadwalkan pada bulan desember.

" Di pilih pada bulan Desember ini, supaya para anggota yang berlatih tau bahwa pada bulan desember cuaca tidak bersahabat, dan itu menjadi tantangan tersendiri dalam latihan", kata Yudha.


Yudha juga menjelaskan, adapun jumlah personil yang ikut dalam latihan adalah satu tim, dengan harapan tujuan dan sasaran dari latihan itu, agar dapat memelihara dan meningkatkan, dan untuk bisa menyelesaikan masalah-masalah terutama di laut. Bagaimana untuk mengenal cuaca di laut, medan dan bagaimana mengenal karakteritis kapal di Kota Batam ini.

Dalam latihan tersebut para anggota menggunakan teknik infiltrasi menuju kesasaran kapal yang di sandra, dengan menggunakan kapal Lcr (Kapal Karet) dan alat selam.

Yudha menjelaskan, bahwa latihan itu dalam satuan dan tidak melibatkan patra lain. Dalam latihan itu satuan diagendakan dan harus cepat sampai di Batam, dimana yang dihadapi dalam medan atau situasi daerah, ini ada keterbatasan sehingga harus memanfaatkan potensi-potensi wilayah yang ada.

" Latihannya sangat terbatas, tapi kami mampu menyelesaikan masalah dengan sasaran yang tepat ", ujarnya.

Yudha berharap kedepannya, Satuan 81 Kopassus bisa berlatih lagi di Batam, agar lebih banyak mengenal medan terutama aspek cuacanya. Yang mana cuaca di Batam tentunya cukup jauh berbeda dibandingkan di tempat berlatih lainnya seperti Jakarta.

" Dalam latihan kali ini kami di bantu oleh Kodim 0316/Batam dalam hal ini Dandim, Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) sehingga Kopassus bisa melaksanakan latihan dengan baik", tutup Yudha.


Sementara itu Dandim 0316/Batam, Letkol Inf Romel Jangga Wardhana, yang juga hadir di lokasi tempat latihan tersebut,
mengucapkan terimakasihnya kepada satuan Kopassus, khususnya Sat 81 yang telah memilih Batam sebagai tempat latihan operasionalnya.

Menurut Romel wilayah Batam ini, memiliki daerah yang strategis dan tentunya akan sangat bermanfaat, bagi daerah Batam maupun masyarakatnya.

" Dengan adanya Kopassus berlatih disini, secara tidak langsung akan memberikan efek rasa kenyamanan dan aman bagi masyarakat yang ada di Batam, " kata Romel.

Seperti yang kita ketahui, bahwa Kopassus merupakan salah satu pasukan elite terbaik yang ada di Indonesia bahkan di dunia, sehingga tentunya akan memberikan nilai positif bagi satuan manapun yang ada di wilayah Batam.

" Pada dasarnya kita sebagai aparat teritorial, menerima satuan manapun yang mau berlatih di Kota Batam ini, untuk programnya itu tergantung pada satuan yang akan melaksankan latihan tersebut, apakah sekali saja ataupun akan ada setiap tahun", tuturnya.

Hampir setiap tahun, satuan yang ada di luar, memilih Batam sebagai salah satu daerah yang dijadikan tempat untuk berlatih, hal itu karena Batam memiliki nilai strategis yang cukup penting.


(Red/Dil). 

Peringati Hari Anti Korupsi, Kejari Batam Gelar Panggung Musik Untuk Kaum Milenial








Batam, BR - Peringati Hari Anti Korupsi, Kejaksaan Negeri (Kejari) Batam komitmen  tanamkan jiwa anti korupsi dikalangan kaum milenial dengan bermusik. Senin (11/12). 

Dengan tema " Kaum Milenial Mendukung Anti Korupsi " berbagai acara digelar Kejari Batam, seperti pembagian stiker dan bunga untuk para pengendara di jalanan, juga di isi dengan hiburan musik oleh grup band cadas tanah air, Boomerang dan juga band lokal. Sebelumnya terlebih dulu digelar upacara yang diikuti oleh seluruh pegawai dan jaksa dilingkungan Kejari Batam.

Filpan F. D Laia SH, selaku Kepala Seksi Pidana Umum (Kasipidum) Kejari Batam, mengatakan, peringatan Hari Anti Korupsi kali ini, digelar bukan hanya sekedar acara hiburan belaka. Dimana konsep acara kali ini ditujukan untuk kaum milenial yang akan menjadi penentu masa depan bangsa.

" Tujuan kami adalah bagaimana kita menanamkan paham anti korupsi kepada para generasi milenial. Karena mereka inilah yang 10 atau 20 tahun ke depan memimpin bangsa ini. Dan cara yang paling mudah untuk dekat dengan kaum milenial saat ini dengan bermusik," kata Filpan.

Selain upacara, juga ada pembagian stiker dan bunga serta hiburan band, dalam peringatan Hari Anti Korupsi ini. Puncaknya akan dilaksanakan Deklarasi Anti Korupsi oleh kaum milenial, yang dihadiri oleh para tamu undang dan FKPD Kota Batam.

Lanjut Filpan, acara yang kita gelar ini mendapat banyak dari berbagai pihak, termasuk personil grup band Boomerang. Dimana para personil nya sudah lama dikenalnya. Tak  Boomerang ada juga band lokal yang ambil serta dalam gelaran musik itu.

" Kami juga didukung oleh pihak swasta, dari Sanford dan Yamaha Motor, yang mendukung untuk meriahkan acara ini nantinya, "  Filpan.


(Red/Dil). 





Tanya Vonis Mati 4 Warganya, Konjen China Datangi Kejari Batam







Batam, BR - Dua orang perwakilan Konsulat Jenderal (Konjen) China datangi Kejaksaan Negeri Batam, pertanyakan vonis mati terhadap warganya yang diputus oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Batam. Jumat (7/12). 

Kedatangan Sun Ang dan Wan Wenqing (Konsul) yang didampingi Rika (translator) diterima langsung Kepala Seksi Pidana Umum (Kasipidum) Kejari Batam, Filpan FD. Laia. SH.

Kedua Konsul tersebut, sengaja datang ke Indonesia, dalam hal ini untuk mendapatkan penjelasan, terkait putusan mati terhadap 4 warganya, Chen Hui (42), Chen Yi (32), Chen Meisheng (68) dan Yao Yin Fa (63). Dan kedatangan mereka atas perintah dari Pemerintah China, atas vonis pada tingkat pertama di PN Batam.

" Kedatangan kedua Konsul itu, menanyakan tentang kronologis penanganan perkara 4 warganya, mengapa sampai divonis mati, dan kami jelaskan keseluruhan kronologis para terpidana tersebut hingga ke fakta persidangan, "  kata Filpan.

Bahkan Filpan juga menanyakan kepada kedua Konsul China itu, mengapa setelah 5 bulan proses kasus berjalan, Pemerintah ta tidak datang dalam proses peradilan hingga selesai.

" Kita tanyakan kepada mereka, selama proses peradilan yang memakan waktu 5 bulan itu, tidak ada yang datang dan meninjau jalannya sidang. Andai mereka datang, kan bisa melihat langsung fakta persidangannya, " ujarnya.

Lanjut Filpan, kita juga sudah sampaikan kepada mereka (konsul) bahwa putusan mati itu, dijatuhkan karena selain jumlah barang bukti yang sangat fantastis, tidak adanya juga hal yang meringankan terhadap ke 4 terpidana itu.

Usai mendapatkan penjelasan itu, kedua perwakilan konsul China itu, dapat mengerti dan mengaku sepakat dalam pemberantasan narkoba dalam cara kerjasama informasi dan sangat setuju dengan vonis mati itu, tambah Filpan.

" Mereka menghormati putusan hakim, bahkan diakhir pertemuan saya sempat berpesan, untuk disampaikan kepada pemerintah China agar segera menangkap DPO yang didapat hasil dari persidangan, " ungkap Filpan. 

Terhadap perkara Chen Hui (42), Chen Yi (32), Chen Meisheng (68) dan Yao Yin Fa (63), Filpan menyampaikan, bahwa ke 4 terpidana itu, belum memiliki kekuatan hukum tetap sehingga masih ada upaya hukum yang bisa dilakukan.

" Kita sampai juga, bahwa para terpidana bisa mengajukan banding sehingga proses upaya hukum yang dilakukan, kami serahkan sepenuhnya kepada Pemerintah Cina, ikut membantu atau tidak. Untuk itu informasi yang didapat ini, tolong disampaikan nantinya ke Pemerintah Cina," terang Filpan.

Setelah bertemu Kasipidum Kejari Batam, Filpan FD Laia, SH, diruang kerjanya, kedua wakil Konjen China itu langsung bertolak ke Rutan Barelang, guna mendengar langsung keterangan dari para terpidana, dan akan menyampaikan ke Pemerintah China.


(Red/Dil). 

Intan : Siap Bantu Kejaksaan, Ungkap Suatu Kasus Besar Terkait Dugaan Tindak Pidana Korupsi di Batam





Batam, BR - Saat digelarnya konfrensi pers oleh pihak Kejaksaan Negeri (Kejari) Batam, terpidana Hamidah Asmara Intani Merialsa Alias Intan, mengaku tidak melarikan diri (DPO) atas perkara pemalsuan dokumen kapal MV Engedi yang menjeratnya saat ini. 
Hamidah alias Intan mengungkapkan, bahwa dirinya tidak lari maupun DPO, karena saat itu ia sudah keluar dari Pengadilan dan bebas, dan mungkin saja Pengacaranya yang mengajukan banding, namun begitu ia kurang paham, dan sampai akhirnya ada putusan dari Pengadilan Tinggi dan Intan mengaku juga tidak mengetahuinya. 
Intan juga mengaku, pindah alamat karena terlilit utang di salah satu Bank, sehingga mengharuskan untuk pindah dari alamatnya yang lama. Meski demikian, Intan masih memeliki KTP Batam dan masih bolak-balik ke Batam.
" Saya tidak mengetahui adanya surat panggilan dari Kejaksaan. Ketika saya mengurus ibu saya yang sedang sakit di Tasikmalaya, tim kejaksaan datang dan menjemput saya, saya ikut saja,” kata Intan. Kamis (6/12). 
Meskipun saat ini, Intan masih terjerat dalam kasus yang menimpanya, ia mengaku siap membantu pihak Kejaksaan, untuk mengungkap suatu kasus besar, terkait dugaan tindak pidana korupsi yang besar di Batam, Kepulauan Riau ini. 

" Saya kan cuma agen, saya dituduh memalsukan dokumen, sedangkan kita sebagai agen waktu mendatangkan kapal itu jelas secara resmi melaporkan ke instansi terkait seperti ke Syahbandar, Bea Cukai dan Imigrasi, " terangnya. 
Sekarang yang dituduhkan ke saya soal pemalsuan dokumen, terus kapalnya mana? kenapa ketika saya 2 minggu di dalam tahanan di Polda, kapal itu kan sudah dipotong di Kabil?.. tambah Intan. 
Intan mengatakan, kapal Eagle Prestige itu telah dipotong (scraph) di wilayah Kabil, tanpa sepengetahuan dia sebagai agen. 
" Kenapa kapal itu dipotong tanpa sepengetahuan saya sebagai agen?, padahal saya membayar ke negara selama bertahun-tahun loh, " tegasnya.
Intan mengaku membawa dokumen waktu kapal Eagle Prestige dibawa dari Singapura.
" Waktu kapal itu datang, otomatis saya kan pasti bawa dokumen dari Singapura. Tidak mungkin kapal sampai 4 tahun baru diproses dan dibilang dokumen palsu,” ujarnya.
Saat ditanya soal oknum - oknum yang terlibat,  ia mengaku sudah membayar resmi tapi tidak sampai ke negara. 
" Saya kan sudah membayar secara resmi tapi tidak sampai ke negara, otomatis saya kembali bayar ulang,” bebernya.
Intan juga mempertanyakan kenapa pihak-pihak yang mencuri kapal tidak diproses hukum.
" Kenapa harus ke saya?, sedangkan kapalnya dipotong, kenapa yang mencuri kapal tidak diadili?, kenapa orang yang menadah besi itu tidak diadili. Pasti ada oknum-oknum pejabat yang menggeser kapal itu dari Janda Berhias ke Kabil. Kenapa kapal itu bisa bergeser ketika saya 2 minggu ditahan di Polda,” imbuhnya.
Kepala Kejaksaan Negeri Batam, Dedie Tri Hariyadi mengatakan, bahwa keterangan dari terpidana Intan merupakan langkah awal, bagi Kejaksaan untuk melakukan pendalaman.
" Keterangan ibu Hamidah sangat membantu kami, ini langkah awal kami untuk mendalaminya terus. Seandainya yang disampaikan faktanya benar, kita akan yang bersangkutan jadi Justice Collaborator,” kata Dedie.
Menurut Dedie, terpidana Intan juga akan diajukan ke Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) jika tim penyelidik menyimpulkan fakta yang disampaikan benar.
" Di dalam perkara hukum, kami tidak ada tebang pilih, tidak ada pandang bulu. Dalam penegakan hukum, siapa pun yang bersalah kita dudukan posisinya bersalah, " terangnya. 
Dedie menegaskan bahwa pihaknya akan mendalami keterangan dari terpidana Intan.
" Kita akan dalami. Kita tunggu tanggal mainnya,” pungkasnya.

(Dil). 

Kajari Batam Ungkap Penangkapan Buron Pemalsu Surat Kapal MV Engedi Eks Eagle Prestige






Batam, BR - Akhirnya Hamidah Asmara Intani Merialsa alias Intan buronan Kejaksaan Negeri (Kejari) Batam, yang kabur dan masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) setelah satu malam ditangkap dan diamankan dirumahnya, tepatnya di Batamia Art, Komplek Rajapolah Permai No 15, Kabupaten Tasikmalaya, Jabar, langsung di terbangkan ke Batam dengan menggunakan maskapai Lion Air, yang berangkat dari Bandung - Jakarta, sekira pukul 12.00 WIB dan tiba di Batam sekitar pukul 14.00 WIB siang di bandara Hang nadim.

Setelah tiba, sang DPO tersebut (Intan) langsung dibawa ke Kantor Kejaksaan Negeri Batam, untuk diproses lanjutan penahanannya, oleh pihak penyidik kejaksaan pidana umum.

Hamidah Asmara Intani Merialsa alias Intan, merupakan DPO dalam kasus pemalsuan dokumen Kapal MV Engedi eks Eagle Prestige. Saat dilakukan penangkapan terhadap Intan, tidak adanya perlawanan dan terpidana tersebut sangat kooperatif.


Dedie Tri Haryadi, selaku Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Batam, mengatakan penangkapan Intan (DPO) ini, berdasarkan putusan Pengadilan Tinggi, Pekanbaru No. 139/Pid.B/2014/PT.PBR tanggal 26 Februari 2015 dalam perkara pemalsuan surat sebagaimana pasal 263 ayat (2) KUHP Jo. Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP dengan pidana penjara selama 2 tahun 6 bulan.

Dijelaskan oleh Dedie, pihaknya telah melakukan upaya pemanggilan secara patut dan layak dengan melayangkan surat pemanggilan sebanyak 3 kali terhadap Intan, yang beralamat di daerah Jodoh, seperti yang tercantum dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) berkas perkara yang ada.

" Setelah kami layangkan surat pemanggilan ke alamatnya rumahnya itu, ternyata dia (Intan) sudah pindah, dan kita telusuri melalui ketua RT, malah RT tersebut tidak mengetahui telah pindah kemana, " kata Dedie, dalam gelaran konfrensi pers dengan awak media, di Kantor Kejari Batam. Kamis (6/12) sekira pukul 14.30 WIB siang.

Lanjut Kajari lagi, setelah dilakukan Kroscek oleh pihaknya ke Disdukcapil, ternyata nama Hamidah Asmara Intani Merialsa alias Intan ini, masih terdaftar dan kemudian dilakukan penelusura melalui NIK dan Kartu Keluarganya.

Setelah diamankan dirumahnya, Intan langsung dibawa ke Kejaksaan Negeri Bandung, dan dilakukan pemeriksaan terhadap dirinya oleh tim Kejari Batam dan tim Intelijen Kejaksaan Agung.

" Saat diperiksa, Intan ini mengungkap suatu kasus yang besar, dalam kapasitasnya sebagai Direktur Utama PT. DMI, dan terpidana mengetahui adan suatu perbuatan yang terindikasi tindak pidana korupsi yang menyebabkan adanya kerugian negara, " pungkas Dedie.


(Dil)





Kejari Batam Tangkap Satu Lagi Buronan Yang Kabur dan Masuk Dalam DPO







Batam, BR - Kejaksaan Negeri (Kejari) Batam dan Tim Intelijen Kejaksaan Agung, kembali berhasil mengamankan satu orang yang masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) atas nama Hamidah Asmara Intani Merialsa alias Intan yang buron ke Tasikmalaya, Jawa Barat. 

Berdasarkan putusan Pengadilan Tinggi Pekanbaru No.319/Pid.B/2014/PT.PBR tanggal, 26 februari 2015 Hamidah Asmara Intani Merialsa alias Intan (DPO) ini, terjerat dalam perkara dengan sengaja  memakai surat yang dipalsukan, seolah -olah surat itu asli dan tidak palsukan, kalau pemakaian surat itu dapat mendatangkan kerugian, sebagaimana pasal 263 ayat (2) KUHP Jo. Pasal 55 ayat (1) ke- 1 KUHP dengan Pidana Penjara selama 2 Tahun dan 6 bulan.



Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Batam, Dedie Tri Hariyadi, SH.MH yang sempat dihubungi Batamreport.com, membenarkan atas penangkapan DPO bernama Hamidah Intani Asmara Intani Merialsa alias Intan itu, dimana DPO tersebut ditangkap di rumahnya yang beralamat di Batamia Art, Komplek Rajapolah Permai No 15, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.

" DPO itu kita amankan bersama tim Intelijen Kejagung sekitar pukul 20.00 wib, di rumahnya sendiri, " kata Dedie.



Dilanjutkan oleh Dedie, ikut dalam tim Kejari Batam, dalam upaya penangkapan buron yang sudah kabur sejak tahun 2015 lalu hingga saat ini, yakni Kasipidum pada Kejari Batam, Filpan FD Laila, serta jaksa lainnya.

" Di dalam penangkapan tersebut, dpo koorporatif dan tidak melakukan perlawanan apapun, " ujar Kajari Batam, Dedi Tri Haryadi.

Kemudian hal senada, juga dibenarkan oleh Kasi Intel Kejari Batam, Robi Siregar, bahwa Tim Kejari Batam dibawah pimpinan Kajari Batam, Dedie Tri Haryadi SH. MH bersama Tim Intelijen Kejagung, telah menangkap atau mengamankan satu orang DPO atas nama Hamidah Intani Merialsa alias Intan di rumahnya di daerah Tasikmalaya, Jabar.

" Rencananya jika tidak ada halangan, DPO itu akan dibawa ke Batam besok (Kamis) dari Bandung, sekira pukul 11.00 WIB pagi, " pungkas Robi.



(Dil). 

Dirikan Lembaga Pendidikan Bidang Jurnalist Online, IWO Kepri dan ASPIKOM Teken MoU







Batam, BR - Ikatan Wartawan Online (IWO) Provinsi Kepri bersama Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi (ASPIKOM) Korwil Kepri, melakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) tentang pendirian lembaga pendidikan dan pelatihan jurnalistik online.

Penandatangan MoU digelar di sela rangkaian acara Konferensi Nasional Komunikasi 2018 bertema " Komunikasi dan Pendidikan Politik Menuju Demokrasi yang Berkualitas " di lantai 3 Planet Holiday Hotel, Batam, Selasa (4/12) siang.

Ketua ASPIKOM Korwil Kepri, Ageng Rara Cindosari mengatakan bahwa kerjasam dengan IWO Kepri ini merupakan suatu komitmen bersama untuk memajukan pendidikan komunikasi khususnya junalistik online.


Menurutnya, saat ini teknologi informasi telah berkembang pesat dengan munculnya netizen jurnalisme yang memiliki dampak positif dan negatif.

" Kita memiliki inisiatif memberikan pendidikan yang memadai untuk masyarakat Kepri dan sekitarnya agar nanti bisa menghasilkan jurnalis-jurnalis yang profesional dan independen," ujarnya.

Ditempat yang sama, Ketua IWO Kepri, Rudiarjo Pangaribuan berharap melalui MoU dengan ASPIKOM, IWO Kepri bisa mendirikan sebuah lembaga pendidikan dan pelatihan Jurnalistik Online.

" Terima kasih kepada ASPIKOM yang bersedia untuk kerjasama dalam pendirian lembaga pendidikan Jurnalistik Online," ucap Rudi.

Dijelaskan bahwa nantinya Lembaga pendidikan dan pelatihan jurnalistik online akan didirikan oleh IWO Kepri, sedangkan ASPIKOM Korwil Kepri melakukan perumusan kurikulum serta penyediaan tenaga pendidik dan pelatih.

Adapun kegiatan ini ditujukan untuk menumbuhkan dan meningkatkan kesadaran serta minat maupun masyarakat di provinsi kepri di dunia jurnalistik online.


(Rilis IWO Kepri). 
 

Catwidget2

ads2