HEADLINE

Wie Meng : Saya Terima Uang Rp. 27,5 M dari Penjualan Saham, Namun Sebagian Uang Itu Saya Kembalikan Ke Conti Chandra






Batam, BR - Pengadilan Negeri (PN) Batam gelar sidang komprontir antara terdakwa Tjipta Fudjiarta dengan para saksi pemegang saham lama (Conti Chandra Cs) dan dua orang notaris beserta staffnya, dalam sidang dugaan tindak pidana penipuan dan penggelapan serta pemalsuan surat di PT Bangun Megah BMS. Senin (16/7) siang.

Sidang yang mengagendakan mengkonfrontir semua keterangan saksi-saksi ini, sebelumnya sudah disampaikan oleh Ketua Majelis Hakim PN Batam, Tumpal Sagala SH bersama dua hakim anggotanya Taufik dan Yona Lamerossa Ketaren pada sidang dua minggu yang lalu.

Di dalam ruang sidang utama PN Batam itu, ketua majelis hakim Tumpal Sagala SH langsung membuka sidang, dengan melontarkan pertanyaan seputaran pembuatan akta RUPS no 2,3,4 dan 5, dimana menurut pengakuan notaris Anly Cenggana, bahwa terdakwa Tjipta Fudjiarta juga hadir pada pembuatan akta tersebut, bersamaan dengan para pemegang saham lainnya, Wie Meng, Hasan dan Sutriswi, namun ketiga saksi pemegang saham itu mengatakan bahwa terdakwa tidak hadir dalam rapat tersebut.

Tumpal juga menanyakan kepada Anly Cenggana, apakah akta itu ada dibacakan atau hanya di tanda tangani saja, yang mana menurut saksi notaris berperawakan tinggi itu, bahwa akta tersebut dibacakan tetapi menurut para saksi pemegang saham itu, mereka hanya diminta oleh Conti Chandra untuk menandatangani saja akta jual beli saham, kepada terdakwa Tjipta Fudjiarta tanpa dibacakan lagi.

" Conti bilang, kami tanda tangani saja akta itu, ya sudah kami tanda tangan terus langsung pulang, tanpa membaca lagi akta tersebut, " kata Wie Meng, salah satu saksi pemegang saham lama.

Mengenai salinan akta itu, menurut saksi Anly Cenggana, telah ia serahkan ke Conti berdasarkan permintaan Conti Chandra itu sendiri, dimana ia masih direksi PT. BMS, namun menurut Conti Chandra bahwa akta yang diserahkan oleh notaris itu ke dirinya, agar tetap bisa dipegang dan tetap dia yang punya.

Kepada majelis hakim, Conti Chandra juga mengaku, bahwa ia sempat menelpon terdakwa Tjipta Fudjiarta dan menanyakan posisinya dimana, juga dengan Anly Cenggana, namun hal tersebut dibantah oleh para saksi pemegang saham lama Wie Meng, Hasan dan Sutriswi.

" Tidak ada pembicaran lewat telepon antara terdakwa dengan Conti maupun notaris Anly Cenggana itu, " kata para saksi kompak.

Sedangkan Conti Chandra dalam pengakuannya di hadapan hakim, yang mengatakan bahwa akta tidak pernah dibacakan dihadapannya, langsung dibantah oleh notaris Anly Cenggana, bahwa waktu itu semua pemegang saham hadir, termasuk terdakwa dan akta itu dibacakan sebelum ditandatangani.

Conti juga mengatakan, mengenai pembuatan akta No. 28 dan 29 tentang perubahan direksi di Notaris Syaifuddin, ia tidak menandatangani akta tersebut, dirinya mengaku hanya datang di depan kantor notaris itu, dan tidak masuk ke dalam kantor tersebut.

Dan Conti juga mengaku ditelepon oleh notaris Syaifuddin diajak untuk ngopi.

" Dia telepon saya ajak ngopi, tapi saya datang dengan hanya berdiri saja di depan kantornya, tidak masuk. Dan saya bilang ke notaris agar jangan dibuat akta itu, " kata Conti.

Namun keterangan Conti berbeda dengan apa yang disampaikan Syaifuddin dihadapan majelis hakim. Karena menurut Syaifuddin itu, Conti lah yang menelpon dirinya dan mengundang dalam rapat tersebut.

" Saya di telepon Conti dan menerima surat undangan rapat yang di tandatanganinya sendiri. Saat itu Conti dan terdakwa Tjipta keduanya hadir dihadapan, pas di kantor saya dan masih saya ingat sekali mereka berdua berbicara dengan menggunakan bahasa China, dan selanjutnya seperti ap yang saya tuang dalam isi akta itu. Dan waktu akan menandatangani akta itu, Conti langsung pergi meninggalkan rapat tanpa ikut menanda tangani akta tersebut, " ungkap Syaifuddin.

Lanjutnya lagi, soal pelaksanaan RUPS tanggal 15 yang saat itu tak jadi dirapatkan, justru saya yang ditelepon dan diberitahu Conti, bahwa tanggal 15 Mei 2013 tak jadi rapat, dengan alasan terdakwa Tjipta Fudjiarta tak ada di Batam saat itu.

Dan rapat diundur tanggal 16 Mei 2013 keesokan harinya, dimana Conti hadir bersama staff nya Fahrudin .

" Saya sempat ngobrol lama dengan Conti waktu itu yang datang dengan staffnya, saya ingat betul, staffnya hanya pakai kaos oblong dan jarang pakai sepatu, selang tak lama kemudian terdakwa pun datang," terang Syaifuddin.

Hal yang sama dilakukan oleh Wie Meng, dimana ia membantah keterangan Conti, yang mengaku bahwa uang Rp 27,5 miliar itu diserahkan semuanya ke Wie Meng.

Dalam bantahannya itu, Wie Meng mengatakan bahwa uang 27,5 M yang telah diterimanya itu, dibayarkan ke masing - masing pemegang saham lama semuanya sebesar Rp. 6,5 M, sisanya yang  Rp. 21 M dikembalikan kepada Conti. Sedangkan Conti mengaku uang itu tak ada dikembalikan Wie Meng.

Sementara itu, Jaksa Penuntut Umum (JPU)  Syamsul Sitinjak, yang bertanya ke saksi notaris Syaifuddin, pada pembuatan akta jual beli No. 11, 12, dan akta pergantian Direksi No. 28, dan 29 apakah Conti ikut hadir, Syaifuddin pun menjawab kalau ke semuanya hadir, dan menggelar rapat di kantornya. Termasuk yang hadir saat itu terdakwa Tjipta Fudjiarta.

" Pak Conti sering berkonsultasi dengan saya, sebelum pembuatan akta itu dan juga  sering telepon saya, intinya rapat itu ada dan Conti bersama terdakwa keduanya hadir dan duduk dihadapan saya," terang Syaifuddin.

Sedangkan Hendie Devitra didampingi Sabri Hamri selaku Penasihat Hukum terdakwa, mencoba bertanya ke saksi Conti seperti apa cerita, terkait transfer uang dari terdakwa, dimana Conti mengatakan setiap dirinya memerlukan dana untuk pembayaran saham, maka conti menelepon untuk mengirimkan dananya.

" Dan menurut saksi Wie Meng, ia membenarkan tentang ada dibuatnya jadwal pembayaran dan telah ditandatangani Akta No. 1 tgl 1 Agustus 2010, perubahan jadwal dari akta no. 89, " terang Hendie.

Dilanjutkan Hendie, sementara pada pembuatan akta 01, saksi Wie Meng mengaku hadir di notaris, begitu juga saksi lainnya Andreas Sie, dan Hasan juga.

Hendie juga menanyakan, apa alasan saksi Wie Meng menggugat Conti terkait pembatalan surat pernyataannya, saksi Wie Meng mengaku lupa, dan Hendie pun sempat membacakan gugatan yang diajukan saksi Wie Meng itu.

" Dan kenyataannya uang pembayaran saham dibayar oleh terdakwa bukan oleh Conti, lantas Wie Meng menggugat pembatalan surat pernyataan penerimaan uang yang pernah dibuat oleh conti.

" Saya lupa karena saya dilaporkan conti ke mabes Polri, makanya saya gugat dia, " kata Wie Meng.

Kemudian Hendie Devitra juga bertanya ke saksi Conti Chandra, apa alasannya akta 89 dibatalkan dan diganti dengan menerbitkan akta 99, yang mana dari keterangan Conti karena perintah terdakwa.

Selanjutnya Hendie juga menanyakan kepada Andreas Sie, apa alasannya juga  menggugat Conti dan menuntut pembatalan akta No. 89 itu.

Saksi Andreas Sie dihadapan hakim,  mengakui pernah menggugat saksi Conti. Dan gugatan tersebut dikarenakan dirinya saat itu, tak setuju adanya akta 89 dan harus dibatalkan, meskipun membenarkan hal itu, Andreas Sie mengaku tidak ingat lagi.

" Saya sudah berdamai sama Conti dan sudah selesai", kata Andreas Sie.

Sedangkan Saksi Wie Meng juga mengakui, pada rapat tanggal 30 November tentang pembatalan akta 89, hadir Saksi Wie Meng, Hasan, dan Conti . Semuanya hadir untuk membatalkan akta 89.

Setelah mendengarkan semua keterangan dari para saksi - saksi yang dikonfontir itu, ketua majelis hakim, Tumpal Sagala SH menutup sidang, dan akan dilanjutkan lagi pada 25 July keterangan, dengan agenda mendengarkan keterangan saksi - sakit lainnya.


(Red/Afinast).



Peringati HBA ke 58, Kejari Batam Musnahkan Barang Bukti Narkoba Yang Berkekuatan Hukum Tetap




Batam, BR - Kejaksaan Negeri (Kejari) gelar pemusnahan ribuan barang bukti narkotika, obat - obatan dan kosmetik tanpa izin edar. Selasa (10/7) pagi. 
Acara yang digelar dihalaman kantor Kejari Batam itu, dihadiri oleh Kapolda Kepri, Ka BNNP Kepri dan Batam, Kapolresta Barelang,  Danlanal, Dandim, Imigrasi, Kapolsek Batam Kota, Kapolsek Nongsa dan instansi terkait. 
Gelaran pemusnahan barang bukti yang sudah berkekuatan hukum tetap itu, juga bersempenaan pada gelaran Hari Bhakti Adhyaksa ke 58 tahun. 

Adapun barang bukti yang, berupa shabu-shabu 5.248,34 gram, Serbuk warna biru 33,4 gram, Heroin 0,06 gram, Ekstasy 4.728 butir dan 4,4 gram, Erimin 5 1.330 butir, Pcc 424 butir, Ganja 8.017 gram, Obat dan kosmetik tanpa izin edar 4.371 kotak, pcs, botol, Handphone 150 unit dan Timbangan 51 unit.
Dalam hal ini, Kepala Seksi Pidana Umum (Kasipidum) Kejari Batam, Filpan Fajar D Laia, SH menyampaikan, pemusnahan barang bukti ini merupakan kegiatan rutin Kejari Batam, dan juga dalam rangka peringatan HBA ke 58, dimana kegiatan sebelumnya yang kita lakukan adalah perlombaan karya tulis, perlombaan futsal, dan hari rabu (11/7/2018) kegiatan donor darah.

“ Kalau untuk pemusnahan barang bujti itu, adalah kegiatan rutin yang selalu kita lakukan, dimana seluruh barang bukti yang sudah berkekuatan hukum tetap (incraht) itu harus dimusnahkan, agar tidak bisa diperginakan lagi, dan selain itu kita menggelar kegiatan lomba karya tulis, fotografi, Futsal dimana sudah ada pemenangnya dalam turnamen Futsal iti sendiri, dan juga kegiatan donor darah, " kata Filpan. 
Sedangkan barang bukti yang dimusnahkan itu, hasil tangkapan dari BNNP, BPOM, Polda Kepri, Lanal Batam yang selesai per perkara nya Pengad Negeri (PN) Batam dan dinyatakan sah mempunyai kekuatan hukum yang tetap, lanjut Filpan. 

" Barang buktinya hasil tangkapan BNNP, BPOM, Polda dan Lanal Batam, " ungkap Filpan singkat. 

Namun ada yang berbeda dalam pemusnahan barang bukti yang digelar Kejari Batam kali ini, dimana Kapolda Kepri yang didampingi Kajari Batam, ikut  melakukan pemusnahan ribuan botol obat - obatan dan HP dengan cara menaiki kendaraan penggilas barang bukti tersebut. 

(Red/Afinast). 

Berliana : Sejak Saya Mulai Bekerja di Tahun 2011, Tjipta Fudjiarta sudah Jadi Komisaris PT. BMS







Batam, BR - Kembali Jaksa Penuntut (Kejari) Batam hadirkan saksi - saksi dalam sidang perkara sengketa dugaan tindak pidana penipuan dan penggelapan, serta pemalsuan surat di PT Bangun Megah Semesta (BMS) dengan terdakwa Tjipta Fudjiarta, yang digelar ruang utama Pengadilan Negeri  Batam. Senin (9/).

Adapun empat orang saksi yang dihadirkan oleh JPU, dimana saksi - saksi itu di luar notaris dan pemegang saham, yakni Berliana yang pernah bekerja sebagai asisten HRD di PT BMS, Desi sebagai kasir di hotel BCC, dan Erlida Siburian yang bekerja di kantor notaris Anly Cenggana, serta Suwarno atau Ahuat.

Dalam sidang yang masih dipimpin oleh Tumpal Sagala, dengan beranggotakan Taufik dan Yona Lamerosa Ketaren itu, saksi Berliana yang diminta duluan untuk memberikan keterangan di hadapan majelis hakim, mengaku mulai bekerja di PT BMS, sejak Desember 2011 hingga Desember 2014.

" Tugas saya mengurus semua perizinan yang berhubungan dengan operasional hotel, juga mengurus perizinan tenaga kerja asing. Kalau saya lihat di akta perusahaan, semenjak saya bekerja, terdakwa memang posisinya sudah menjadi komisaris waktu itu," kata Berliana.

Ia juga melanjutkan, posisi Conti Chandra  saat itu juga sebagai Direktur pada PT. BMS.

" Setahu saya, selain Conti dan terdakwa waktu itu, juga ada yang lainnya, seperti Wie Meng, Hasan, Sutriswi dan Andreas Sie yang tertulis di akta sebelumnya. Selama saya bekerja di sana, kalau tak salah ada dua kali perubahan struktur organisasi perusahaan, sekitar tahun 2013 saat itu komisarisnya tetap terdakwa," ujar saksi.

Dan Direktur Utama PT BMS pada saat itu  adalah Winston. Dengan direkturnya Conti Chandra

Berliana juga mengatakan, ada perubahan lagi beberapa bulan kemudian, dimana posisi komisarisnya tetap terdakwa, dengan Winston yang tetap sebagai Direktur Utamanya, sedangkan Conti Chandra yang semulanya sebagai direktur di PT. BMS itu diganti dengan Jauhari.

Saat ditanya, apakah sebelumnya ada komisaris lainnya, selain terdakwa Tjipta Fudjiarta, Berliana mengaku tidak tahu. Dan kenapa ada pergantian direktur dari Conti ke Jauhari, saksi juga mengaku tidak tahu pastinya.

" Saya tahunya ada masalah saham gitu aja sih. Apa masalah sebenarnya, saya juga tidak tahu. Awal-awal dulu gaji saya dibayarkan tunai. Sejak tahun 2014, gaji via bank," terangnya.

Setahu saksi Berliana, sejak tahun 2011 di bulan Oktober, Hotel BCC baru beroperasi. Dulu waktu awal operasional, yang banyak mengurusinya adalah Conti Candra, setelah masuknya Winston, Conti sudah jarang ke hotel dan tidak pernah lagi.

" Saya waktu itu harus mengurus surat-surat, harus ada surat kuasa dari perusahaan. Karena Conti nggak ada, ya saya minta tanda tangan ke terdakwa selaku komisaris. Waktu itu belum ada perubahan, masih ada terdakwa selaku komisaris dan Conti selaku direkturnya. Saya kan juga harus memperpanjang surat izin Winston selaku WNA, karena disamping sudah habis suratnya, saya minta surat kuasa ke Conti untuk memperpanjang izin Winston dalam bekerja. Tapi Conti waktu itu tidak mau tanda tangan. Alasannya pokoknya tak mau tanda tangan saja," kata Berliana dihadapan majelis hakim.

Pada waktu itu, Conti tak mau menandatangani surat perpanjangan Winston, saksi terpaksa minta tanda tangan ke terdakwa sebagai komisaris, dan langsung mau menandatangani surat perpanjangan untuk Winston, lanjut Berliana.

" Saat saya keluar kerja dari PT BMS, direkturnya di waktu tahun 2013 itu adalah Jauhari. Pada tahun itu juga, Conti membuat surat pengunduran dirinya dan menyerahkannya lewat istrinya ke terdakwa. Kalau ada permasalahan di PT BMS itu, yang katanya penipuan dan penggelapan, yang melapornya adalah Conti dan yang dilaporkan adalah terdakwa. Itu saja yang saya tahu," ujar saksi Berliana.

Sementara saksi kedua yakni Desi, lebih banyak tidak tahunya saat ditanya majelis hakim, jaksa serta penasihat hukum terdakwa, mengenai kasus penipuan dan penggelapan antara terdakwa dengan Conti.


Sedang saksi ketiga, Erlida Sibur staff notaris Anly Cenggana yang disuruh bersaksi saat pembuatan akta di PT.BMS.

Erlida dalam keterangannya mengaku, saat pembuatan akta di notaris Anly Cenggana, semua pemegang saham hadir, termasuk terdakwa Tjipta Fudjiarta dan Conti Candra.


Semuanya saat itu saya saksikan sendiri dan sebagai saksi, ikut menandatangani akta jual beli saham itu. Namun soal ada tidaknya transaksi pembayaran saat itu, saya tidak tahu," terang saksi Erlida.

Pada saat pemegang saham dan terdakwea datang, lanjutnya, konsep akta sudah ada dibuat notaris dan kemudian dibacakan di hadapan pemegang saham yang semuanya waktu itu hadir.

" Jual beli saat itu sudah terlaksana, pada saat pembuatan akta yang juga dibacakan di hadapan semua pemegang saham,  yang hadir termasuk terdakwa," terang Erlin lagi.

Sedangkan saksi ke empat adalah Suwarno alias Ahuat yang sempat ditanya hakim,
apakah dirinya tetap bersaksi ataupun boleh mengundurkan diri sebagai saksi, mengingat yang bersangkutan bekerja langsung dan menerima gaji dari terdakwa. Namun Ahuat mengaku tetap mau bersaksi.

" Tahun 2011 bulan Juli, saya menjemput Conti dan istrinya di Bandara saat keduanya ke Medan. Saya disuruh terdakwa menjemput mereka dan langsung mengantarkan ke rumah terdakwa. Saya sekilas saja tahunya keduanya datang ke rumah terdakwa terkait jual beli saham saja," ujar saksi Ahuat.


Saksi juga menjabarkan, di Medan terdakwa Tjipta juga memiliki usaha yang dinamakan PT Cipta Karya Sartika yang kantornya juga dirumah terdakwa. Usaha terdakwa di Medan saat itu sebagai suplier atau penjualan alat Pertamina seperti pompa SPBU.

" Komisaris, dan direkturnya saat itu dirangkap langsung oleh terdakwa. Terdakwa juga punya beberapa truk tangki di Medan yang diberi label Petrolindo," terang saksi Ahuat di hadapan majelis hakim persidangan.

Ahuat mengaku, saat itu Conti pernah ngomong ke dirinya kalau ada urusan mau jual saham ke terdakwa.

" Saya ke Batam ini juga diberi surat kuasa oleh Conti, untuk mengawasi barang-barang dari suplier seperti gipsum dan kabel untuk proyek pembangunan kamar-kamar Hotel BCC. Saat itu apartemen nomor 2 sampai 5 memang sudah siap. Kalau yang lainnya belum siap. Lantai 6 sampai 11 belum siap saat saya datang ke Batam. Hotel BCC sendiri saat itu juga belum siap. Suplier barang saat itu adalah Wie Meng," pungkas Ahuat.



(Red/Afinast).

Hasan Cs Tidak Hadir Dalam Sidang, Malah Conti Chandra Datang Pakai Mobil Pribadinya






Batam, BR  -  Hakim Pengadilan Negeri (PN) Batam, tunda sidang terdakwa Tjipta Fudjiarta dengan alasan saksi dari para pemegang saham (lama) PT. Bangun Megah Semesta tidak lengkap. Sedangkan yang hadir di dalam ruang sidang hanya Conti Chandra (pemegang saham) dan dua saksi notaris, Angly Cenggana dan Syaifuddin.

Seyogyanya, sidang sengketa dugaan tindak pidana penipuan dan penggelapan serta pemalsuan surat di PT Bangun Megah Semesta (BMS) ini, akan kembali digelar di Pengadilan Negeri Batam, dengan agenda mengkonfrontir keterangan saksi-saksi  dari pemegang saham, maupun dari notaris yang sudah disampaikan di persidangan Minggu lalu (25/6) dimana ketua majelis hakim PN Batam, diketuai oleh Tumpal Sagala SH, yang didampingi dua hakim anggota, Taufik Abdul Halim SH, dan Yona Lamerossa Ketaren SH, meminta Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Batam, untuk kembali menghadirkan saksi - saksi untuk dikonfrontirkan keterangan mereka semuanya yang telah menjadi saksi dalam perkara dalam perkara tersebut.

Namun beberapa saksi pemegang saham, seperti Wimeng, Hasan, Sutriswi maupun Andreas Se berhalangan hadir dalam persidangan itu. Bahkan saksi Hasan telah  melayangkan surat ke JPU, dimana isi surat itu menyatakan bahwa dirinya (Hasan), Wimeng dan Sutriswi bisa hadir dalam persidangan pada tanggal 16 Juli 2018 mendatang.

" Kita tunda sidangnya, karena saksi - saksi tidak hadir. Saksi Hasan sudah lampirkan surat ke Jaksa, dan bisa hadir pada sidang  berikutnya bersama saksi lainnya, " kata Tumpal. Senin (2/7).

Sedangkan surat panggilan saksi yang ditandatangani saksi Hasan tentang ketidakhadirannya sendiri, bernomor B - 329/Epp.2/Batam/06/2018 tertanggal 26 Juni 2018.

" Sidang dilanjutkan pada Senin depan tanggal 9 Juli 2018 untuk pemeriksaan saksi yang lain dulu. Sedangkan untuk agenda sidang konfrontir hari ini, ditunda dan diagendakan kembali senin tanggal 16/7 sesuai surat pemberitahuan saksi Hasan, " pungkas Tumpal sambil mengetuk palu tanda sidang ditutup.

Sementara itu, Hendie Devitra SH, yang didampingi oleh Sabri Hamri SH, selaku kuasa hukum terdakwa Tjipta Fudjiarta menegaskan, saksi yang akan dikonfrontir di depan persidangan adalah saksi notaris, saksi pemegang saham dan Conti Chandra sendiri.

" Kami berharap empat saksi pemegang saham yang tak hadir melalui surat pemberitahuannya, pada dua minggu mendatang tepatnya hari Senin (16/7), agar mereka tak lagi mengulur-ulur waktu, dan bersedia hadir semua di persidangan. Surat pemberitahuan tersebut ditandatangani saksi pemegang saham, Hasan yang juga mewakili saksi pemegang saham lainnya," terang Hendie.

Namun ada yang sedikit berbeda, saat Conti Chandra tiba dan akan pulang usai mengikuti sidang terdakwa Tjipta Fudjiarta yang ditunda tersebut, dimana Conti Chandra yang seorang terpidana, juga merupakan saksi dalam persidangan tersebut, datang ke PN Batam dengan menggunakan kendaraan pribadi (mobil) nya, Innova warna hitam.

Saat dikonfirmasi terkait kedatangan Conti Chandra ke PN Batam dengan menggunakan mobil pribadinya itu, salah satu humas yang ada d PN Batam, M. Chandra mengatakan bahwa hal tersebut, bukanlah kewenangan dari pihak hakim ataupun jaksa, tapi dari Lapas.

" Ini kan statusnya terpidana. Wewenang sepenuhnya berada di instansi Lapas," tegasnya.


(Red/Afinast).

Kejari Gelar Lomba Karya Jurnalistik Untuk Media Cetak Online Yang Ada di Batam







Batam, BRKejaksaan Negeri (Kejari) Batam gelar lomba karya jurnalistik, dalam rangka peringatan Hari Bakti Adhyaksa ke 58 tahun ini. Kamis (28/6). 

Lomba karya jurnalistik ini, untuk seluruh wartawan media cetak dan online yang ada di Batam. Lomba ini digelar dengan dua kategori yakni kategori karya tulis dan fotografi. Setiap peserta lomba dapat mengirimkan materi berupa karya tulis dan foto yang berkaitan dengan Kejari Batam dan pernah diterbitkan di media tempat bekerja selama kurun waktu 1 Juli 2017 hingga 10 Juli 2018.

Lomba yang ditujukan kepada awak media ini, bertujuan untuk meningkatkan kerjasama antara Kejari Batam dengan para wartawan.

" Ini sebagai bentuk apresiasi kami kepada awak media, yang telah banyak membantu kinerja Kejaksaan Negeri Batam. Selain itu, dengan adanya lomba ini diharapkan kerjasama antara Kejaksaan Negeri Batam dengan para media bisa lebih baik lagi," kata Kepala Kejari Batam Roch Adi Wibowo, SH melalui Kepala Seksi Pidana Umum Kejari Batam Filpan F. D Laia. SH.

Filpan melanjutkan, setiap peserta dapat mengirimkan karyanya lebih dari satu, dalam bentuk hard copy berupa kliping koran untuk media cetak, dan print out tulisan yang diterbitkan di media online. Selain itu, materi lomba juga dikirimkan ke email Kejari Batam melalui pidum.kejaribatam@yahoo.co.id paling lambat 10 Juli 2018.

" Karya tulis dan foto tersebut, harus berkaitan dengan kinerja Kejari Batam seperti program e-tilang, penanganan perkara, program Jaksa Masuk Sekolah, program TP4D dan lainnya, " ujarnya.

Dan semua yang berkaitan dengan kinerja, kebijakan dan inovasi serta prestasi yang dibuat oleh Kejari Batam dapat dijadikan materi perlombaan, sambung Filpan lagi.

" Para pemenang karya jurnalistik ini, nantinya, akan diumumkan pada acara Puncak peringatan Hari Bakti Adhyaksa pada 22 Juli mendatang di Kantor Kejari Batam, " pungkas Filpan yang dikenal ramah pada setiap insan pers tersebut.

Dalam lomba karya jurnalistik yang diadakan oleh Kejari Batam Batam, dalam rangka peringatan Hari Bakti Adhyaksa ke 58 tersebut, para pemenangnya akan menerima hadiah berupa uang tunai Rp. 3 juta untuk juara I, Rp. 2 juta untuk juara II, Rp 1 juta untuk juara III dan Rp. 500 ribu untuk juara harapan. Hadiah tersebut akan diberikan untuk masing - masing kategori lomba.



(Red/Afinast).

TIM WASEV STERAD TINJAU LANGSUNG LATIHAN POSKO I KODIM 0316/BATAM






Batam, BR - Untuk mengawasi dan mengukur program latihan posko yang telah dialokasikan, Tim Pengawas dan Evaluasi (Wasev) Sterad melaksanakan peninjauan langsung pelaksanaan Latihan Posko I Kodim 0316/, Kamis (28/6).

Kedatangan Tim Wasev Sterad yang terdiri dari Kolonel Kav Prince Meyer Putong, SH dan Letkol Arm Stefie Jantje Nuhujanan, disambut langsung oleh Kasrem 033/WP, Kolonel Inf Jimmy Watuseke sebagai Wadanlat dan Dandim 0316/Batam.


Disela-sela peninjauan yang dilaksanakan di Gedung Serba Guna Kodim 0316/Batam, sebagai tempat Komando Latihan - Latihan Posko I Kodim 0316/Batam, Kolonel Kav Prince Meyer Putong yang menjabat sebagai Paban II/Puanter Sterad ini, mengungkapkan bahwa komando kewilayahan (Satkowil) harus dapat mengatasi permasalah diwilayahnya, yang sangat kompleks akibat dari perkembangan pesat ilmu pengetahuan, teknologi dan komunikasi.

" Kodim 0316/Batam sebagai Satkowil harus mampu mengatasi tantangan atau permasalahan wilayah yang sangat kompleks, salah satu upaya yang dilakukan agar Kodim mampu mengatasi permasalah itu adalah melalui kegiatan latihan posko ini ", ungkap Kolonel Kav Prince Meyer Putong.


Dengan latihan posko ini, diharapkan kemampuan prajurit Kodim 0316/Batam dapat terpelihara dan dapat ditingkatkan, sehingga dapat mendukung pelaksanaan tugas pokok satuan.

Selain kemampuan yang harus dipelihara dan ditingkatkan, Tim Wasev Sterad juga menekankan, pentingnya integrasi dan sinergi dengan pemerintah daerah setempat dan instansi daerah, serta komponen masyarakat lainnya dalam mengatasi permasalah yang terjadi diwilayahnya masing-masing.



(Red/Afinast/Kodim).

Syaifuddin : Saya Kenal Tjipta Fudjiarta Sebagai Pemegang Saham Mayoritas di PT. BMS







Batam, BR – Notaris Syaifuddin dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Batam sebagai saksi, dalam sidang terdakwa Tjipta Fudjiarta yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Batam. Senin (25/6). 

Notaris Syaifuddin dihadirkan sebagai saksi fakta, dalam persidangan perkara dugaan tindak pidana penipuan atau penggelapan dan pemalsuan surat di PT.Bangun Megah Semesta (BMS) selaku pengelola Hotel BCC.

Dihadapan Majelis Hakim PN Batam, yang diketuai Tumpal Sagala dan dua hakim anggotanya Taufik serta Yona Lamerosa Ketaren ini, Notaris Syaifuddin dalam keterangannya mengaku kenal dengan terdakwa Tjipta Fudjiarta sejak tahun 2012 pada saat penandatanganan akta perjanjian kredit di Bank Ekonomi.

Saksi mengaku mengenal terdakwa Tjipta sebagai pemegang saham mayoritas di PT. BMS.

Didepan Hakim, JPU dan PH terdakwa serta pengunjung sidang lainnya, Saksi Syaifuddin mengatakan, atas permintaan Bank Ekonomi saksi diminta untuk melakukan verifikasi data PT. BMS dan membuat Akta Perjanjian Kredit, yaitu Akta No. 13, 14, dan 15 tanggal 10 Juli 2012 yang ditandatangani oleh Conti Chandra sebagai Dirut PT. BMS, dengan Bank Ekonomi yang disetujui oleh Tjipta Fudjiarta selaku pemegang saham mayoritas, dengan Akta No. 12 tanggal 10 Juli 2012, atas jaminan hutang berupa tanah dan bangunan gedung BCC Hotel.

Saksi mengaku telah melakukan penelitian company profil PT. BMS dan mereview seluruh dokumen perusahaan dengan komposisi pemegang saham Conti 30 % dan Tjipta 70 %.


Kata saksi saat penerbitan dan penandatanganan akta perjanjian kredit di Bank Ekonomi, seluruh pemegang saham yakni Conti Chandra dan Tjipta Fudjiarta hadir.

" Akta dibacakan di hadapan semua pemegang saham dan ditandatangani oleh semua pihak, " kata Syaifuddin.

Menurut Syaifuddin, dalam membuat perjanjian kredit, biasanya perwakilan dari perusahaan yang akan mengajukan kredit, menyerahkan foto kopi dokumen profil perusahaan.

" Tetapi pada saat itu ada kekurangan data berkas, saya minta terus ke PT BMS. Begitu lengkap, bank memberikan surat ke kami bahwa kami ditunjuk sebagai notaris untuk dilaksanakan akad kredit tersebut, "terang nya.

Saksi juga mengatakan, sebelum dilaksanakannya akad kredit antara PT BMS dengan pihak Bank, Bank terlebih dahulu mempertanyakan apakan dokumen sudah lengkap. Saat lengkap, barulah Bank melakukan akad kredit tersebut.

" Jadi bukan pihak direksi yang melengkapi dan memperlihatkan ke saya, tetapi pada saat sebelum akad kredit, Bank akan meminta seluruh dokumen, minta untuk memeriksa dan meneliti dokumen tersebut,” ujarnya.

Selain akta kredit Bank Ekonomi, Syaifuddin juga mengaku pernah didatangi Conti Chandra dan meminta dibuatkan Akta RPUS Tahunan dan Akta RUPSLB penjualan saham.

Akta-akta yg dibuat saksi yaitu Akta RUPS No. 11 tanggal 7 September 2012 penjualan saham Conti sebanyak 218 lembar saham kepada Tjipt, dilakukan di kantor saksi dihadiri dan ditandatangani oleh Conti dan Tjipta.

Sebelum penandatangan akta jual beli saham, saksi menjelaskan dan menanyakan kepada Conti mengenai pembayaran harga sahamnya, dan waktu itu Conti menyatakan sudah dibayar lunas.

Selanjutnya atas permintaan Conti, dibuat Akta RUPS Tahunan No. 28 tentang laporan keuangan perseroan tahun 2012, namun karena belum diaudit maka laporan Conti sebagai Dirut ditunda dan dilanjutkan dengan Akta RUPS perubahan Direksi No. 29 tanggal 16 Mei 2013.

" Yang meminta dilaksanakan RUPS adalah Conti, namun saat akte akan dibacakan, pak Conti sudah meninggalkan ruangan rapat,” terang Syaifuddin lagi.

Ia juga mengatakan bahwa permintaan untuk rapat baik RUPS Tahunan maupun RUPSLB, tentang penjualan saham dan perubahan Direksi adalah Conti Chandra, bukan atas permintaan terdakwa Tjipta Fudjiarta.

" Dihadapan saya, Conti menyatakan telah menerima pembayaran jual beli saham dari terdakwa Tjipta Fudjiarta. Pembuatan akta sendiri atas permintaan Conti, bukan terdakwa,” terang saksi.

Terkait terbitnya akta jual beli saham tersebut, menurut saksi dilakukan setelah akad kredit, yakni dari Conti Chandra kepada Terdakwa Tjipta Fudjiarta. Sebelum dilakukan jual beli, ada dilakukan rapat.

" Rapat dilakukan dikantor saya dan dihadiri oleh Conti Chandra dan terdakwa Tjipta Fudjiarta. Terjadi pengalihan saham dari Conti Chandra
ke Tjipta Fudjiarta pada waktu tanggal 7 September 2012 itu dihadiri oleh Conti Chandra dan Tjipta Fudjiarta,” ujar saksi.

Saksi mengatakan bahwa sebelum melakukan jual beli saham, antara Conti kepada Tjipta, beberapa kali Conti Chandra berkonsultasi dengannya.

" Mungkin lebih dari tiga kali berkonsultasi dengan saya Conti Chandra. Pertama Conti datang mengkonsultasikan rencana pengalihan saham dari dirinya ke Tjipta Fudjiarta. Di situ saya jelaskan bahwa dalam perjanjian kredit, sudah disebutkan apabila ada peralihan komposisi saham, agar meminta izin ke Bank Ekonomi selaku pemberi fasilitas kredit. Kalau sampai melanggar, akan terkena sanksi berupa penalti atau percepatan pelunasan kreditnya,” ujar saksi lagi.

Saksi mengatakan, bahwa pada saat Conti Chandra hadir lagi berkonsultasi menyampaikan rencana perubahan komposisi atau pengalihan, saksi menjelaskan masalah tidak mungkin berpedoman pada angka presentase. Karena sesuai undang-undang kredit, tidak mungkin dilakukan jual beli, terpotong atau setengah saja.

" Setelah itu mereka minta datang membuat rapat di kantor saya dan dilakukan jual beli saham,"  imbuh saksi.

Terkait akte No. 28 dan akte No. 29 tanggal 16 Mei 2013, saksi menjelaskan bahwa akte No. 28 memutuskan soal penundaan laporan keuangan PT. BMS dan Akte No. 29 soal perubahan susunan direksi PT.BMS.

" Akte 29 merupakan keputusan perubahan direksi dengan mengangkat Winston sebagai Direktur Utama, Conti Chandra sebagai Direktur dan Tjipta Fudjiarta sebagai Komisaris. Tidak ada perubahan kepemilikan saham,” terangnya.

Menuruts saksi, RUPS tanggal 16 Mei 2013 tersebut dihadiri oleh Conti Chandra dan Tjipta Fudjiarta, namun kedua akte tersebut tidak ditandatangani Conti Chandra.

" Dua-duanya tidak ditandangani (Conti Chandra), karena saat akte akan dibacakan, pak Conti sudah meninggalkan ruangan rapat,” jelasnya.

Syaifuddin juga mengatakan, sebelum Pak Conti meninggalkan ruangan rapat, para pihak sudah menyampaikan kesimpulan terkait perubahan susunan direksi PT. BMS.

" Ada kesimpulan disampaikan ke saya terkait perubahan (susunan direksi), pak Tjipta setuju dilakukan pengangkatan (Direktur Utama), pak Conti tidak setuju, itulah yang dituangkan dalam akte 29,” beber saksi.

Sedangkan Penasehat Hukum terdakwa Tjipta Fudjiarta, Hendie Devitra didampingi Sabri Hamri mengatakan, bahwa apa yang didakwakan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang menyatakan, terdakwa meminta agar Conti mengalihkan saham supaya terdakwa dapat memenuhi kualifikasi untuk mengajukan pinjaman Bank sebanyak 70 % saham tidak benar.

" Faktanya sejak pembelian saham-saham pemegang saham lama, Tjipta sudah pemegang saham mayoritas 70 % dan saat penjualan saham milik Conti baru dilakukan jual beli saham oleh Conti Chandra kepada Tjipta Fudjiarta dengan Akta No. 11 tanggal 7 September 2012 itu setelah akad kredit Bank Ekonomi tanggal 10 Juli 2012,” ujar Hendie usai persidangan.

Lanjut Hendie, demikian pula dakwaan yang mengatakan Conti di telepon oleh Notaris Syaifuddi, untuk RUPS di kantor Syaifuddin yang Conti sempat menolak itu tidak benar.

" Dari kesaksian Syaifuddin jelas justru Conti yang berkali-kali datang ke kantor Syaifuddin konsultasi dan meminta untuk dibuatkan Akta RUPS itu," ucapnya.

Menurut Hendie, sebelum akad kredit ditandatangani, memang posisi saham terdakwa Tjipta Fudjiarta di PT BMS itu sudah 70 persen. Itu seluruhnya dari pengalihan saham milik pemegang saham lama, dan terjadinya pengalihan saham milik Conti sebanyak 218 lembar yang berikutnya di Akta No. 11 itu tanggal 7 September 2012, setelah dilakukannya Akad Kredit Bank Ekonomi, tanggal 10 Juli 2012. Jadi kepemilikan saham PT BMS sampai saat ini hanya dua orang saja yakni Conti Chandra dan Tjipta Fudjiarta.

" Dia (Conti) meninggalkan rapat itu karena tidak terima masuknya Winston sebagai Dirut, padahal seperti kesaksian istrinya di sidang yang lalu, mengakui membuat surat pengunduran diri Conti dari jabatan direktur, padahal waktu itu dia satu-satunya direksi yang ada, dan perlu diketahui bahwa walaupun RUPS Tahunan pertanggung jawaban keuangan PT.BMS ditunda dan Conti sudah bukan Dirut, bukan berarti Conti dibebaskan oleh Pemegang saham untuk kewajiban laporan keuangannya itu ditegaskan dalam akta," pungkasnya.



(Red/Afinast).



 

Catwidget2

ads2